10 PRAKTISI PERIKANAN BELANDA BELAJAR PERIKANAN BUDIDAYA DI BANYUWANGI

0

Banyuwangi Investigasi.info -Banyuwangi dikenal sebagai salah
satu daerah di Indonesia yang potensi maritimnya cukup besar. Selain dikenal
sebagai wilayah penghasil ikan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi  juga
punya program 100 ribu kolam ikan yang dikembangkan di pekarangan -pekarangan
warga.
Konsep tersebut mengundang
ketertarikan 10 praktisi perikanan di Belanda yang berasal dari berbagai
profesi dan disiplin ilmu. Seperti  akademisi, banker, pelaku
usaha/petani, pengusaha cold storage, eksportir dan pengusaha di sektor
pengolahan/ off farm.
Mereka tiba di Banyuwangi Kamis
(8/6) pagi dan diterima Asisten Pembangunan dan Kesra, Agus Siswanto didampingi
Kepala Dinas Perikanan dan Pangan, Hary Cahyo Purnomo di Lounge Pelayanan
Publik Pemkab Banyuwangi.
Bettina Cavenagh, salah satu
praktisi perikanan dari Larive International mengatakan, dia bersama ke-9
rekannya khusus belajar ke Banyuwangi terkait perikanan budidaya (aquaculture).
“Kami difasilitasi Kedutaan Besar Belanda di Indonesia untuk belajar tentang
potensi perikanan di Indonesia.  Di Banyuwangi, kami  belajar tentang
aquaculture. Kami dengar Banyuwangi punya potensi perikanan budidaya, khususnya
lele, nila dan udang yang prospeknya luar biasa bagus,” kata Cavenagh yang
mengaku senang datang ke Banyuwangi.
Menurut Cavenagh, negaranya sangat
ingin mengembangkan potensi perikanan air tawar. Sebab di Belanda lautnya tidak
begitu besar. “Ada kemungkinan kami akan melakukan partnership di bidang
growing industry aquaculture. Karena itu tujuan kami kemari ingin melihat dari
dekat dulu, bagaimana program aquaculture di Banyuwangi  ini berjalan,”
ujarnya.
Cavenagh dan rekan-rekannya kemudian
diajak untuk melihat potensi perikanan budidaya Banyuwangi. Yakni budidaya
udang windu di tambak Bomo; budidaya lele di kolam milik Mislan, Kelompok Karya
Mina Lele di Desa Kedungrejo, Muncar; dan budidaya nila milik Kelompok Kawang
Rona Timur, Desa Wringinputih, Muncar. Selain itu mereka juga berkesempatan
mengunjungi coldstorage Istana Cipta Sejahtera, di Desa Labanasem, Kecamatan
Kabat.
Rombongan ini berada di Indonesia
selama 5 hari. Banyuwangi adalah destinasi ketiga yang dituju setelah
sebelumnya berkunjung ke Purwakarta dan Jakarta, dan dilanjutkan ke Surabaya.
Untuk diketahui, Bupati Banyuwangi,
Abdullah Azar Anas memang mendorong pengembangan perikanan budidaya oleh
masyarakat. Pengembangan program ini memanfaatkan potensi sumber daya air yang
melimpah di Banyuwangi. Anas pun mencanangkan gerakan 100 ribu kolam, setelah
sebelumnya telah sukses dengan program 10 ribu kolam.
Beberapa kecamatan di Banyuwangi
memiliki sumber daya  air yang melimpah seperti Kecamatan Glenmore,
Kalibaru, Sempu, Songgon, Glagah, dan Licin. Wilayah ini menjadi lokasi yang
potensial bagi pengembangan program 100 ribu kolam.
Anas juga mendorong 100 ribu kolam
melalui program Mina Tani, yakni usaha budidaya perikanan yang dilakukan
bersamaan dengan pertanian. Mina tani memanfaatkan genangan air sawah yang
tengah ditanami tanaman pangan sebagai kolam untuk budidaya ikan air tawar.
Misalnya saja mina padi, dan mina naga.

 

Ini sebagai salah satu cara
mengatasi overfishing dan memberi penghasilan baru bagi nelayan. Kuncinya
adalah kualitas lingkungan yang terjaga. Karena itu nelayan terus didorong
untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. (widodo)