Giliran, Pansus DPRD Sidoarjo Ditahan

0

Sidoarjo, Investigasitop.com – Setelah dua kali menjalani
pemeriksaan Tim Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo, oknum anggota dari
kalangan DPRD setempat, Khoirul Huda akhirnya ditahan dan dititipkan di lembaga
pemasyarakatan (LP) Delta Sidoarjo, kemarin (8/6).
Foto:
Oknum DPRD Sidoarjo saat akan digelandang menuju mobil tahanan.
Penahanan terhadap politisi Golkar
itu, karena tim penyidik kejari menemukan serangkaian alat bukti yang mengarah
pada keterlibatan yang bersangkutan (Huda, red), dalam kasus Kebocoran
Pengelolaan Keuangan PDAU.
“Yang bersangkutan kami tahan,
setelah tim penyidik mengantongi sejumlah alat bukti kuat,” terang Kasi Pidsus
Kejari Sidoarjo, Adi Harsanto kepada awak media.
Adi mengungkapkan, yang bersangkutan
memiliki peran berkaitan dengan alat bukti berupa kuitansi senilai Rp 75 juta
yang berasal dari Kas PDAU kepada salah satu Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo.
Soal keperuntukan dana yang diterima tersangka itu untuk apa dan siapa saja,
pihaknya menyatakan masih didalami oleh tim penyidik.
“Aliran dana dari PDAU yang
mengalir, masih kami dalami,” tandasnya.
Dikonfirmasi di sela-sela perjalanan
saat digelandang menuju mobil tahanan, Khoirul Huda pun tidak menampik adanya
aliran dana dari PDAU ke Pansus DPRD Sidoarjo, untuk perubahan PD menjadi PT.
“Dana itu kami terima bukan untuk
kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan Pansus saat berkunjung ke
Pekanbaru, Riau. Saya sudah kasih penjelasan ke penyidik,” aku mantan
kordinator korban lumpur asal Jatirejo Porong itu.
Sebelumnya tim penyidik Kejari
Sidoarjo, telah menetapkan lebih dulu tiga pejabat perusahaan plat merah milik
Pemkab Sidoarjo itu. Di antaranya, Direktur Direktur PDAU Sidoarjo, Amral
Soegianto (AS), Kabag Umum yang juga menjabat Kepala unit Delta Gas Siti
Winarni (SW) dan Kepala unit Delta Grafika Imam Junaedy (IJ).
Dalam kasus ini, penyidik Korps
Adhyaksa Jalan Sultan Agung Sidoarjo, tengah fokus mengumpulkan serangkaian
alat bukti dugaan bocornya pengelolaan keuangan PDAU selama enam tahun
terakhir, yakni mulai tahun 2010-2016 dan akan terus mendalami kasusnya. Sebab,
tidak menutup kemungkinan akan muncul lagi keterlibatan tersangka lain.
“Akan terus kami kembangkan,
tidak menutup kemungkinan ada tersangka lainnya,” tambah Kasi Intel Andri
Tri Wibowo. (ryo/kmd)