Letjen Dudung dan Jejaknya yang Menyita Perhatian Publik

0
Pangkostrad, Letjen Dudung Abdurrahman

Jakarta, Investigasi.today – Jejak Letjen Dudung Abdurachman sebagai perwira tinggi TNI AD kerap menyita perhatian masyarakat. Terbaru pernyataan Dudung yang menuai kontoversi adalah soal semua agama benar di mata Tuhan.

Nama Dudung Abdurachman mulai dikenal luas oleh masyarakat setelah menjabat sebagai Pangdam Jaya. Karena kinerjanya di Kodam Jaya yang cemerlang, Dudung kemudian diorbitkan menjadi Pangkostrad dan resmi menyandang bintang tiga.

Berikut beberapa jejak Letjen Dudung yang menyita perhatian publik

  1. Soroti Tabur Bunga Gatot dkk

Saat menjabat Pangdam Jaya, Dudung menyoroti acara tabur bunga di TMP Kalibata Jakarta Selatan yang dihadiri mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Acara tabur bunga Gatot dkk itu diketahui sempat diwarnai kericuhan.

“Terkait peristiwa pada tanggal 30 September 2020 di TMP Kalibata, kami mendengar informasi bahwa dari Purnawirawan Pengawal Kedaulatan Negara (PPKN) membuat surat untuk izin melaksanakan ziarah di TMP. Kemudian surat itu ditunjukkan ke Kemensos. Namun, dari Kemensos tidak diizinkan dengan alasan karena COVID-19,” kata Dudung di Makodam Jaya, Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur, Kamis (1/10/2020).

Bukan hanya tidak mengantongi izin dari Kemensos, acara tabur bunga itu juga tidak diketahui oleh Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri). Karena itu, Dudung mengingatkan para purnawirawan TNI tetap waspada.

“Saya konfirmasi kepada Pepabri ternyata kegiatan kemarin tidak ada konfirmasi kepada Jenderal (Purn) Agum Gumelar sebagai Ketua Pepabri, sehingga akhirnya bapak-bapak purnawirawan kemarin untuk mewaspadai dengan informasi-informasi yang memanfaatkan purnawirawan untuk kepentingan pribadi,” jelas Dudung.

  1. Demo Omnibus Law

Dudung juga tampil dalam pengamanan demonstrasi tolak omnibus law UU Cipta Kerja. Saat itu Dudung mengungkap soal massa dari luar kota ini hendak berunjuk rasa karena dijanjikan imbalan uang.

“Seratusan lebih. Yang saya kemarin tahu ya, dari Subang, Banten, Tangerang, kemudian Pamanukan, itu saja. Tapi kan itu yang kami amankan sebelum demo mulai,” ungkap Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman, Sabtu (10/10/2020).

“Itu orang-orang nggak sekolah semua rata-rata. Bukan, kalau buruh malah nggak ada justru. (Mereka) pengangguran, preman-preman,” tandasnya.

Dudung menuturkan preman dan pengangguran ini mendapat instruksi dari grup WhatsApp yang mereka ikuti. Penggerak massa menjanjikan uang akan diberikan seusai demo.

“Dia itu di WhatsApp Group-nya dijanjikan akan dikasih uang setelah demo selesai,” pungkas Dudung.

  1. Perintahkan Pencopotan Baliho FPI-HRS

Saat menjabat Pangdam Jaya, Dudung juga memerintahkan jajarannya untuk mencopot baliho FPI dan Habib Rizieq Shihab (HRS).

“Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Rizieq itu perintah saya. Karena berapa kali Pol PP menurunkan, dinaikkan lagi. Perintah saya itu,” ungkap Mayjen Dudung, Jumat (20/11/2020).

Dudung menegaskan ada aturan yang harus dipatuhi terkait pemasangan baliho. Ia meminta tidak ada pihak yang seenaknya sendiri dan merasa paling benar.

“Kalau siapa pun di republik ini, ini negara hukum, harus taat kepada hukum. Kalau masang baliho udah jelas ada aturannya, ada bayar pajak, dan tempat ditentukan. Jangan seenaknya sendiri, seakan-akan dia paling benar, nggak ada itu. Jangan coba-coba pokoknya,” tegasnya.

  1. Pembubaran FPI

Jauh sebelum pembubaran FPI, Dudung telah berbicara keras soal hal tersebut. Dudung menyebut, apabila FPI tidak taat terhadap hukum, bisa dibubarkan.
“Kalau perlu, FPI bubarkan saja itu, bubarkan saja. Kalau coba-coba dengan TNI, mari,” tegas Dudung.

Dudung menilai FPI berbuat sesuka hati. Dia menegaskan TNI akan melakukan tindakan ketika ada baliho yang melakukan ajakan untuk berbuat revolusi.

“Sekarang kok mereka (FPI) ini seperti yang ngatur, suka-sukanya sendiri. Saya katakan, itu perintah saya, dan ini akan saya bersihkan semua, tidak ada itu baliho yang mengajak revolusi dan segala macam. Ya saya peringatkan dan saya tidak segan menindak dengan keras. Jangan coba mengganggu persatuan dan kesatuan, jangan merasa mewakili umat Islam, tidak semua, banyak umat Islam yang berkata berucap dan bertingkah laku baik,” tandas Dudung.

  1. Agama dan Pancasila

Dudung mengatakan orang yang beragama belum tentu Pancasilais. Tapi, kata Dudung, orang yang Pancasilais sudah pasti beragama.

Awalnya Dudung berbicara mengenai hukum atraktif, yaitu tentang kebaikan yang akan dibalas kebaikan. Begitu pun sebaliknya, perbuatan jahat juga akan dibalas dengan kejahatan.

“Intinya bahwa yang saya sampaikan ada hukum atraktif, ada hukum atraktif itu apabila kita menuai suatu kebaikan, maka kebaikan kita akan dapat, begitu juga kalau kita berbuat jahat kepada orang maka kejahatan juga tidak akan lama datang kepada diri kita,” ungkap Dudung di Markas Kodam Jaya Jalan Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (25/11/2020).

Dudung kemudian menyinggung hukum karma dalam istilah masyarakat Bali. Setelah itu, barulah Dudung menyebut soal orang yang beragama belum tentu Pancasialis.

“Kalau orang Hindu, orang Bali, itu istilahnya ada namanya hukum karma, jadi akan dibalas bukan di akhirat, tetapi akan dibalas di dunia. Kemudian orang yang beragama itu belum tentu Pancasilais, tetapi orang yang Pancasilais sudah pasti dia beragama,” ungkap Dudung.

“Karena ada juga dia merasa beragama, tapi persatuan dan kesatuan dia tidak junjung tinggi, ada orang merasa beragama, tetapi kemanusiaan yang adil dan beradab juga dia junjung tinggi,” lanjutnya.

Dudung juga menyebut ada orang yang merasa ingin benar sendiri dan membuat aturan semaunya. Dudung kembali menegaskan bahwa Pancasila merupakan perekat untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Ada juga orang yang beragama kemanusiaan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan dia tidak ingin bermufakat dan sebagainya, merasa ingin benarnya sendiri, aturannya aturan sendiri. Ingat bahwa Pancasila itu adalah kesepakatan bersama, kesepakatan bersama yang diambil dari kultur budaya bangsa Indonesia yang kemudian melahirkan sebuah Pancasila, maka Pancasila ini adalah sebagai perekat kehidupan berbangsa dan bernegara,” terangnya.

  1. Tumpas Debt Collector

Dudung menegaskan TNI dan Polri akan bersinergi menumpas perilaku premanisme yang dilakukan debt collector.
“Saya sudah koordinasi dengan Kapolda bahwa perilaku-perilaku debt collector ini akan kita hentikan. Tidak ada karena kekuasaan tertentu, memanfaatkan pihak-pihak tertentu, sehingga menggunakan premanisme, termasuk premanisme yang lain seperti geng motor dan sebagainya, rencana kita akan tumpas,” ungkap Dudung saat jumpa pers di Markas Kodam Jaya, Jakarta, Senin (10/5/2021).

Dudung menekankan tidak boleh ada kegiatan yang membuat masyarakat resah. Dia mengajak seluruh pihak menjaga ketenteraman di Jakarta.

“Tidak ada kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat, tidak ada tindakan-tindakan memberikan rasa cemas, rasa ketakutan. Kita ciptakan di DKI Jakarta ini jadi tentram damai dan masyarakat melaksanakan kegiatan-kegiatannya dengan baik tanpa ada rasa ketakutan,” tandasnya.

Dudung juga meminta masyarakat agar melaporkan tindakan-tindakan premanisme yang terjadi. Dia memastikan TNI-Polri akan menindaklanjuti laporan tersebut.

“Saya info kepada masyarakat, apa pun yang menjadi permasalahan-permasalahan yang ada d wilayah Jabodetabek ini segera laporkan ke TNI-Polri, laporkan ke TNI-Polri, maka kami akan datang secepat mungkin untuk membantu masyarakat,” tegas Dudung.

  1. Semua Agama Benar di Mata Tuhan

Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman mengingatkan jajarannya tak bersikap fanatik terhadap agama. Menurut Dudung, semua agama sama di mata Tuhan Yang Maha Esa.

“Bijaklah dalam bermain media sosial sesuai dengan aturan yang berlaku bagi prajurit. Hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama. Karena semua agama itu benar di mata Tuhan,” kata Dudung, dikutip dari keterangan pers Penerangan Kostrad, Selasa (14/9/2021).

Hal itu disampaikan Dudung saat bersama Ketua Persit KCK Gabungan Kostrad Rahma Dudung Abdurachman dan rombongan di Batalyon Zipur 9 Kostrad, Ujungberung, Bandung, Jawa Barat. Senin (13/9).

Dudung juga mengingatkan prajuritnya untuk selalu bersyukur atas segala kondisi, terkhusus dalam situasi pandemi COVID-19. Dudung pun meminta prajurit bersyukur soal pasangan.

“Sebagai prajurit, kita harus bersyukur dengan kondisi keluarga saat ini masih diberikan kesehatan, bersyukurlah mempunyai istri apa pun bentuknya, karena itu semua adalah pilihan kita,” pungkasnya. (Ink)