
Gresik, Investigasi.today – Kelangkaan minyak goreng bersubsidi sejak beberapa bulan terakhir membuat pengusaha kerupuk Desa Putat Lor, Kecamatan Menganti, Gresik, Jawa Timur menjerit dan terpaksa wadul dan mengadukan nasibnya ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ) Kabupaten Gresik.
Merespon hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Gresik Mujid Riduan langsung turun ke lapangan dan mengunjungi sentra UMKM kerupuk di Desa Putat Lor, Kecamatan Menganti, Gresik, Jawa Timur.
Tidak hanya mendengarkan keluhan mereka, dalam kesempatan tersebut, Ketua DPC PDI Perjuangan Gresik itu juga memborong kerupuk kemudian dibagikan ke masyarakat sekitar.
Mujid disambati langkanya minyak goreng Rp 14 ribu. Untuk mencukupi kebutuhan produksi kerupuk yang seharinya mencapai 4 – 5 kwintal, Sutino ( salah seorang pengusaha kerupuk ) harus berburu minyak goreng hingga ke luar kota.
Hal tersebut dilakukan Sutino karena langkanya minyak goreng subsidi harga Rp14 ribu. Kalaupun ada, harganya pun masih di atas harga ecerean tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Biasanya Sutino menghabiskan minyak goreng 180 kilogram dengan harga Rp12 ribu per liter. Sekarang harga minyak goreng mencapai Rp18 ribu sampai Rp19 ribu per liternya, belum harga bahan baku lainnya yang semuanya pada naik.
“Kami rugi banyak, dikalikan saja berapa setiap hari. Kemudian sudah satu bulan lebih minyak goreng langka. Nyari minyak gorengnya keliling Gresik, bahkan sampai Surabaya,” tuturnya.
Sekitar 30 orang pekerja yang menggantungkan nasib di rumah produksi kerupuk miliknya, Sutino harus memutar otak bagaimana caranya agar produksinya terus berjalan.
“Meski terus merugi karena tingginya angka produksi, tapi saya terpaksa terus bertahan mengingat pekerja yang harus menafkahi keluarganya,” curhatnya kepada Mujid.
Mendengar keluhan Sutino, Mujid Riduan berjanji bakal membawa keluhan pengusaha kerupuk tersebut kepada Diskoperindag Gresik.
“Tidak hanya disambati kelangkaan minyak goreng subsidi. Semua bahan baku seperti tepung tapioka juga harganya naik,” ungkap Mujid.
“Kasihan, kerupuknya langsung saya borong untuk dibagikan ke masyarakat. Saya bawa keliling kampung,” lanjutnya.
Politisi asal Menganti ini juga mendengar sendiri bahwa pengusaha kerupuk rumahan ada yang sampai gulung tikar.
“Ada pengusaha yang sekarang tidak bisa produksi dan akhirnya gulung tikar gara-gara minyak goreng yang langka,” tandas Mujid.
Untuk mengatasi kelangkaan Minyak goreng subsidi, berbagai langka sudah dilakukan pemerintah. Salah satunya dengan menggelar operasi pasar minyak goreng murah.
“Operasi pasar minyak goreng murah akan terus kita lakukan, digilir setiap kecamatan,” pungkas legislator tiga periode ini.
(Slv)


