
Gresik, Investigasi.today – Menjelang Ramadan, kekhawatiran publik terhadap lonjakan harga bahan pokok mulai terasa. Pemerintah bergerak cepat. Di Pendopo Alun-Alun Gresik, Jumat (13/02), Pemerintah Kabupaten Gresik ambil bagian dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar serentak secara nasional. Pesannya tegas: harga harus stabil, stok aman, dan masyarakat tidak boleh terbebani.
Kegiatan ini dibuka secara daring oleh Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi pelaku usaha yang menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan stok besar untuk memastikan intervensi pasar berjalan efektif.
Data yang disampaikan cukup mencolok. Stok beras nasional saat ini mencapai 3,4 juta ton—angka tertinggi sepanjang sejarah untuk periode Februari. Selain itu, pemerintah menyalurkan 1,5 juta ton beras SPHP dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram serta 700 ribu ton minyak goreng dengan batas harga Rp15.700 per liter. Instruksi penindakan terhadap pelanggaran, ditegaskan langsung oleh Presiden.
Di Gresik, Wakil Bupati Asluchul Alif memastikan pemerintah daerah bergerak selaras dengan kebijakan pusat.
“Kami ingin masyarakat Gresik menjalani puasa dan merayakan Idulfitri dengan tenang. Tidak boleh ada kelangkaan maupun lonjakan harga yang memberatkan. Pemerintah hadir untuk menjaga daya beli,” tegasnya, Jumat (13/2).

Berbagai komoditas dijual di bawah harga pasar. Beras SPHP sebanyak 2,5 ton dilepas Rp11.000 per kilogram, beras premium Rp14.000 per kilogram, dan minyak goreng Minyakita Rp15.000 per liter. Gula pasir premium dijual Rp16.000 per kilogram, sementara gula PG Kremboong Rp15.000 per kilogram.
Untuk komoditas hortikultura, bawang merah dijual Rp15.000 per 500 gram, bawang putih kating Rp13.000 per 500 gram, cabai rawit merah Rp7.000 per ons, dan cabai merah besar Rp5.000 per 2,5 ons. Telur ayam ras tersedia Rp24.000 per pack.
Sejak pagi, warga memadati lokasi. Antrean mengular, namun tertib. Siti, warga Kecamatan Kebomas, mengaku sengaja datang lebih awal demi mendapatkan beras dan minyak goreng dengan harga lebih terjangkau.
“Menjelang puasa biasanya harga naik. Jadi kegiatan seperti ini sangat dinanti. Alhamdulillah bisa beli beras dan minyak dengan harga lebih murah,” katanya.
Tak hanya soal harga, pengawasan juga diperketat. Mobil Laboratorium Keliling Pengawasan Keamanan Pangan diterjunkan untuk memeriksa kandungan bahan pangan secara langsung di lokasi. Langkah ini memastikan produk yang dijual bukan hanya murah, tetapi juga aman dikonsumsi.
Gerakan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tak ingin kecemasan pasar berulang setiap menjelang hari besar keagamaan. Di tengah dinamika harga dan permintaan yang meningkat, stabilitas bukan sekadar janji – melainkan kerja nyata di lapangan. (Ink)


