Friday, September 25, 2026
HomeBerita BaruJatimDari Petani ke PBB, Petrokimia Gresik Bawa Misi Industri Hijau dan Talenta...

Dari Petani ke PBB, Petrokimia Gresik Bawa Misi Industri Hijau dan Talenta Indonesia ke New York

GladiAgro, inovasi pemulihan kesehatan tanah berbasis mikroba, menjadi bagian dari pengalaman transformasi Petrokimia Gresik, bersamaan dengan agenda dekarbonisasi industri dan penyiapan talenta untuk green jobs.

GRESIK, Investigasi.today – Inovasi yang berangkat dari persoalan tanah pertanian Indonesia kini dibawa ke panggung global. PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), mendapat kesempatan menghadirkan pengalaman transformasi industri dan pertanian berkelanjutan Indonesia dalam rangkaian forum internasional di New York, Amerika Serikat.

Kehadiran tersebut tidak sekadar membawa nama korporasi. Petrokimia Gresik membawa pesan bahwa transformasi hijau tidak berhenti pada perubahan teknologi di kawasan industri, tetapi harus bermuara hingga ke lahan pertanian, meningkatkan kualitas tanah, memperkuat produktivitas petani, sekaligus menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi yang relevan dengan ekonomi hijau.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, pada Minggu (20/9) waktu setempat atau Senin (21/9) waktu Indonesia, menghadiri 2026 UN Private Sector Forum di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York.

Forum khusus undangan tersebut mempertemukan sekitar 150 pemimpin senior dunia usaha, pemerintah, dan PBB untuk membahas percepatan transisi menuju energi yang bersih, adil, dan aman. Dalam forum tersebut, Daconi menjadi satu-satunya direktur utama dari Indonesia yang berkesempatan hadir.

Forum yang diselenggarakan UN Global Compact di bawah kepemimpinan Sanda Ojiambo, Assistant Secretary-General PBB sekaligus CEO dan Executive Director UN Global Compact, tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.

Pembahasan mencakup tantangan utama transisi energi global, mulai dari investasi, infrastruktur dan kebijakan hingga kebutuhan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha untuk mempercepat implementasi energi bersih.

Dari forum energi global tersebut, agenda Petrokimia Gresik berlanjut pada isu yang tidak kalah strategis: talenta manusia sebagai penggerak transformasi industri hijau.

Pada Senin (21/9) waktu setempat atau Selasa (22/9) waktu Indonesia, Daconi menjadi pembicara dalam forum Global Talent for Sustainable Development di KJRI New York.

Forum tersebut mempertemukan diaspora Indonesia, mahasiswa, pemimpin bisnis, praktisi keberlanjutan, dan inovator. Di hadapan para peserta, Daconi menekankan bahwa transisi menuju ekonomi hijau bukan hanya persoalan mengganti teknologi dan sumber energi, tetapi juga mengubah kompetensi manusia yang menjalankannya.

“Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia. Teknologi hijau hanya akan memberikan manfaat apabila didukung talenta yang mampu merancang, mengoperasikan, dan mengembangkannya,” ujar Daconi.

Ia mendorong talenta Indonesia yang sedang belajar maupun berkarya di luar negeri untuk mengambil bagian dalam transformasi tersebut dengan membawa pulang pengetahuan, pengalaman, serta jejaring global yang dimiliki.

Menurut Daconi, kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi global akan semakin besar seiring berkembangnya industri hijau dan ekonomi berkelanjutan.

“Kami berharap talenta-talenta terbaik Indonesia yang saat ini belajar maupun berkarya di luar negeri dapat membawa kembali pengetahuan dan pengalamannya untuk berkontribusi bagi Indonesia. Transformasi ke depan membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi, perspektif global, dan kemampuan menjawab perubahan industri,” tambahnya.

DARI PABRIK HINGGA LAHAN PETANI

Petrokimia Gresik berada pada posisi yang mempertemukan dua agenda besar transformasi sekaligus.

Di sisi hulu, perusahaan merupakan industri pupuk dan kimia yang terus mendorong efisiensi proses produksi serta menurunkan intensitas karbon.

Di sisi hilir, produk dan inovasinya bersentuhan langsung dengan produktivitas petani, kesehatan tanah, dan keberlanjutan pertanian Indonesia.

Salah satu inovasi yang dibawa dalam narasi transformasi tersebut adalah GladiAgro: Next-Gen Soil Revival, solusi pemulihan kesehatan tanah yang sebelumnya meraih penghargaan tertinggi dalam SDGs Innovation Accelerator for Young Professionals 2026.

Persoalan yang dihadapi bukan kecil.

Berdasarkan pengujian Petrokimia Gresik terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi sejak 2016, sebanyak 91,9 persen sampel menunjukkan kandungan karbon organik yang rendah.

Data tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan GladiAgro untuk menjawab persoalan kesehatan tanah secara lebih berkelanjutan.

Dalam implementasinya, GladiAgro memanfaatkan Petro Gladiator, dekomposer berbasis mikroba unggul yang dikembangkan untuk mempercepat proses dekomposisi limbah pertanian dan bahan organik menjadi nutrisi organik.

Nutrisi tersebut kemudian dikembalikan ke lahan untuk meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki struktur tanah, dan mendukung pemulihan kesehatan tanah.

Dengan pendekatan tersebut, transformasi hijau tidak berhenti pada pagar pabrik.

“Transformasi hijau kami tidak berhenti di gerbang pabrik, tetapi berlanjut sampai ke lahan pertanian. Di industri, kami harus membuat proses produksi semakin efisien dan rendah karbon. Di sektor pertanian, kami juga harus membantu petani menjaga kesehatan tanah, menggunakan input secara lebih tepat, dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” jelas Daconi.

GREEN JOBS, KOMPETENSI BARU INDUSTRI

Dalam forum Global Talent for Sustainable Development di KJRI New York, Daconi membawa perspektif “Green Jobs: From Green Transformation to Green Talent”.

Menurutnya, perubahan menuju industri rendah karbon akan mengubah bukan hanya teknologi dan sumber energi, tetapi juga jenis kompetensi yang dibutuhkan tenaga kerja.

Engineer dan operator, misalnya, tidak cukup hanya menguasai aspek keandalan dan kapasitas produksi. Mereka juga dituntut memahami efisiensi energi, energi terbarukan, manajemen karbon, hingga teknologi rendah karbon.

Kebutuhan talenta juga semakin lintas disiplin, mulai dari teknik, lingkungan, pertanian, digital, data, keuangan hingga bisnis.

“Engineer tetap engineer, agronom tetap agronom, dan akuntan tetap akuntan. Tetapi teknologi yang mereka gunakan, kompetensi yang mereka butuhkan, dan ukuran keberhasilan pekerjaannya akan berubah. Karena itu, penguatan talenta perlu dilakukan melalui reskilling, upskilling, pengalaman industri, serta kolaborasi lintas disiplin,” terangnya.

Agenda penguatan talenta tersebut berjalan beriringan dengan transformasi operasional Petrokimia Gresik.

Perusahaan memiliki roadmap dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Untuk target jangka pendek 2030, Petrokimia Gresik menargetkan penurunan emisi sebesar 30 persen dibandingkan skenario Business as Usual (BAU) sebesar 3,46 juta ton CO₂e.

Upaya tersebut mencakup efisiensi energi dan utilitas, penggunaan sumber energi yang lebih bersih, pemanfaatan energi terbarukan dan CO₂, serta pengembangan teknologi rendah karbon.

Salah satu agenda yang tengah dikaji adalah pengembangan green hydrogen untuk mendukung produksi hybrid green ammonia berkapasitas 250 MTPD, bersama Pupuk Indonesia.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan Petrokimia Gresik tidak ditempatkan semata sebagai isu lingkungan, tetapi mulai diposisikan sebagai bagian dari transformasi model industri, pengembangan teknologi, kebutuhan talenta, dan masa depan ketahanan pangan.

INDUSTRI TAK CUKUP MENUNGGU TALENTA

Daconi menilai industri tidak cukup hanya menjadi pengguna tenaga kerja. Dunia usaha juga perlu mengambil peran dalam membentuk talenta yang dibutuhkan industri masa depan.

Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas profesional, serta talenta Indonesia di dalam dan luar negeri menjadi bagian penting dari proses transformasi.

“Talenta hijau Indonesia perlu disiapkan dari sekarang karena transformasi industri hijau tidak menunggu kesiapan kita. Kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi, serta talenta Indonesia di dalam maupun luar negeri akan menjadi fondasi penting agar transformasi ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan membuka peluang bagi generasi mendatang,” pungkas Daconi.

Dari persoalan karbon organik tanah di lahan pertanian hingga agenda dekarbonisasi industri, Petrokimia Gresik membawa satu pesan ke panggung global: transformasi hijau hanya akan bermakna apabila teknologi, manusia, industri, dan petani bergerak dalam satu ekosistem keberlanjutan. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular