
LAMONGAN, Investigasi.today – Keluhan warga terhadap pengelolaan air limbah mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumberejo, Kabupaten Lamongan, melakukan pembenahan menyeluruh. Tak sekadar memperbaiki saluran pembuangan, SPPG mengembangkan sistem pengolahan air limbah berbasis teknologi “Total Filter Solution” yang mengombinasikan sejumlah tahapan penyaringan sebelum air dialirkan ke lingkungan.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya SPPG Sumberejo memastikan operasional penyediaan Makanan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan, sekaligus menjawab perhatian masyarakat terhadap dampak lingkungan dari aktivitas dapur dengan debit air limbah yang relatif tinggi.
Kepala SPPG Sumberejo, Asrul Satria Pratama, mengatakan sistem baru tersebut membuat hasil pengolahan air limbah menjadi lebih jernih dan tidak berbau. Menurut dia, kualitas output pengolahan juga diperkuat melalui pemeriksaan Laboratorium Lingkungan Jasa Tirta I.
“Inovasi ini hasil kolaborasi kami dengan akademisi dari perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Alhamdulillah ketika diaplikasikan pada IPAL SPPG kami, outputnya makin optimal. Setahu saya, teknologi ini pertama kali diaplikasikan di SPPG,” ujar Asrul saat ditemui, Jumat (25/9/2026).
Debit Tinggi Jadi Tantangan
Asrul menjelaskan, karakteristik air limbah SPPG pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan limbah rumah tangga. Namun, aktivitas dapur untuk memenuhi kebutuhan makanan dalam jumlah besar membuat debit air yang harus diolah menjadi lebih tinggi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sistem pengolahan sebelumnya.
“Pengolahan air limbah sebelumnya menggunakan bakteri. Tapi pada saat debit air tinggi atau puncak, bakteri pengurai yang kami masukkan ikut terbuang. Otomatis tidak maksimal dalam mengurai. Dengan penyempurnaan ini cost-nya semakin efisien,” jelasnya.
Sistem baru kemudian dirancang dengan pendekatan filtrasi berlapis.
Tahap awal dimulai dari pemisahan limbah padat saat proses pencucian. Air kemudian melewati screen berbahan stainless dan filter pada bak kontrol untuk menahan kotoran yang masih terbawa.
Dari sana, air masuk ke grease trap berkapasitas 1.500 liter. Tahap ini digunakan untuk membantu memisahkan minyak, lemak, serta kotoran dari air limbah.
“Sampah padat atau sampah organik sisa makanan ini yang berpotensi menyebabkan bau pada air limbah. Makanya kami pisahkan dulu,” terang Asrul.
Setelah melewati grease trap, air dialirkan secara bertahap melalui empat tong filtrasi dengan media penyaring berbeda, antara lain coco fiber dan pasir silika. Rangkaian tersebut digunakan untuk membantu menahan partikel yang masih terbawa dalam air.
Air hasil filtrasi kemudian ditampung dalam profil tank berkapasitas 1.200 liter, sebelum dipompa menuju dua tabung filter berbahan Fiber Reinforced Plastic (FRP).
Penyaringan lanjutan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Total Filter Solution yang diterapkan SPPG Sumberejo sebelum air memasuki tahap pemantauan.
Bahkan Disiapkan Akuarium sebagai Indikator
Tidak berhenti pada sistem penyaringan, SPPG Sumberejo juga menyiapkan pengembangan tahap pemantauan kualitas air secara sederhana.
“Ke depan akan kami lengkapi dengan akuarium sebagai indikator yang dapat digunakan untuk memantau kondisi air hasil pengolahan secara sederhana. Akuarium juga dapat menjadi parameter biologis dengan melihat kemampuan ikan untuk hidup di dalam air hasil pengolahan apabila kondisi air telah sesuai,” ujar Asrul.
Menurut dia, inovasi tersebut sekaligus menjadi respons terhadap perhatian warga di sekitar SPPG mengenai pengelolaan air limbah.
Hasil pembenahan itu kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong warga kembali memberikan dukungan terhadap operasional SPPG Sumberejo.
Warga: Keluhan Ditanggapi, SPPG Kembali Didukung
Perwakilan Paguyuban Perumahan Insani Regency, Duta Minanda, mengapresiasi langkah cepat SPPG dalam merespons berbagai masukan warga.
Ia mengatakan, sebelumnya warga juga menyampaikan keluhan mengenai suara blower. Pihak SPPG kemudian melakukan relokasi sehingga tingkat kebisingan dapat diminimalisasi.
Untuk persoalan air limbah, Duta menyebut warga sebenarnya tidak mempermasalahkan bau dari limbah yang melintas di saluran air dekat gerbang perumahan.
“SPPG sekarang sudah melakukan langkah pencegahan dengan membuat saluran limbah sendiri dan tertutup. Selain itu output limbahnya juga sudah diolah dengan memanfaatkan teknologi terbaru, sehingga semakin baik,” ungkapnya.
Menurut Duta, setelah berbagai persoalan yang menjadi perhatian warga dilakukan perbaikan dan dimediasi, masyarakat kembali mendukung keberadaan SPPG Sumberejo.
Dukungan tersebut sekaligus membuka jalan bagi SPPG untuk kembali menjalankan fungsi utamanya, yakni menyediakan Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi penerima manfaat.
SPPG Kembali Beroperasi
Koordinator SPPG Kecamatan Lamongan, Agustina Nurul Herdian, membenarkan SPPG Sumberejo kembali beroperasi setelah dilakukan perbaikan dan mediasi dengan warga.
“Sudah ada perbaikan, sudah ada mediasi dengan warga. SPPG Sumberejo sekarang sudah kembali diizinkan beroperasi kembali,” katanya.
Kembali beroperasinya SPPG Sumberejo juga dibenarkan Person in Charge (PIC) SMK Thoriqul Ulum Lamongan, Nenes Diah.
Ia mengatakan, peserta didiknya kembali menerima MBG setelah operasional SPPG berjalan kembali.
“Kemarin sudah dikirim MBG-nya. Alhamdulillah anak-anak sudah suka dengan makanannya,” ujarnya.
Dengan demikian, persoalan pengelolaan air limbah tidak hanya menjadi titik evaluasi bagi SPPG Sumberejo, tetapi juga mendorong lahirnya pembenahan sistem. Operasional MBG kembali berjalan, sementara sistem pengolahan limbah diperkuat dari hulu hingga tahap pemantauan. (Ink)


