
Kupang, investigasi.today – Di tengah riuh konflik yang melanda berbagai belahan dunia, termasuk Timur Tengah, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan peringatan keras. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak hanya menjaga persatuan, tetapi juga menjadikan nilai toleransi sebagai tameng utama agar Indonesia tidak ikut terjebak dalam pusaran perpecahan.
Pesan strategis ini disampaikan Gibran saat menghadiri puncak acara Pawai Paskah ke-30 yang digelar Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Senin (6/4). Dalam pandangannya, keberagaman yang dimiliki bangsa ini adalah kekayaan, namun bisa menjadi celah keruntuhan jika tidak dijaga dengan kesadaran tinggi.
“Sebagai bangsa yang majemuk dan berbhineka, kita perlu menjaga persatuan, perdamaian, dan nilai-nilai toleransi. Jangan sampai perbedaan dijadikan alat pemecah belah antar-sesama, agama, maupun bangsa,” tegas Wapres.
Waspada Informasi Beracun
Gibran menyoroti dinamika zaman yang semakin kompleks. Ia menegaskan, ancaman perpecahan tidak hanya datang dari perbedaan pandangan, tetapi juga maraknya informasi yang tidak bertanggung jawab di ruang digital.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang disebar di media sosial. Langkah preventif menjadi kunci; jika ada benih-benih kesalahpahaman, harus segera diredam melalui mediasi dan klarifikasi sebelum membesar.
“Jika ada bibit kesalahpahaman, segera dimediasi, diklarifikasi, serta dicari jalan tengahnya,” ujarnya.
Politisi senior ini menekankan bahwa stabilitas adalah prasyarat mutlak pembangunan. Negara tidak akan bisa maju dan berdaulat jika kondisi internalnya rapuh dan terbelah. Oleh karena itu, sikap saling menjaga dan kompak menjadi keniscayaan.
Pelajaran Pahit dari Konflik Dunia
Dalam sambutannya, Gibran juga melakukan analisis situasi global yang memprihatinkan. Ketidakstabilan ekonomi dan eskalasi perang di berbagai negara memberikan dampak domino yang sangat merugikan.
“Konflik dan perang akan membawa kemunduran. Ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar, tidak hanya oleh pihak yang berkonflik, tapi juga negara lain,” paparnya, menyoroti betapa rapuhnya tatanan dunia saat ini.
Sebagai simbol komitmen, Wapres Gibran secara simbolis menyerahkan Obor Perdamaian kepada para peserta pawai. Tindakan ini bukan sekadar seremoni, melainkan pernyataan sikap bahwa Indonesia harus menjadi contoh nyata bagaimana keragaman bisa hidup berdampingan secara damai di tengah dunia yang sedang dilanda pertikaian.
Gibran juga memberikan apresiasi tinggi kepada GMIT yang dinilai konsisten menjadi agen perdamaian, tidak hanya di Nusa Tenggara Timur, tetapi juga di penjuru nusantara. (Ink)


