
Gresik, Investigasi.today – Riuh tabuhan dan sorak warga menggema di Kecamatan Menganti, Rabu (18/03/2026) malam. Ogoh-ogoh raksasa diarak menyusuri jalan desa, disaksikan ribuan pasang mata. Namun di balik kemeriahan itu, ada satu hal yang dijaga ketat: ketenangan menuju Hari Raya Nyepi.
Tahun ini bukan perayaan biasa. Nyepi Tahun Baru Saka 1948 berdampingan dengan Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh hanya berselang satu hari. Potensi gesekan ada, tapi yang muncul justru sebaliknya—ruang toleransi yang terasa nyata di lapangan.
Sekitar 1.000 peserta terlibat dalam pawai yang digelar di empat pura utama: Pura Jagad Dumadi (Desa Laban), Pura Jagad Giri Natha (Desa Beton), serta Pura Kerta Bumi dan Pura Kerta Buana (Desa Pengalangan). Sebanyak 25 ogoh-ogoh diarak, bukan sekadar tontonan, melainkan simbol perlawanan terhadap sifat buruk manusia.
Di titik inilah peran aparat diuji.
Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution turun langsung memantau jalannya kegiatan. Bersama jajaran Polres dan Kapolsek Menganti AKP Arif Rahman, pengamanan dilakukan bukan dengan pendekatan kaku, melainkan humanis—mengedepankan komunikasi dan kehadiran yang menenangkan.
Personel ditempatkan di titik-titik rawan, terutama jalur padat dan persimpangan yang berpotensi macet. Koordinasi dengan Pecalang dan panitia dilakukan intensif untuk memastikan tidak ada gesekan di lapangan.
“Kami pastikan semua berjalan aman. Umat Hindu bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk, masyarakat lain tetap nyaman beraktivitas,” ujar Kapolsek Menganti.
Pawai mulai bergerak pukul 18.40 WIB. Di Desa Laban, 12 ogoh-ogoh dari Pura Jagad Dumadi menjadi pusat perhatian. Jalanan dipenuhi warga, namun arus tetap terkendali.
Situasi serupa terjadi di Desa Beton dan Pengalangan. Pengamanan gabungan TNI-Polri, Satpol PP, Linmas, hingga Pecalang bekerja dalam satu ritme—rapi, terkoordinasi, dan tanpa gesekan.
Puncaknya terjadi pukul 21.05 WIB. Satu per satu ogoh-ogoh dibakar. Api menjulang, disaksikan warga dalam hening yang perlahan menggantikan riuh sebelumnya. Simbol pemusnahan sifat buruk itu menjadi penanda dimulainya fase sunyi: Catur Brata Penyepian.
Menariknya, di tengah suasana menjelang Lebaran, masyarakat tetap menjaga sikap. Tidak ada gangguan, tidak ada konflik. Yang ada justru saling pengertian.
Hingga kegiatan berakhir, situasi di Menganti tetap aman dan kondusif. Ini bukan sekadar keberhasilan pengamanan, tapi gambaran bagaimana toleransi dijaga secara nyata—bukan sekadar slogan.
Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution menegaskan, kunci dari semua ini adalah sinergi.
“Kalau semua pihak saling menghormati, keamanan itu tercipta dengan sendirinya,” ujarnya. (Ink)


