
Gresik, investigasi.today – Ribuan jamaah memadati kawasan religi Masjid Ainul Yaqin di kompleks Sunan Giri, Sabtu malam (14/3), untuk mengikuti tradisi Malam Selawe, sebuah ritual spiritual yang telah hidup ratusan tahun di tengah masyarakat Gresik.
Sejak selepas salat Isya, suasana khidmat mulai terasa. Jamaah yang datang dari berbagai penjuru berkumpul mengikuti salat Tarawih berjamaah, lalu melanjutkan dengan munajat dan pembacaan 1.000 Surat Al-Ikhlas secara bersama-sama.
Tradisi yang digelar setiap malam ke-25 Ramadan ini dipercaya sebagai momentum memperbanyak ibadah untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar, malam yang diyakini lebih mulia dari seribu bulan.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Bupati Asluchul Alif turut hadir mengikuti rangkaian ibadah bersama masyarakat. Sebelum menuju masjid, rombongan terlebih dahulu melakukan ziarah ke makam Sunan Giri, salah satu tokoh penyebar Islam di tanah Jawa.
Bupati yang akrab disapa Gus Yani mengatakan bahwa Malam Selawe bukan sekadar tradisi, tetapi juga warisan spiritual yang harus dijaga bersama.
“Niat kita malam ini beriktikaf untuk mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar. Semoga Indonesia semakin damai dan sukses, khususnya Gresik agar tetap aman, kondusif, dan pintu rezeki masyarakat semakin terbuka,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus istiqomah merawat tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
“Semoga kita tetap istiqomah menjaga tradisi Malam Selawe yang sudah berlangsung berabad-abad dan memberi dampak langsung bagi masyarakat. InsyaAllah kita bisa kembali bertemu di Ramadan tahun depan,” imbuhnya.
Gus Yani turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Malam Selawe, termasuk kader Gerakan Pemuda Ansor yang dalam dua tahun terakhir membantu pemerintah daerah dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Pemerintah Kabupaten Gresik menghadirkan sejumlah hal baru. Salah satunya dengan melibatkan desa dan kelurahan melalui program “Satu Desa Satu Produk Unggulan”, yang ditampilkan dalam berbagai stan di kawasan Malam Selawe.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan 2.000 porsi nasi kebuli dan 500 kupat ketheq untuk masyarakat sebagai bentuk syukur atas ditetapkannya tradisi Malam Selawe dan Kupat Ketheg sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Momentum tahun ini pun menjadi catatan bersejarah bagi masyarakat Gresik. Tradisi Malam Selawe dan Kupat Ketheg resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Piagam penghargaan tersebut secara simbolis diserahkan oleh Bupati dan Wakil Bupati Gresik kepada Camat Kebomas sebagai bentuk apresiasi sekaligus komitmen untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Deretan stan kuliner di kawasan Sunan Giri dipadati pengunjung yang datang menikmati suasana khas Malam Selawe.
Salah satunya Yuni (38), warga Perumahan Bhumi Jati Permai, Jatirembe, yang datang bersama keluarganya.
“Alhamdulillah saya bisa hadir di majelis dan tradisi yang khidmat ini. Meski tadi sempat kehujanan dan basah-basahan naik ke masjid, saya tetap merasa bahagia. Di bawah ada kuliner, di atas ada munajat dan doa-doa. Malam Selawe selalu punya cerita,” tuturnya.
Malam itu terasa semakin istimewa. Sejak sore, langit sempat memancarkan warna jingga berawan sebelum akhirnya turun hujan. Bagi sebagian masyarakat, hujan tersebut dipercaya sebagai tanda keberkahan yang semakin menambah kekhidmatan Malam Selawe di kawasan Sunan Giri.
Pemerintah Kabupaten Gresik berharap tradisi luhur ini terus terjaga sebagai warisan budaya sekaligus kekuatan spiritual yang mempererat kebersamaan masyarakat Gresik. (Ink)


