
Gresik, Investigasi.today – Memasuki satu tahun operasional, RSUD Gresik Sehati mulai menunjukkan tren pertumbuhan layanan yang signifikan. Jumlah kunjungan pasien meningkat, tingkat keterisian tempat tidur (BOR) menembus 83 persen, dan layanan operasi terus bertambah.
Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, meninjau langsung perkembangan rumah sakit tersebut bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Mukhibatul Khusnah, Selasa (24/2/2026). Kunjungan ini sekaligus menjadi evaluasi memasuki tahun kedua operasional.
“Setahun ini progresnya nyata. Dari fase awal dengan kunjungan terbatas, sekarang grafiknya terus naik. Kepercayaan masyarakat mulai tumbuh. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan ini dikelola secara terukur dan berkelanjutan,” ujar Alif.
Kunjungan dan IGD Melonjak
Direktur RSUD Gresik Sehati, Riyan Charlie Milyantono, memaparkan sepanjang 2025 layanan rawat jalan melayani 370 kunjungan dari berbagai poli, mulai Klinik Gigi, Kandungan, Spesialis Anak, Bedah, Penyakit Dalam, hingga Klinik Umum.
Memasuki Januari–Februari 2026, kunjungan meningkat lebih dari 100 persen dibanding fase awal operasional.
Lonjakan paling terlihat di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Jika Januari 2025 hanya melayani tiga pasien, pada Januari 2026 jumlahnya naik menjadi 109 pasien. Secara kumulatif, IGD telah menangani 179 pasien sejak rumah sakit beroperasi.
Di layanan rawat inap lantai dua, yang pada awal Januari 2025 belum menerima pasien, kini tingkat keterisian tempat tidur mencapai sekitar 83 persen—indikator meningkatnya utilisasi layanan.
Layanan Operasi dan Status BLUD
Perkembangan juga terjadi di kamar operasi. Sejak aktif melayani tindakan, khususnya pasien BPJS pada Agustus 2025, jumlah operasi meningkat hingga 15 tindakan pada Desember. Total 51 pasien telah menjalani tindakan operasi.
Dari sisi tata kelola, sejak Januari 2026 rumah sakit resmi menerapkan pola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Realisasi pendapatan Januari 2026 tercatat Rp121,2 juta, sementara hingga 23 Februari 2026 sebesar Rp18,8 juta. Klaim BPJS Januari 2026 senilai Rp78,9 juta masih dalam proses pencairan.
Menurut Wakil Bupati, penerapan BLUD harus diiringi perencanaan SDM yang presisi dan penguatan fasilitas.
“SDM ditambah sesuai kebutuhan riil. Tenaga penunjang seperti radiografer dan dokter spesialis radiologi harus segera dipenuhi. Fasilitas dan sistem informasi juga diperkuat,” tegasnya.
Saat ini rumah sakit telah menggunakan sistem informasi manajemen (SIMGOS) dan mengajukan pembaruan sistem ke Kementerian Kesehatan. Penambahan kapasitas server juga telah dianggarkan pada 2026 untuk menopang peningkatan layanan.
Memasuki tahun kedua, RSUD Gresik Sehati tidak lagi berada pada tahap perintisan, melainkan memasuki fase konsolidasi dan ekspansi layanan. Dengan tren pertumbuhan pasien dan dukungan Pemkab Gresik, rumah sakit ini ditargetkan menjadi penguat layanan kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah Gresik Selatan. (Ink)


