
GRESIK, Investigasi.today – Dentuman musik, gemerlap lampu warna-warni, dan atraksi tari kreasi menyulap jalanan Desa Bulangkulon, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menjadi lautan kemeriahan. Ribuan warga dari tiga dusun turun ke jalan mengikuti karnaval peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang dimeriahkan parade sound horeg.
Sebanyak 12 rombongan sound horeg dari peserta, ditambah satu unit milik Pemerintah Desa (Pemdes) Bulangkulon, mengiringi arak-arakan warga. Setiap perwakilan Rukun Tetangga (RT) juga menampilkan tari kreasi yang menambah semarak perayaan.
Karnaval yang digelar pada 19–20 September 2026 itu melibatkan seluruh 12 RT. Antusiasme warga dari Dusun Bulangkulon, Prambon, dan Mergayu menjadi gambaran kuatnya semangat kebersamaan dalam merayakan kemerdekaan.
Kepala Desa Bulangkulon, Wijianto, mengatakan kegiatan tersebut digelar bersama Karang Taruna sebagai wadah hiburan sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga.
“Perayaan HUT ke-81 RI ini digelar meriah pada 19 dan 20 September hingga sekitar pukul 24.00 WIB. Semua peserta dari 12 RT kompak ikut,” ujar Wijianto, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, parade sound horeg dipilih karena mengikuti perkembangan hiburan yang diminati masyarakat. Namun, daya tarik acara bukan hanya dentuman musik, melainkan juga penampilan kreatif warga dari masing-masing RT.
“Karnaval tahun ini hiburannya sound horeg. Selain itu, ada live performance dari masing-masing RT. Ini murni antusiasme masyarakat untuk memeriahkan HUT RI. Pesertanya ribuan warga dari tiga dusun,” katanya.
Meski berlangsung hingga tengah malam, Wijianto menyebut kegiatan berjalan cukup tertib. Ia menilai pengaturan teknis suara yang diterapkan membuat kegiatan tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat.
“Getarannya tidak terlalu keras sehingga tidak mengganggu masyarakat,” imbuhnya.
Anggaran Besar, Lomba Ditiadakan
Di balik kemeriahan karnaval, Pemdes Bulangkulon juga melakukan penyesuaian agenda. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang menggelar lomba kebersihan antar-RT, perayaan tahun ini difokuskan pada karnaval karena membutuhkan biaya lebih besar.
“Untuk tahun ini kegiatannya hanya 17-an berupa karnaval, tidak ada lomba. Tahun kemarin ada lomba kebersihan antar-RT. Agenda ini dua tahun sekali karena biaya karnaval lebih besar, sehingga kegiatan lainnya belum bisa dilaksanakan,” jelas Wijianto.
Ia menegaskan, meski tidak disertai perlombaan, seluruh RT tetap mendapat ruang untuk menunjukkan kreativitas melalui penampilan masing-masing. Dengan begitu, kemeriahan tidak semata-mata diukur dari kompetisi, tetapi juga dari partisipasi warga.
Pemdes Bulangkulon pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang menjaga ketertiban dan kekompakan selama acara berlangsung.
“Terima kasih kepada seluruh peserta dari 12 RT. Alhamdulillah, semuanya ikut serta. Setelah parade sound horeg, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan masing-masing RT, meskipun tidak dilombakan,” ujarnya.
Bagi Pemdes Bulangkulon, keberhasilan karnaval bukan hanya terletak pada meriahnya hiburan, melainkan juga pada terjaganya kerukunan warga dari tiga dusun.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah desa berharap semangat kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan tahunan. Kekompakan, gotong royong, dan tali silaturahmi yang terbangun diharapkan terus terpelihara dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bulangkulon.
Sebab, di balik dentuman sound horeg dan gemerlap karnaval, ada pesan yang lebih penting: kemerdekaan juga dirayakan dengan menjaga persatuan dan merawat kebersamaan. (Ink)


