Tuesday, March 17, 2026
HomeBerita BaruJatimDari Kirab Budaya hingga Rekor Bandeng 19 Kg, Pasar Bandeng Gresik 2026...

Dari Kirab Budaya hingga Rekor Bandeng 19 Kg, Pasar Bandeng Gresik 2026 Tegaskan Identitas Kota Pudak

Gresik, Investigasi.today – Tradisi Pasar Bandeng kembali menghidupkan denyut budaya dan ekonomi di Kabupaten Gresik. Ribuan warga memadati rangkaian acara yang dimulai dari kirab budaya hingga puncak kontes dan lelang bandeng kawak. Tahun ini, seekor bandeng raksasa seberat 19 kilogram mencetak rekor baru dan menjadi pusat perhatian masyarakat.

Rangkaian kemeriahan diawali dengan kirab budaya yang digelar Pemerintah Kabupaten Gresik untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya melestarikan warisan budaya. Arak-arakan dimulai dari Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Pahlawan, melintasi Jalan Wachid Hasyim, dan berakhir di Alun-Alun Pendopo Gresik.

Kirab tersebut menampilkan berbagai simbol tradisi khas Gresik yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan, yakni Pasar Bandeng, Malam Selawe, Rebo Wekasan Desa Suci, Kupat Keteg, dan Pencak Macan.

Selain diikuti jajaran Forkopimda dan organisasi perangkat daerah, kirab juga semakin meriah dengan tradisi udik-udikan. Sekitar 1.000 ekor bandeng segar serta gunungan sayur dan buah hasil bumi dibagikan kepada masyarakat yang memadati sepanjang rute kirab.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan bahwa penetapan sejumlah tradisi sebagai WBTb menjadi tonggak penting untuk menjaga identitas budaya daerah.

“Dengan ditetapkannya WBTb ini, menjadi komitmen pemerintah daerah dan masyarakat untuk melestarikan serta mewariskannya kepada generasi penerus sehingga menjadi cermin identitas masyarakat Gresik,” ujarnya.

Menurutnya, Pasar Bandeng merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Sunan Giri. Tradisi ini bukan hanya perayaan menjelang Lebaran, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat pesisir.

“Di Gresik saat Lebaran masyarakat tidak membuat opor ayam, tapi memasak bandeng sebagai ciri khas. Bandeng ya Gresik, Gresik ya bandeng,” kata Gus Yani, sapaan akrabnya.

Kemeriahan berlanjut pada kontes dan lelang bandeng kawak yang digelar di kawasan Bandar Grissee. Dalam ajang tersebut, seekor bandeng kawak milik Syaifullah Mahdi dari Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, berhasil mencuri perhatian.

Bandeng dengan berat 19 kilogram dan panjang 114 sentimeter itu dinobatkan sebagai juara pertama sekaligus mencetak rekor baru dalam kontes bandeng kawak Gresik. Ikan tersebut diketahui telah dibudidayakan selama sekitar 17 hingga 18 tahun.

Pada sesi lelang, bandeng juara itu dibeli oleh perusahaan pupuk nasional Petrokimia Gresik dengan nilai Rp50 juta, menjadikannya salah satu momen paling meriah dalam gelaran Pasar Bandeng tahun ini.

Bupati Yani menegaskan bahwa Pasar Bandeng bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari identitas daerah yang memiliki dampak luas bagi masyarakat.

“Festival budaya seperti ini memiliki multiplier effect, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Mudah-mudahan identitas Kabupaten Gresik terus terjaga,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Gresik juga terus mendukung sektor perikanan yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah. Tahun ini, sekitar 9.825 ton pupuk bersubsidi disalurkan untuk petani tambak guna mendukung budidaya bandeng.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman menjelaskan bahwa Pasar Bandeng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025. Pada tahun yang sama, lima tradisi khas Gresik resmi masuk dalam daftar WBTb, yakni Pasar Bandeng, Malam Selawe, Kupat Keteg, Pencak Macan, dan Rebo Wekasan Desa Suci.

Dalam kontes bandeng kawak tahun ini, juara ketiga diraih Zainul Abidin dari Desa Watuagung, Kecamatan Bungah dengan bandeng berbobot 8 kilogram dan panjang 90 sentimeter. Juara kedua diraih Askin dari Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah dengan bandeng berbobot 14 kilogram dan panjang 100 sentimeter.

Syaifullah Mahdi, pemilik bandeng juara, mengatakan bahwa membesarkan bandeng hingga mencapai ukuran raksasa membutuhkan waktu yang panjang dan ketelatenan.

“Bandeng ini masa budidayanya sekitar 17 sampai 18 tahun,” ujarnya.

Kemeriahan Pasar Bandeng semakin terasa dengan berbagai kegiatan budaya, santunan anak yatim, penampilan tari tradisional, hingga hiburan untuk masyarakat. Pengunjung juga disuguhi live cooking oleh chef ternama Rudy Choiruddin serta pembagian 2.000 porsi bandeng lengkap dengan nasi secara gratis.

Melalui kirab budaya, kontes bandeng kawak, hingga lelang yang menyedot perhatian warga, Pasar Bandeng 2026 kembali menegaskan bahwa tradisi di Gresik bukan sekadar dikenang, tetapi terus dihidupkan sebagai simbol kebersamaan dan kekuatan ekonomi masyarakat pesisir. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular