
Gresik, Investigasi.today – Tabir tragedi tenggelamnya perahu nelayan di Perairan Sembilangan, Gresik, akhirnya tersingkap. Setelah lima hari pencarian intensif yang menguras tenaga dan waktu, tim SAR gabungan menemukan korban ketiga dalam kondisi meninggal dunia, Rabu (6/5/2026). Penemuan ini sekaligus menutup operasi pencarian yang sejak awal menyisakan tanda tanya soal keselamatan pelayaran tradisional di wilayah tersebut.
Korban terakhir yang ditemukan diketahui berinisial H. A (60), nelayan asal Kramat Inggil, Gresik. Ia sebelumnya dilaporkan hilang bersama dua anak buah kapal lainnya saat perahu yang mereka tumpangi tenggelam pada Sabtu (2/5/2026). Dari total lima ABK, hanya dua orang yang berhasil selamat—sebuah fakta yang memunculkan pertanyaan serius tentang standar keselamatan di laut.
Kasatpolairud Polres Gresik, AKP I Nyoman Ardita, mengungkapkan bahwa penemuan jenazah bermula dari laporan nelayan yang melihat tubuh mengapung di sekitar lokasi kejadian. Respons cepat langsung dilakukan.
“Begitu ada laporan, tim kami bersama SAR gabungan segera bergerak ke titik координat. Proses evakuasi dilakukan secepat mungkin,” ujarnya.
Jenazah korban ditemukan di sekitar area mercusuar Perairan Sembilangan, berjarak sekitar 15 mil laut dari Pelabuhan Gresik. Lokasi ini dikenal sebagai jalur pelayaran yang cukup padat, namun minim pengawasan ketat terhadap aktivitas perahu kecil nelayan.
Operasi pencarian ini melibatkan kekuatan gabungan lintas instansi: Ditpolairud Polda Jatim, Satpolairud Polres Gresik, Basarnas, BNPB, Kamladu, hingga relawan masyarakat pesisir. Koordinasi intensif di lapangan menjadi kunci dalam menyisir area laut yang luas dengan kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat.
Setelah berhasil dievakuasi, jenazah korban langsung dibawa ke RSUD Ibnu Sina Gresik untuk proses identifikasi dan visum. Dengan ditemukannya korban terakhir, seluruh korban dalam insiden ini dipastikan telah terdata.
“Operasi SAR resmi kami tutup. Semua korban sudah ditemukan,” tegas AKP Nyoman.
Meski operasi telah berakhir, insiden ini menyisakan catatan penting. Tenggelamnya perahu yang mengangkut lima ABK ini kembali menyoroti lemahnya sistem keselamatan pelayaran nelayan tradisional—mulai dari kelayakan kapal hingga minimnya alat keselamatan standar.
Selama proses pencarian berlangsung, situasi di lapangan dilaporkan aman dan terkendali. Namun di balik itu, tragedi ini menjadi pengingat keras: laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga menyimpan risiko besar yang kerap diabaikan. (Ink)


