Wednesday, April 1, 2026
HomeBerita BaruJatimCegah Stunting dari Desa, Cargill Dorong Gerakan Komunitas di Gresik

Cegah Stunting dari Desa, Cargill Dorong Gerakan Komunitas di Gresik

Gresik, Investigasi.today – Penurunan angka stunting secara nasional belum sepenuhnya menandai berakhirnya persoalan gizi kronis pada anak. Di sejumlah desa, persoalan ini masih berkaitan erat dengan pola asuh, keterbatasan pengetahuan gizi, hingga dinamika sosial ekonomi keluarga.

Pengalaman enam desa di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak cukup mengandalkan layanan kesehatan semata. Dibutuhkan pendekatan jangka panjang yang memperkuat pengetahuan keluarga sekaligus membangun peran aktif komunitas.

Selama empat tahun terakhir, PT Cargill Indonesia menjalankan program promosi dan pencegahan stunting berbasis desa melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Program yang dimulai sejak 2022 itu kini menuntaskan fase kedua dengan memperluas cakupan desa serta memperdalam pendekatan berbasis komunitas.

“Program ini sejak awal dirancang untuk mendorong pencegahan stunting yang berangkat dari desa. Penekanannya pada penguatan pengetahuan dan peran komunitas,” ujar Adi Suprayitno, Admin and Relations Manager PT Cargill Indonesia.

Dari Tiga Desa ke Enam Desa

Pada fase awal, program difokuskan di tiga desa di Kecamatan Manyar. Memasuki fase kedua, cakupan diperluas menjadi enam desa dengan menggandeng Penala Samahita Parma (Penala) sebagai mitra pelaksana.

Enam desa yang menjadi lokasi program meliputi:
• Manyarejo
• Manyarsidomukti
• Manyarsidorukun
• Peganden
• Leran
• Banjarsari

Seluruh desa tersebut berada di Kecamatan Manyar, kawasan penyangga industri di Kabupaten Gresik yang memiliki dinamika sosial cukup kompleks.

Penutupan fase kedua program dikemas dalam kegiatan bertajuk “Penutupan Program Promosi dan Pencegahan Stunting di Desa Fase 2: Refleksi dan Strategi ke Depan”, yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal di Hotel Horison Gresik, Senin (30/3/2026).

Forum ini menjadi ruang refleksi bersama antara pemerintah daerah, komunitas desa, dan para pemangku kepentingan untuk membahas keberlanjutan program pencegahan stunting di tingkat lokal.

Kolaborasi Jadi Kunci

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara parsial.

Menurutnya, persoalan stunting merupakan isu multidimensi yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor.

“Penurunan stunting ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Tidak cukup hanya pemerintah daerah, tidak cukup Dinas Kesehatan, tidak cukup KBPPPA, dan tidak bisa hanya perusahaan. Ini harus kolaboratif,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar seluruh program yang dijalankan benar-benar menghasilkan dampak nyata.

“Target utama kita adalah penurunan stunting. Program boleh banyak, relawan boleh banyak, tapi kalau tidak berdampak, itu yang harus kita evaluasi,” ujarnya.

Tantangan Nyata di Lapangan

Tema yang diusung dalam program ini adalah “Rukun Desane, Guyub Wargane, Ambalas Stuntinge”.

Tema tersebut menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan persoalan sosial yang memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional menurun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.

Di Kabupaten Gresik, angka stunting juga menunjukkan penurunan dari 15,4 persen menjadi 15,2 persen.

Namun menurut Cargill, angka tersebut tidak boleh dibaca secara terlalu optimistis.

“Angka hanyalah satu sisi dari persoalan. Di lapangan, tantangan perubahan perilaku dan kesenjangan akses layanan masih nyata,” kata Adi.

Ketika Orang Tua Bekerja di Industri

Hasil pemantauan program di enam desa menunjukkan bahwa stunting juga dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga.

Di Kecamatan Manyar, banyak orang tua bekerja di sektor industri sehingga waktu pengasuhan anak relatif terbatas.

Sebagian keluarga juga merupakan pendatang yang belum sepenuhnya terhubung dengan sistem layanan kesehatan maupun mekanisme sosial di desa.

Selain itu, pemahaman mengenai gizi seimbang bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan remaja putri masih menjadi tantangan di tingkat komunitas.

Laskar Cegah Stunting

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, program CSR Cargill lebih menitikberatkan pendekatan promotif dan preventif melalui edukasi serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Salah satu strategi utama yang dikembangkan adalah pembentukan Laskar Cegah Stunting, kelompok penggerak berbasis komunitas.

Kelompok ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, antara lain:
• kader PKK
• bidan desa
• penyuluh keluarga berencana
• kader kesehatan

Hingga saat ini, sebanyak 42 kader dari enam desa telah mendapatkan pelatihan komunikasi perubahan perilaku serta pendampingan praktik kesehatan keluarga.

Para kader tersebut menjalankan berbagai kegiatan edukasi, seperti Kelas Ibu Menyusui dan Kelas Parenting Balita PAUD yang berlangsung secara rutin setiap bulan.

Program ini telah menjangkau sekitar 452 ibu menyusui dan 440 balita PAUD di enam desa sasaran.

Forum Rembuk Stunting Desa

Inisiatif lain yang berkembang adalah pembentukan forum rembuk stunting desa, ruang dialog lintas pemangku kepentingan yang melibatkan pemerintah desa, PKK, tokoh masyarakat, RT/RW, hingga kader posyandu.

Forum ini berfungsi menyelaraskan isu stunting dengan perencanaan serta penganggaran pembangunan desa.

Melalui forum tersebut, isu kesehatan anak diharapkan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari agenda pembangunan desa secara menyeluruh.

“Penguatan pengetahuan di tingkat komunitas menjadi prasyarat penting bagi perubahan perilaku hidup sehat,” ujar Adi.

Menuju Target Nasional

Pendekatan berbasis komunitas ini juga sejalan dengan agenda nasional penurunan stunting menuju Indonesia Emas 2045, yang menargetkan prevalensi stunting sebesar 5 persen.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), pemerintah menetapkan target jangka menengah prevalensi stunting sebesar 14,2 persen pada 2029.

Melalui penguatan komunitas dan kolaborasi multipihak, upaya penurunan stunting di tingkat desa diharapkan dapat berlangsung lebih berkelanjutan.

“Kami tidak ingin hadir hanya sebagai donor program. Kami berupaya membangun nilai bersama dan transformasi sosial di komunitas sekitar,” tutup Adi. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular