
Gresik, Investigasi.today – Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi yang disebut telah berlangsung sejak 1483 pada masa Sunan Giri itu menjadi penanda panjang perjalanan sejarah keagamaan, budaya, sekaligus kehidupan masyarakat Desa Suci.
Selama lima hari, Sabtu-Rabu (8-12 Agustus 2026), ribuan warga kembali menghidupkan tradisi yang diwariskan lintas generasi tersebut. Rangkaian kegiatan tidak hanya berpusat pada ritual keagamaan, tetapi juga menghadirkan kirab, pasar rakyat, serta aktivitas UMKM yang melibatkan masyarakat setempat.
Sekretaris Desa Suci, Mohammad Miftach, mengatakan rangkaian Rebo Wekasan 2026 diawali dengan ziarah ke makam para sesepuh Desa Suci pada Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an pada Minggu (9/8/2026) di Pendopo Balai Desa, masjid, dan musala yang tersebar di Desa Suci.
“Senin 10 Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan Khotmil Qur’an di Masjid Mambaut Tho’at mulai pukul 05.00 WIB, kemudian pada pukul 19.00 WIB dilaksanakan Kirab Tumpeng Agung dari Pendopo Balai Desa menuju Masjid Mambaut Tho’at,” kata Miftach, Kamis (12/8/2026).
Rangkaian berikutnya berlangsung Selasa-Rabu (11-12/8/2026). Masyarakat menggelar pasar dan kegiatan UMKM di lapangan Desa Suci hingga sepanjang Jalan KH Syafi’i. Pada waktu yang sama, pembacaan Ratib digelar di Masjid Mambaut Tho’at.
Namun, di balik kemeriahan tersebut terdapat sejarah panjang yang menjadi alasan mengapa Rebo Wekasan begitu kuat dipertahankan masyarakat Desa Suci.
Berawal dari Pencarian Sumber Air
Menurut sejarah yang dimuat Pemerintah Desa Suci, kisah tersebut berkaitan erat dengan masa Kanjeng Sunan Giri.
Saat itu, Sunan Giri menugaskan muridnya, Syeikh Jamaludin Malik, untuk menyebarkan ajaran Islam ke wilayah sebelah barat Giri.
Syeikh Jamaludin Malik kemudian mendirikan masjid yang berkembang menjadi pusat pendidikan dan pesantren. Seiring bertambahnya jumlah santri, kebutuhan air meningkat. Sementara sumber air yang tersedia kala itu tidak lagi mencukupi.
Syeikh Jamaludin Malik kemudian meminta petunjuk kepada Sunan Giri.
Dalam kisah yang diwariskan masyarakat, Sunan Giri mengarahkannya berjalan ke utara hingga menemukan kawasan yang dipenuhi pepohonan. Di tempat itulah ditemukan sumber air yang jernih dan melimpah.
Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Kampung Suci, yang dipercaya menjadi cikal bakal Desa Suci.
Dari sinilah sumber air tidak hanya menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga melekat dalam sejarah lahirnya tradisi Rebo Wekasan.
Sunan Giri kemudian disebut menggelar ritual tahunan setiap Rabu terakhir atau Rebo Wekasan di masjid tersebut sebagai bentuk syukur atas ditemukannya sumber air sekaligus bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat.
Bukan Sekadar Tradisi, tetapi Identitas Desa
Miftach menjelaskan, Rebo Wekasan digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Suci.
“Tradisi Rebo Wekasan yang dilakukan masyarakat Desa Suci berlangsung setiap Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat dan diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, bentuk perayaannya pun semakin beragam. Tradisi keagamaan kini berpadu dengan kegiatan budaya dan ekonomi masyarakat, mulai dari kirab tumpeng hingga pasar rakyat dan UMKM.
Dengan demikian, Rebo Wekasan tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga ruang bertemunya sejarah, budaya, masyarakat, dan aktivitas ekonomi lokal.
Telah Masuk WBTb Indonesia
Eksistensi Rebo Wekasan Desa Suci kini mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Pada 2025, Rebo Wekasan Desa Suci ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dalam domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan. Persebarannya tercatat berada di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Rebo Wekasan menjadi salah satu dari lima karya budaya asal Gresik yang ditetapkan sebagai WBTb Indonesia pada 2025. Empat lainnya adalah Pasar Bandeng, Malam Selawe, Pencak Macan, dan Kupat Keteg.
Bagi masyarakat Desa Suci, pengakuan tersebut bukan sekadar predikat. Ia menjadi penegasan bahwa tradisi yang tumbuh dari sejarah lokal mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.
Selama lebih dari lima abad, Rebo Wekasan terus diwariskan.
Dari kisah Sunan Giri, pencarian sumber air, hingga menjadi tradisi budaya yang kini tercatat sebagai WBTb Indonesia, Rebo Wekasan Desa Suci menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat bertahan bukan hanya karena usia, tetapi karena masyarakatnya terus memberi makna dan menjaganya tetap hidup. (Ink)


