Sunday, August 30, 2026
HomeBerita BaruJatimGunungan Hasil Bumi Diarak, Warga Kendal Gresik Tumpahkan Syukur dalam Sedekah Bumi

Gunungan Hasil Bumi Diarak, Warga Kendal Gresik Tumpahkan Syukur dalam Sedekah Bumi

Gresik, Investigasi.today – Aroma nasi tumpeng, hasil bumi, dan semangat gotong royong menyatu dalam tradisi sedekah bumi Dusun Kendal, Desa Dungus, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik.

Ratusan warga tumpah ke jalan mengikuti kirab gunungan hasil bumi dan puluhan ancak berisi nasi tumpeng lengkap dengan aneka lauk, Sabtu (29/8/2026). Dari Gapura Dusun Kendal menuju Balai Dusun, iring-iringan warga bergerak dalam suasana meriah, guyub, sekaligus penuh rasa syukur.

Bagi masyarakat Kendal, sedekah bumi bukan sekadar agenda tahunan. Di balik gunungan yang diarak dan tumpeng yang dipikul warga, tersimpan ungkapan syukur atas rezeki yang mereka terima sepanjang tahun.

Tradisi leluhur itu bahkan tetap dipertahankan di tengah situasi ekonomi yang tidak selalu mudah. Warga memilih merawat kebersamaan dan berbagi dari apa yang mereka miliki.

Kirab semakin semarak dengan penampilan tarian tradisional yang dibawakan ibu-ibu dan para remaja putri. Warga dari berbagai usia ikut ambil bagian, menjadikan jalanan dusun seolah berubah menjadi panggung budaya masyarakat.

Kepala Dusun Kendal, Sukardi, mengatakan sedekah bumi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta atas berkah, rezeki, serta hasil bumi yang diberikan selama setahun.

“Ini adalah wujud syukur warga Dusun Kendal atas hasil bumi dan rezeki yang selama ini kami peroleh. Rasa syukur itu kami wujudkan dengan bersedekah dari hasil sawah dan kebun warga sendiri,” ujar Sukardi.

Menurutnya, berbagai hasil bumi dikumpulkan warga dalam ambeng atau ancak. Isinya beragam, mulai ubi-ubian, kacang, ketela, pisang hingga polo pendem.

Tidak ada ukuran besar-kecil dalam sedekah tersebut. Warga membawa apa yang mereka punya dan kemudian mengumpulkannya untuk dinikmati bersama.

“Warga membawa apa yang mereka miliki dari hasil bumi. Semua dikumpulkan dalam ambeng sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur bersama,” katanya.

Rangkaian tradisi tersebut telah dimulai sehari sebelumnya, Jumat (28/8/2026), melalui pengajian dan istighosah bersama KH Ali Mas’ud dari Gresik.

Puncaknya berlangsung Sabtu dengan tasyakuran, kirab gunungan dan ancak, kemudian dilanjutkan pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dalang Kelana Ilham Firmansyah dari Pasuruan.

Setelah melewati prosesi kirab dan doa bersama, gunungan serta ancak tumpeng akhirnya kembali pada makna paling sederhana dari tradisi itu: berbagi.

Warga duduk bersama, bercengkerama, dan menikmati makanan yang sebelumnya mereka bawa sebagai bentuk sedekah. Sekat sosial pun seolah melebur dalam satu meja kebersamaan.

Kepala Desa Dungus, Didik Kasiyanto, mengapresiasi kekompakan warga Dusun Kendal yang mampu mempertahankan tradisi tersebut secara swadaya dan gotong royong.

Terlebih, sedekah bumi tahun ini berlangsung dalam momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Saya sangat mengapresiasi warga Dusun Kendal yang tetap guyub dan rukun. Kegiatan ini bisa terselenggara berkat semangat gotong royong dan swadaya masyarakat,” tutur Didik.

Menurut Didik, kekuatan sedekah bumi bukan hanya terletak pada kemeriahan kirab maupun pagelaran wayang kulit. Ada nilai kebersamaan yang jauh lebih penting untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Tradisi seperti ini harus terus dijaga. Selain sebagai wujud rasa syukur, sedekah bumi juga menjadi ajang silaturahmi dan memperkuat kebersamaan warga, sekaligus melestarikan tradisi leluhur,” ungkapnya.

Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, semangat berbagi justru menjadi pesan kuat dari sedekah bumi Kendal. Warga menunjukkan bahwa rasa syukur tidak harus menunggu berlebih.

Dari hasil sawah, kebun, dan dapur masing-masing, mereka membawa sebagian untuk dibagikan dan dinikmati bersama.

“Situasi ekonomi boleh tidak mudah, tetapi rasa syukur warga atas rezeki dan berkah selama setahun ini tidak berkurang. Justru kebersamaan seperti inilah yang harus terus kita rawat,” pungkas Didik.

Sedekah bumi pun kembali menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi tidak sekadar hidup karena diwariskan, tetapi karena masih memiliki makna bagi masyarakat yang menjalaninya: bersyukur, berbagi, dan menjaga keguyuban. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular