Monday, February 23, 2026
HomeBerita BaruJatimPeringati Hari Cinta Puspa dan Satwa: 6 Ekor Rusa Bawean Dilepas liarkan...

Peringati Hari Cinta Puspa dan Satwa: 6 Ekor Rusa Bawean Dilepas liarkan ke Habitat Aslinya

Gresik, investigasi.today – Semakin berkurangnya Rusa Bawean di habitat aslinya membuat Balai Besar Konvervasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, beserta sejumlah lembaga konservasi di Jawa Timur dan pegiat satwa bersama-sama melepaskan sebanyak 6 ekor hewan bernama latin Axis Kuhlii ini ke habitat aslinya di Desa Pudakit Timur Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean Gresik.

Total ada 6 ekor Rusa Bawean yang dilepasliarkan. Hewan endemik Pulau Bawean tersebut berasal dari penangkaran Sudirman Bawean sebanyak 4 ekor (2 ekor jantan, 2 ekor betina) dan 2 ekor (betina) dari  Lembaga Konservasi Maharani Zoo dan Goa Lamongan.

Kesemua rusa sudah melalui proses observasi selama satu bulan sebelum siap dilepasliarkan. Sebelum dilepas, rusa yang termasuk satwa dilingdungi ini sudah dipasang radio-transmitter sebagai langkah pengawasan. Pelepasliaran ini bertepatan dengan hari Cinta Puspa dan Satwa, 5 November 2017. 

Herry Subagiadi, Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan, pelepasliaran Rusa Bawean merupakan bentuk perhatian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam melestarikan adanya Rusa Bawean agar keberadaanya tidak punah.

“Rusa Bawean adalah jenis rusa terkecil dan bersifat unik, serta hanya ada satu-satunya di dunia  yakni di Pulau Bawean. Sehingga oleh  International Union for Conservation of Nature (IUCN) Rusa Bawean ditetapkan sebagai spesies yang terancam punah, dan oleh pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai satwa yang dilindungi,” Jelas Herry, Minggu (5/10/2017).

Herry menambahkan, walau Rusa Bawean sudah memiliki status dilindungi bukan berarti tidak diperbolehkan azas pemanfaatan. “Tetap boleh dimanfaatkan. Hanya harus melalui mekanisme seperti penangkaran,” imbuhnya.

Hasil penelitian Rahman dkk (2014) populasi Rusa Bawean tinggal 275 ekor. Sedangkan berdasarkan monitoring (BBKSDA) Jatim data tahun 2016 diperkirakan tinggal 303 ekor. Mesti ada kenaikan jumlahnya. Namun itu masih terbilang sedikit. Oleh sebab itu, saat ini Rusa Bawean termasuk satu dari empat spesies prioritas yang populasinya akan ditingkatkan sebesar 10% sampai tahun 2019.

Sementara itu, pengelolah Penangkaran Rusa Bawean Desa Pudakit Timur Sudirman menuturkan kisahnya dalam mengembangbiakan Rusa Bawean secara tradisional. “Awalnya hanya ada 1 ekor rusa. Itu pun yang saya peroleh dari warga,” tuturnya.

Kebetulan satu ekor rusa Bawean itu berjenis kelamin betina dan dalam kondisi hamil. “Mungkin memang sudah jodoh. Tak berselang lama melahirkan,” ucapnya. Sudirman lantas membuat penangkaran dengan luas 60 meter kali 60 meter. Saat ini total ada 39 ekor rusa yang di ada dipenangkaran.

Rusa Bawean sendiri memiliki masa mengandung selama 6 bulan. Itu pun belum tentu berhasil melahirkan. Jadi, perkembangbiakannya membutuhkan waktu yang cukup lama.  

“Setiap ada rusa yang tertangkap warga langsung saya minta untuk dirawat. Tentu saya harus mengantinya dengan daging sapi. Pernah saya ganti 15 daging sapi,” tuturnya.

Satu hal yang membuat Sudirman gelisah saat ini adanya wacana yang berkembang untuk memasukkan rusa timor (Cervus timorensis) ke Bawean sebagai satwa penangkaran. Ia khawatir, jika rusa timor terlepas dan masuk hutan dapat merusak genetik asli Rusa Bawean. “Nanti tidak endemik lagi kalau dicampur dengan rusa jenis lain,” ujarnya penuh khawatir.

Sudirman berharap lokasi penangkaran rusa dapat berkembang menjadi kawasan ekowisata dan agrowisata. Untuk itu ia meminta kepada para pemangku kepentingan dapat memberikan bimbingan agar harapannya tersebut dapat terwujud. “Saya ingin membuat penginapan yang ada kolam renangnya. Jadi para pengunjung bisa mandi sekaligus melihat rusa,” harapnya. (Rosid/luhung)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular