Ciptakan Jam Dinding Digital Penanda Waktu Sholat, Pemuda Gifted Gresik Beromzet Puluhan Juta

0
Hanif Arriasi Mukhlis bersama orang tuanya

Gresik, Investigasi.today – Pemuda berkecerdasan istimewa (Gifted red-), asal Perumahan GKB, Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur berhasil menciptakan Jam dinding digital penanda waktu sholat Lima waktu disertai running teks yang biasanya dipasang di Masjid dan Mushola.

Hanif Arraisi Mukhlis (18) yang mempunyai IQ diatas rata-rata (144 red-) ini mengaku menciptakan alat tersebut pada tahun 2014, sejak kelas II SMP (Home Schooling) secara otodidak melalui internet.

Saat ditemui dirumahnya, Jl Pati, nomor 32, Perum GKB, anak dari pasangan Ahmad Mukhlis dan Anik Luthfiyah ini, terlihat sibuk meng-otak-atik laptopnya. Dia sedang membuat program software baru sebagai penyempurna program serupa sebelumnya.

Hanif menjelaskan, software barunya ini merupakan inovasi baru yang mempunyai tiga warna di running teks jam digitalnya, yang sebelumnya hanya satu warna.” Ini lagi membuat program baru tiga warna dan menambah fiturnya. Tinggal penyempurnaannya,” ungkapnya (10/7) kemarin.

Dibutuhkan waktu tiga bulan serta ketelitian dan kesabaran ekstra untuk membuat program sofwere baru tersebut. Jika tidak hati-hati dan ada kesalahan sedikit saja, maka diperlukan waktu seminggu mencari kesalahan tersebut.

“Kendalanya kalau ada salah sedikit, carinya bisa sampai seminggu. Tapi kalau sudah tahu, sangat mudah membuatnya,” jelasnya.

Meski perakitan hardwarenya masih manual, karya Hanif ternyata sudah laku terjual 300 unit diseluruh Indonesia dan pemasarannya dilakukan sendiri bersama ayahnya, baik door to door maupun via online.

Hanif Arriasi Mukhlis bersama ayahnya saat merancang jam dinding digital

“Pembelinya dari seluruh Indonesia, mulai dari Papua, Kalimantan, Sumatra dan daerah lainnya. Kebanyakan pembelinya rata-rata dipasang di masjid dan mushola, tapi ada juga yang pribadi untuk dipasang dirumahnya,” tutur Ahmad Mukhlis (48, ayah Hanif) sambil membantu merakit hasil karya anaknya ini.

Selain ikut merakit hardware, Ahmad Mukhlis juga membantu pemasaran melalui online. Dia menceritakan, awalnya alat tersebut ditawarkan melalui orang per-orang tapi belum ada peminat. Akhirnya Ia mencoba memasarkan di online, ternyata dalam waktu sehari langsung ada yang datang kerumahnya untuk membeli.

“Saat ini omset rata- ratanya Rp 10 juta perbulan, kalau pas bulan puasa biasanya ramai. Omsetnya bisa sampai Rp 30 – 40 juta,” tandas Mukhlis.

Saat ditanya kelebihan jam dinding hasil karya anaknya, Mukhlis menjelaskan bahwa jam dinding digital karya anaknya ini dari segi harga lebih murah, sebab jam tersebut biasanya diproduksi dari pabrik harganya bisa diatas 2 juta. Sedang harga jam dinding milik anaknya hanya 550 ribu. yang paling mahal-pun kisaran 1,2 juta.

Kelebihan lainnya adalah fiturnya lebih lengkap dan cara pengoperasiannya lebih mudah. “Ini settingnya kami permudah cukup menggunakan remot, dan ada buku panduan untuk cara pengoperasiannya,” jelasnya

Meski banyak peminat, Mukhlis mengaku ada beberapa kendala yang dihadapi. Salah satunya saat pengiriman, karena kemasannya kurang bagus dan dari pihak Jasa pengiriman barang kurang hati-hati, akibatnya barang tersebut rusak sebelum diterima pembeli.

“Kadang saat sudah dikirim melalui paket, pihak pembeli protes Karena barangnya disana tidak berfungsi,” pungkasnya. (Salvado)