Sunday, August 31, 2025
HomeBerita BaruNusantaraDijamas Tiap Tahun, Ini Tiga Pusaka Milik Pendiri Ponorogo

Dijamas Tiap Tahun, Ini Tiga Pusaka Milik Pendiri Ponorogo

Ponorogo, Investigasi.today – Jelang bulan Suro setiap tahunnya, di Bumi Reog selalu digelar jamasan untuk tiga benda pusaka milik pendiri Kabupaten Ponorogo, Raden Batoro Katong. Benda pusaka itu yakni Tombak Kiai Tunggul Nogo, Sabuk Angking Cinde Puspito dan Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung.

Penjamasan ketiga benda pusaka itu dilakukan di Paseban Alun-alun. Sebelum dijamas atau dibersihkan, pusaka-pusaka itu dikirabkan mulai dari komplek Makam Raden Batoro Katong hingga Paseban Alun-alun Ponorogo.

“Kirab tiga pusaka ini merupakan simbol perpindahan pusat pemerintahan dari Kota Lama ke Kota Tengah,” kata Budayawan Ponorogo, Sunarso, Selasa (18/7/2023).

Tombak Kiai Tunggul Nogo, Sabuk Angking Cinde Puspito, dan Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung merupakan tiga pusaka yang digunakan Raden Batoro Katong dalam babat Ponorogo. Sampai sekarang, pusaka-pusaka itu terus dirawat dan disimpan di Rumah Dinas Bupati di Pringgitan.

Pusaka Tombak Kiai Tunggul Nogo memiliki panjang kurang lebih 3 meter. Ujung tombak berbentuk runcing menyerupai keris. Konon, dulunya pusaka ini milik Raja Majapahit Brawijaya V. Hingga akhirnya dimiliki oleh Raden Batoro Katong yang masih keturunan dari Raja Majapahit tersebut.

Sabuk Angking Cinde Puspito merupakan pusaka berbentuk kain. Dulu, pusaka ini sering dipakai oleh Raden Batoro Katong saat menjabat sebagai Adipati Ponorogo.

Sementara Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung, pusaka yang memiliki panjang kurang lebih 3 meter. Pusaka ini hampir sama dengan Tombak Kiai Tunggul Nogo. Bedanya, jika tombak itu ujungnya seperti keris namun untuk pusaka ini berbentuk payung.

Prosesi enjamasan untuk ketiga pusaka milik pendiri Ponorogo ini, selalu menyedot perhatian masyarakat. Mereka pun berduyun-duyun berada di pinggir jalan yang dilewati ketiga pusaka ketika dikirab.

Di tempat penjamasan yakni di Paseban Alun-alun pun juga sama. Masyarakat juga ingin melihat prosesi jamasannya. (Laga)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular