Disegel Warga, Siswa SDN Bancamara II Belajar Tanpa Alas di Lantai Balai Desa

0


Teks foto ; para siswa saat belajar di lantai balai desa

SUMENEP, Investigasi.Today – Penyegelan yang dilakukan oleh sejumlah warga terhadap Sekolah Dasar Negeri Bancamara II Kecamatan Dungkek, Pulau Giliyang, Sumenep Madura Jwa Timur pada Senin malam lalu berdampak terhadap proses kegiatan belajar dan mengajar.

Setelah koordinasi dengan dinas pendidikan, akhirnya kepala sekolah mengambil inisiatif dengan mengalihkan proses belajar mengajar di tempat lain.

‘’Kegiatan belajar mengajar harus tetap berlangsung, untuk sementara kita mumpung di balai desa,” ujar Kasek SDN Bancamara II, Imam Dainuri saat dihubungi melalui seluler, Selasa (18/9) kemarin.

Imam Dainuri juga menyampaikan “ sebanyak 62 siswa harus belajar dengan duduk di lantai tanpa alas di teras balai desa tanpa alas,” ungkapnya.

Sejumlah wali murid tampak mendampingi putra putrinya di sekitar balai desa.

SDN Bancamara II dengan jumlah siswa 62 anak, 2 guru PNS, 8 Guru honorer termasuk penjaga sekolah berharap pemerintah segera turun untuk menyelesaikan masalah ini.

Imam Dainuri mengaku tidak dapat berbuat apa-apa, karena tugasnya hanya sebagai penangggung jawab proses belajar mengajar di sekolah saja. Dia juga mengaku sudah sering ditemui pihak ahli waris untuk menyampaikan permasalahan ini.

‘’Saya sudah menyampaikannya ke kepala desa juga melapor ke Dinas Pendidikan. Saat monitoring di tiga Instansi (Inspektorat, Disdik dan DPPKA) itu, saya juga sudah menyerahkan semua dokumen sekolah,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya , Sekolah Dasar Negeri Bancamara II di Kecamatan Dungkek, Pulau Giliyang Sumenep, di segel sejumlah warga desa setempat pada Senin (17/9) malam.
Mereka mengklaim sebagai ahli waris atas tanah yang di tempati bangunan sekolah tersebut.

Ahli waris menutup pagar gerbang sekolah menggunakan palang yang terbuat dari bambu dan diatasnya bertuliskan “Tanah ini Milik Ahli Waris Munahyon Kohir No. 1096 Persil NO 44 Kelas 1 D dengan luas kurang lebih 0162 ha ( 1620M2 ) yang tertulis atas nama Bakin.

Sejak didirikan Gedung SDN Bancamara II, belum ada pembayaran hak tanah dan dari tahun 1961 hingga 2018 di kuasai oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep.

Selain itu ahli waris juga menyegel semua ruangan sekolah tersebut dengan menggunakan bambu yang di paku . Sehingga tidak satupun warga yang bisa masuk keruangan tersebut termasuk anak sekolah.

Saat dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Desa Bancamara, Alwi mengatakan “benar, yang menyegel itu katanya bagian dari ahli waris,” ujarnya via seluler.

Menurutnya sekitar dua tahun yang lalu, Munahyun telah menunjukkan bukti kepemilikan lahan yang saat ini di atasnya terbangun gedung SDN Bancamara II. Bahkan saat itu juga sempat akan melakukan penyegelan, namun aksi itu bisa dihentikan karena adanya mediasi.

‘’Saya juga sudah ke dinas pendidikan dan camat, meminta agar persoalan ini segera diselesaikan. Karena saya juga tidak tahu, apakah tanah itu ditempati sekolah dengan akad sewa atau kontrak,” terangnya.

Hanya saja, hingga tahun 2018 belum ada kejelasan dari dinas pendidikan. Sehingga ahli waris melakukan penyegelan, mungkin sudah memuncak. “Kami hanya kasihan, karena yang menjadi korban adalah siswa,” tandas Alwi .

Dilihat dari dokumen yang ada, Munahyun masih masuk salah satu ahli waris. Tanah tersebut katanya atas nama Amsil, Sementara Amsil memiliki empat saudara termasuk orang tua Munahyun. Namun ketiganya tidak memiliki keturunan.

‘’Yang memiliki anak hanya orang tuanya Munahyun itu, kami berharap persoalan ini segera diselesaikan,” pungkasya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, A.Shadik melalui Kabid Dikdas belum bisa memberikan penjelasan, saat dihubungi sedang rapat.

“Maaf mas, ini sedang rapat,” katanya singkat dan langsung menutup sambungan telpon. (Fathor)