Gubernur Jatim: Kita Harus Gotong-Royong Cari Solusi Tekan Penyebaran Covid-19

0

Surabaya, Investigasi.today – Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa masyarakat harus bekerjasama, saling gotong-royong mencari solusi yang terbaik bagi perlindungan masyarakat di Surabaya khususnya dan di Jatim umumnya dalam menekan penyebaran covid-19.

Lebih lanjut dikatakannya, waktu awal-awal sering kali disampaikan bagi pasien yang positf kalau bisa isolasi mandiri, namun dari berbagai diskusi menyampaikan isolasi mandiri itu harus di cek keberadaan rumah masing-masing suspect, kalau rumahnya tidak terlalu luas, belum tentu satu orang punya satu kamar, maka isolasi mandiri itu tidak menjadi solusi yang efektif, maka kemungkinan satu rumah akhirnya bisa terinfeksi semua, dan itu yang menjadikan semakin bertambahnya angka pasien positif.

“Sejak awal sudah kami menyiapkan PBSDM Pemprov Jatim sebagai tempat isolasi mandiri, karena di situ ada danau kecil, ada tempat ngegym, ada jogging trap, artinya suasana itu dimungkinkan untuk saling mencari sesuatu yang bisa memberikan suasana rekreatif, karena imunitas tubuh akan terbantu kalau suasana lebih bahagia, lebih rekreatif,” katanya.

Namun saat ini, BPSDM lebih digunakan oleh tenaga migran Indonesia yang harus diobservasi, tapi sesungguhnya ini akan menjadi salah satu ruang tempat dimana mereka yang sudah terkonfirmasi PDP. Selain itu, di rumah sakit Unair juga telah disiapkan ruangan khusus untuk ibu dan anak, atau keluarga dan anak yang sama-sama positifnya.

Tingginya angka pasien positif di Surabaya

Seperti diketahui saat ini angka pasien positif di Surabaya lebih tinggi dari daerah lain di Jatim, hal ini dikarenakan faktor munculnya yang tadinya pasien reaktif namun setelah dilakukan swab dan di PCR sehingga ada yang positif.

Jatim sudah mendapatkan support TCM (tes cepat molekuler) ada di Kediri, Bojonegoro, Jember, Pamekasan. Dan juga mendapatkan support tambahan mesin PCR tes dari 3 menjadi 6, dan tiga hari lalu mendapatkan lagi mobil yang di dalamnya ada 4 mesin PCR tes, sehingga bisa menghitung percepatan yang bisa dilakukan oleh kabupaten/kota di Jatim untuk bisa dilakukan swab dan langsung bisa dilakukan PCR tes.

Jadi kesemuanya menjadi satu kesatuan sehingga angka yang terkonfirmasi positif bisa dideteksi di titik-titik mana dan dari cluster mana dan ini menjadi penting untuk segera melakukan treasing ulang dan penyiapan tretment secara kuratif dari layanan-layanan kesehatan yang ada di 99 rumah sakit rujukan di Jatim.

“Misalnya dari proses treasing yang dilakukan cukup masif, maka memang harus berseiring dengan layanan kuratif. Berapa bed sekarang siap, berapa bed yang punya negatif preser, berapa ruang isolasi yang ada, dari kemungkinan-kemungkinan kebutuhan. Dan hari ini menambah PCR tes secara komulatif, juga baru mendapatkan support reagens dari gugus tugas pusat ada 49.200 reagens, ada 49.200 extrak, begitu juga TCM dan soft tes,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk menampung pasien positif, pemprov Jatim menyiapkan rumah sakit maksimum kapasiti bisa menampung sampai 500 pasien, tentu harapannya tidak sampai penuh. Tetapi kalau memang ini harus mendapatkan layanan kuratif maka harus menyiapkan segala sesuatunya termasuk adalah tenaga kesehatan.

“Pemprov telah merekrut sejak April-Maret lalu dan sebanyak 470 tenaga kesehatan ini sebetulnya kita siapkan baik untuk RSUA, dan rumah sakit yang didalam koordinasi pemprov ada 5 RS, kemudian sekarang kita siapkan untuk rumah sakit lapangan atau rumah sakit darurat. Jadi relatif kita sebetulnya sudah menyiapkan sejak akhir maret tenaga kesehatannya,” tambahnya. (lg)