Pertama di Indonesia, Tim Inovasi Petrokimia Gresik Ciptakan Kalibrator Wet Test Meter

0
Miniatur kaibrator WTM Petrokimia Gresik

Wet Test Meter (WTM) merupakan alat wajib yang digunakan dalam mengalisa kualitas gas, dan untuk mendapatkan hasil yang akurat, alat ini harus rutin dikalibrasi. Problemnya, industri pengguna/penghasil gas di Tanah Air masih harus terbang ke Negara Jerman untuk melakukan kalibrasi lantaran belum tersedianya kalibrator WTM di Indonesia. Sekarang, hasil inovasi Petrokimia Gresik (PG) mampu menjadi solusi efisiensi

Gresik, Investigasi.Today – Industri tak bisa lepas dari gas, baik untuk bahan bakar maupun bahan baku. Belum lagi gas buang dari proses produksi. Gas memiliki posisi yang sangat penting dalam sebuah industri. Karena itu, sudah menjadi keharusan bagi setiap industri untuk mengukur kualitas gas secara rutin guna mencapai kualitas produksi yang diharapkan. Dan alat yang wajib dimiliki dalam pengambilan sampel (sampling) sebagai bahan analisa adalah Wet Test Meter (WTM) yang berfungsi untuk mengukur volume sample yang diambil.

Seperti alat ukur pada umumnya, WTM harus rutin dikalibrasi demi mendapatkan hasil analisa yang akurat, dan seringnya penggunaan akan mengakibatkan perubahan akurasi. Sesuai aturan American Standard Testing and Material (ASTM), WTM harus dikalibrasi setiap dua tahun sekali agar ketepatannya tetap terjaga dengan baik.

Selama ini, untuk melakukan tera ulang harus dilakukan di Jerman yang merupakan pabrikan dari WTM. Sangat tidak efektif, khususnya dari sisi waktu dan biaya. Karena sekitar 70 persen bahan baku yang dibutuhkan oleh industri petrochemical ini adalah gas bumi, problem ini juga sempat dialami oleh PT Petrokimia Gresik.

Dengan jumlah produksi pupuk yang mencapai jutaan ton tiap tahunnya, WTM menjadi alat yang penting dan cukup sering digunakan. Jika untuk kalibrasi masih harus dilakukan di Jerman, maka berpotensi mengganggu proses produksi.

Persoalan ini pun mampu dibaca oleh PT dan dimanfaatkan sebagai peluang. Setelah melakukan penelitian yang cukup lama, Tim inovasi PG akhirnya sukses menciptakan kalibrator untuk WTM yang merupakan alat pertama di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Andi Lusdiono, Staf Penelitian dan Kalibrasi PG dalam acara Konvensi Inovasi Petrokimia Gresik (KIPG) XXXIII dan Petrokimia Gresik Innovation Expo (PGIE) 2019 di Gedung Serbaguna Tri Dharma PG, Kamis (25/04/2019).

Andi Lusdiono saat berada di stand komtek KIPG

Andi menuturkan, meski satu alat WTM harganya mencapai Rp 50 juta. Setiap dua tahun sekali PG selalu membeli WTM baru, hal itu dilakukan karena alasan efektivitas waktu. Sebab jika membeli baru sudah disertakan sertifikat kalibrasinya. Padahal PG memiliki 17 pabrik yang harus dicek bahan baku dan gas buangnya. Untuk menganalisa gas, PG memiliki enam laboratorium, dan masing-masing memiliki 3 WTM. Artinya total ada 18 WTM, dengan biaya Rp 900 juta tiap dua tahun sekali untuk pengadaannya.

Kalibrator WTM PG ini pun sudah mengantongi sertifikat dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). “Perjuangan untuk mendapat pengakuan ini cukup luar biasa, karena memang alat ini belum ada di Indonesia, dan baru pertama diciptakan oleh Petrokimia Gresik” ungkap Andi Lusdiono seraya menambahkan jika kalibrator ini pun juga harus diaudit tiap dua tahun sekali oleh KAN.

Kalibrator PG ini sudah disosialisasikan ke seluruh anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (holding PG). Mereka pun mengorderkan WTM miliknya untuk dikalibrasikan ke PG.

Dalam setahun WTM PG mampu memberikan revenue sebesar Rp5 miliar. “Nilai ini juga diperoleh dari jasa pengambilan sample gas yang dimanfaatkan perusahaan di luar Pupuk Indonesia Holding Company, seperti PT Pertamina (Persero) dan Pembangkit Jawa-Bali (PJB). Karena selain jasa kalibrasi, Petrokimia Gresik sebagai solusi agorindustri juga mampu melayani jasa pengambilan contoh gas ke perusahaan eksternal,” terangnya.

Andi Lusdiono tergabung dalam SS Kalibrasi bersama dengan Mahendra Drajat dan Triyono yang merupakan karyawan PG. Inovasi ini telah mendapat penghargaan Platinum di ajang nasional Temu Karya Mutu dan Produktivitas Indonesia (TKMPN), selain itu juga mendapatkan Platinum di even Pupuk Indonesia Innovation. (Adrian)