Pesan Soeharto ke Habibie; Berbuatlah Apa Saja, Kecuali Satu Hal Pemberontakan

0
Prof Dr Bacharudin Jusuf Habibie

Jakarta, investigasi.today – Meninggalnya Prof Dr Bacharudin Jusuf Habibie di Jakarta pada hari Rabu petang (11/9) setelah dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat membuat seluruh rakyat Indonesia berduka.

Untuk menghormati Presiden ke-3 yang dilahirkan di Pare-Pare Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini, pada Rabu (11/8), Presiden Joko Widodo menetapkan Hari Berkabung Nasional selama tiga hari (12-14 September).

Habibie yang wafat dalam usia 83 tahun itu menjadi Presiden RI pada tanggal 21 Mei tahun 1983 untuk menggantikan Soeharto, namun ahli konstruksi pesawat terbang itu terpaksa harus meninggalkan posisi terhormat itu pada Oktober 1999 yang kemudian digantikan oleh Abddurahman Wahid atau Gus Dur.

Jika sedang bekerja, Habibie adalah sosok yang sangat serius. Meski begitu, dia tetap tersenyum-senyum apabila bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya.

Habibie dahulu dikenal sebagai salah satu orang terdekat Presiden Soeharto. Saat Soeharto menerima menteri di Bina Graha, paling lama hanya setengah jam. Namun jika menerima Habibie, pertemuan itu bisa memakan waktu lima hingga tujuh jam.

Habibie pernah menyampaikan bahwa dia tidak akan pernah lupa terhadap salah satu pesan Presiden Soeharto, bahwa dia boleh bertindak atau berbuat apa saja, kecuali satu hal yakni melakukan pemberontakan.

Habibie yang menjadi Presiden pada 21 Mei tahun 1988 tersebut bertugas tanpa melalui sidang umum ataupun sidang istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tapi langsung bertugas menggantikan Soeharto. Karena situasi pergantian pemerintahan ini berlangsung seketika alias mendadak maka sang profesor ini langsung harus bekerja keras.

Dalam kesehariannya, Habibie biasanya pergi dari rumah ke BPPT, atau menemui Soeharto atau ke IPTN di Bandung, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi (Puspiptek) di Serpong ataupun ke PT Pal di Surabaya, Jawa Timur. Selain itu, dia juga setiap tahunnya berkunjung ke Amerika Serikat untuk mengetahui kemajuan penelitian di bidang teknologi atau ke Jepang guna melihat kemajuan teknologi di sana.

Habibie menjadi presiden untuk menggantikan Soeharto. Namun, akibat ulah segelintir politisi maka Habibie harus meninggalkan posisi RI 1 tersebut.

Meninggalnya Profesor Habibie seharusnya menyadarkan tokoh-tokoh politik bahwa persaingan tidak otomatis harus menyebabkan seorang politisi bisa semaunya menjatuhkan pihak lain yang sebenarnya amat dihormati rakyat Indonesia.

Presiden ke3 RI yang adalah putera terbaik bangsa ini sudah dipanggil ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa (YME) dan mudah-mudahan dia telah bersatu dengan Almarhumah Ibu Ainun Habibie yang meninggal dunia pada tahun 2010. Selamat jalan Pak Habibie. (Ink)