
Jakarta, investigasi.today – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) membuka akses pasar yang sangat luas bagi kedua belah pihak, sekaligus menjadi landasan kuat untuk melipatgandakan nilai perdagangan bilateral di masa mendatang.
Berpidato dalam Forum Ekonomi Timur ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis waktu setempat, Prabowo menyebut perjanjian ini bukan sekadar kesepakatan dagang biasa, melainkan arsitektur kerja sama Selatan–Selatan yang saling menguntungkan.
“Perjanjian ini membuka lima pasar bagi produsen Indonesia dan memberikan produsen Eurasia akses ke lebih dari 290 juta konsumen Indonesia,” ujar Presiden dalam siaran langsung Sekretariat Presiden yang dipantau dari Jakarta.
Perjanjian yang ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025 itu mencakup penghapusan atau pengurangan bea masuk atas 11.882 pos tarif, atau lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan. Lingkupnya mencakup lima negara anggota EAEU: Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia.
Prabowo menargetkan nilai perdagangan Indonesia–Rusia dapat digandakan dalam periode peninjauan pertama FTA tersebut, yang diharapkan mulai berlaku pada awal 2027. Menurutnya, struktur perekonomian kedua negara yang saling melengkapi menjadi modal utama untuk mencapai target tersebut.
“Saya mengusulkan agar Indonesia dan Rusia menetapkan sasaran yang jelas: menggandakan perdagangan kita dalam periode peninjauan pertama FTA Indonesia–EAEU,” tegasnya.
Lebih jauh, Presiden menekankan posisi strategis Indonesia sebagai pintu masuk alami bagi pelaku usaha Eurasia menuju pasar ASEAN. Sebagai pasar terbesar di kawasan dan bagian dari Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), Indonesia menjembatani akses ke ratusan juta konsumen lainnya di Asia Tenggara.
Prabowo mendesak seluruh pihak untuk segera menyelesaikan prosedur domestik dan pertukaran notifikasi agar perjanjian ini dapat segera berlaku dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh pelaku usaha kedua belah negara.
Sementara itu, delegasi bisnis Indonesia yang turut hadir di Forum Ekonomi Timur ke-11 telah bergerak cepat memanfaatkan peluang tersebut, mulai dari mencari pembeli, menyusun rencana pengiriman perdana, hingga menyelesaikan sistem pembayaran dan jalur logistik guna mengoptimalkan manfaat FTA begitu perjanjian itu berlaku. (Ink)


