Puluhan Buruh Pabrik Baja PT Bromo Panuluh Steel (BPS) Gelar Unjuk Rasa Di Gedung PLN Sidoarjo

0

Sidoarjo, investigasi.today – Buruh yang tergabung dalam paguyuban karyawan PT BPS itu menuntut agar PLN Sidoarjo segera melakukan pemasangan kembali jaringan listrik ke perusahaan tempat mereka bekerja.

Seperti diketahui, aliran listrik ke perusahaan baja di kawasan Wringinanom itu diputus PLN sejak September 2017.

“Pemutusan aliran listrik tersebut membuat pihak pabrik merumahkan atau memecat sementara semua pegawainya,” kata Edi Supriantono, Koordinator Aksi.

Terhitung ada sekitar 400 orang pegawai pabrik kehilangan pekerjaan sejak listrik diputus. Makanya, para buruh itu mendesak PLN segera menyambung lagi aliran listrik supaya mereka kembali bisa bekerja.

Menurut Edi, pihaknya sempat menggelar audiensi dengan pihak PLN, tapi belum ada hasil yang signifikan. Pihak managemen PLN Sidoarjo mengaku hanya pihak operator dan bukan pihak pembuat keputusan atau kebijakan

“Pihak PLN Sidoarjo sebenarnya kasihan dan empati kepada kami, tapi PLN Sidoarjo tidak bisa berbuat apa apa karena hanya sebagai operator saja. Katanya, keputusan atau kebijakan hanya bisa dilakukan oleh kantor PLN Jawa Timur,” urainya.

Menurut dia, kasus ini berawal saat aliran listrik PT BPS tiba-tiba diputus oleh pihak PLN Sidoarjo dengan alasan ada masalah KWH Listrik yang ada di gardu induk pabrik.

Padahal gardu induk hanya bisa dibuka oleh pihak PLN, orang biasa atau orang awam tidak mungkin bisa membuka gardu induk karena tidak memiliki kunci.

“Tapi pihak pabrik tempat kami bekerja dituduh terkait masalah KWH listrik yang ada dalam gardu induk tersebut, yang kemudian aliran listrik ke pabrik dicabut,” lanjut dia.

Para buruh pabrik itu berharap, jika memang ada masalah antara PLN dengan pabrik, hendaknya bisa diselesaikan dengan baik. Karena dengan cara memutus aliran listrik itu, akibatnya pabrik tidak beroperasi dan ratusan orang kehilangan pekerjaan.

Edi sendiri, sejak kehilangan pekerjaan harus rela kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Anak saya tiga, sejak bulan September 2017 saya menganggur karena perusahaan tidak beroperasi,” ujarnya. (Kudori/Aria)