Wednesday, January 14, 2026
HomeBerita BaruNusantaraTanjab Timur Fokus Kembangkan Centra Produksi Desa dan Kawasan Organik

Tanjab Timur Fokus Kembangkan Centra Produksi Desa dan Kawasan Organik

TANJAB TIMUR JAMBI, Investigasi. Today – Kabupaten Tanjung Jabung Timur merukan salah satu kabupaten penghasil beras bagi Provinsi Jambi. Pengembangan areal pertanian tanaman pangan tiada henti-hentinya disampaikan kepada masyarakat. Menjaga masyarakat untuk tidak alih fungsi lahan tanaman pangan menjadi areal perkebunan merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemkab Tanjab Timur. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Bupati Tanjung Jabung Timur, H. Romi Hariyanto, SE, melalui Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Sunarno, SP.

“Terkait dengan hortikultura, Pak Bupati sangat berkomitmen terhadap tanaman pangan dan kedepannya akan kita perhatikan ekstra. Kita memang berusaha akan membangun centra – centra produksi tanaman pangan tetapi masyarakat mesti legowo (ikhlas-red), hitam diatas putih untuk tidak akan alih fungsi lahan. Sehingga kita pemerintah, bisa leluasa mengambil kebijakan karena jika ada belanja modal tanpa didasari itu nanti kedepannya bisa bermasalah” jelas Kadis saat dikomfirmasi pada Senin (3/11/2018).

“Maka inginnya Pak Bupati itu, ditiap-tiap desa ada centra produksi tanaman pangan dan untuk kedepannya, Pak Bupati juga mengharapkan untuk tanaman hortikultura mesti ada kawasan yang pengelolaan secara organik atau disebut dengan kawasan organik. Kawasan tersebut akan kita jadikan sebagai wahana edukasi (pendidikan-red) dan wahana rekreasi (hiburan-red)” tambahnya.

Gerakan tanam padi dua kali setahun, sedari dulu gencar dilakukab oleh Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Hal tersebut untuk optimalisasi lahan tanaman pangan. Bupati juga mengharapkan optimalisasi lahan pertanian masyarakat, khususnya tanaman padi.

“Kita tidak bisa melarang masyarakat alih fungsi jika tidak ada solusi yang kita berikan. Khususnya tanaman padi, kalau setahun tidak bisa dua kali, petani akan merugi, kasihan kita. Jadi bagaimana kita upayakan untuk dapat dikelola dua kali setahun minimal. Kalau bisa IP 300 atau tiga kali setahun, itu memang ‘muluk-muluk’ tapi kita upayakan. Dua kali tanaman padi dan satu kali tanaman palawija” tegasnya. (Erfan).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular