
Gresik, Investigasi.today – Kemerdekaan di Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, tak berhenti pada seremoni. Sebanyak 33 RT mengirimkan wakilnya untuk naik ke satu panggung, membawa kreativitas, busana batik, dan pesan tentang pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia.
Pemandangan itu tersaji dalam lomba fashion show bertema “Kreasi Batik Nusantara” di Pendopo Balai Desa Bungah, Minggu (23/8/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Dari satu RT ke RT lainnya, peserta tampil dengan karakter dan kreasi berbeda. Batik tidak sekadar dikenakan sebagai busana, tetapi diolah menjadi bagian dari pertunjukan yang menuntut keberanian, kreativitas, dan kepercayaan diri di atas panggung.
Bagi Pemerintah Desa Bungah, keterlibatan seluruh RT menjadi kekuatan utama kegiatan tersebut. Kepala Desa Bungah H. Subakir mengapresiasi warga, RT, dan RW yang telah mengirimkan delegasi untuk berpartisipasi.
“Selaku Pemerintah Desa Bungah mengucapkan terima kasih atas partisipasi warga atas keikutsertaan lomba fashion show ini. Terima kasih juga kepada RT dan RW yang sudah mengirimkan delegasi peserta lomba,” ujar Subakir.
Ia bahkan meminta peserta tidak menjadikan kemenangan sebagai beban.
“Nikmati panggungnya, jangan grogi saat di atas panggung. Menang itu bonus,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa inti kegiatan bukan semata-mata mencari siapa yang paling unggul. Lebih dari itu, panggung fashion show menjadi ruang bagi warga untuk berani tampil, berkreasi, sekaligus merayakan kemerdekaan secara bersama-sama.
Sambutan Subakir pun semakin mencair ketika ditutup dengan dua pantun yang disambut tepuk tangan penonton.
Batik Bukan Sekadar Motif
Koordinator lomba Suhariyati mengatakan, pemilihan tema “Kreasi Batik Nusantara” sengaja diarahkan untuk mendekatkan batik dengan kehidupan masyarakat.
“Temanya batik Nusantara, peserta bebas berkreasi dan bebas dipakai di mana saja. Yang terpenting motif batiknya sopan,” jelasnya.
Peserta diberikan ruang untuk memodifikasi busana sesuai kreativitas masing-masing. Namun, panitia menetapkan batasan dengan tidak memperbolehkan penggunaan bahan daur ulang agar konsep perlombaan tetap sesuai tema.
Untuk menjaga penilaian berlangsung objektif, panitia menghadirkan dua juri yang memiliki pengalaman di bidang batik dan modeling, yakni Indah Nurhidayah, S.Pd., owner Batik Pelemahan, serta Sri Salatun Nisa, owner Anugrah Modeling Academy.
Ketika Desa dan Dunia Usaha Bertemu
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bagaimana pemerintah desa dan dunia usaha dapat mengambil ruang bersama dalam kegiatan masyarakat.
PT Bungah Industrial Park (BIP) turut memberikan dukungan. Perwakilan perusahaan, Luluk, hadir dalam kegiatan tersebut.
Manager Project PT BIP Antonius Teguh mengatakan, keterlibatan perusahaan dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitar.
“Kegiatan bersama warga menjadi sarana penting menjaga keharmonisan dan komunikasi yang baik antara perusahaan dan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Antonius, PT BIP berharap hubungan positif dengan masyarakat Bungah dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat bagi kedua pihak.
Kolaborasi itu membuat fashion show memiliki makna lebih luas. Pemerintah desa menyediakan ruang, warga menghidupkan panggung, sementara dunia usaha ikut mengambil bagian dalam membangun hubungan dengan masyarakat.
Pada akhirnya, 33 RT bukan hanya mengirimkan peserta lomba. Mereka membawa satu pesan yang sama: kemerdekaan juga bisa dirayakan dengan menjaga budaya, membuka ruang kreativitas, dan memperkuat kebersamaan dari tingkat paling dekat—lingkungan warga.
Di Pendopo Balai Desa Bungah, batik pun tak hanya berjalan di atas catwalk. Batik menjadi bahasa kebersamaan warga dalam merayakan Indonesia. (Ink)


