
Gresik, Investigasi.today – Tradisi patroli sahur yang selama ini dipromosikan sebagai bentuk solidaritas warga berubah menjadi panggung kekerasan terbuka di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik.
Bentrokan antara kelompok remaja dari Desa Banyutengah dan Desa Campurejo pada Jumat dini hari bukan sekadar tawuran spontan. Sejumlah fakta di lapangan menunjukkan pola yang lebih mengkhawatirkan: mobilisasi massa, siaran langsung di media sosial, hingga penggunaan senjata tajam dalam kegiatan yang awalnya diklaim sebagai “patroli keamanan sahur”.
Dari Bom Air ke Senjata Tajam
Berdasarkan rekaman video yang beredar, ratusan remaja berkumpul di perbatasan desa. Awalnya, interaksi diwarnai saling lempar bom air plastik, sebuah bentuk “permainan” yang kerap dianggap bagian dari tradisi.
Namun situasi berubah cepat.
Adu mulut berkembang menjadi bentrokan fisik. Dalam salah satu video amatir, tampak seorang pria membawa pedang di tengah kerumunan.
Dua pemuda dari Desa Campurejo menjadi korban luka:
• M Ruhul Madani (25) mengalami luka gores
• Agung Wahyu Pratama (24) mengalami luka robek serius di bagian perut
Kanit Reskrim Polsek Panceng, Yudi Setiawan, membenarkan insiden tersebut dan menyebut pelaku diduga berinisial S, warga Banyutengah, sempat melarikan diri usai kejadian.
Kekerasan yang Ditonton Publik
Yang membedakan peristiwa ini dari tawuran biasa adalah fakta bahwa bentrokan sempat disiarkan langsung melalui media sosial.
Artinya, kekerasan tidak hanya terjadi tetapi juga dipertontonkan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah patroli sahur telah bergeser dari kegiatan sosial menjadi ajang eksistensi kelompok?
Penangkapan dan Pelarian
Beberapa jam setelah kejadian, Satreskrim Polres Gresik menangkap terduga pelaku, Saifuddin alias Dien, di wilayah Paciran.
Kasat Reskrim Polres Gresik, Arya Widjaya, menyebut pelaku diamankan sekitar pukul 23.40 WIB setelah polisi menerima informasi dari masyarakat terkait keberadaannya.
Penangkapan dilakukan dengan pendampingan keluarga sebelum pelaku dibawa ke Mapolres untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kekerasan Berantai: Dari Jalan ke Rumah
Namun konflik tidak berhenti di lokasi bentrokan.
Sebelum penangkapan, massa yang tersulut emosi mendatangi rumah pelaku di Banyutengah. Karena tidak menemukan yang bersangkutan, pencarian meluas hingga ke rumah lainnya di wilayah perbatasan Gresik–Lamongan.
Kemarahan berubah menjadi aksi pembakaran.
Rumah yang diduga terkait dengan pelaku dibakar oleh massa menandai eskalasi konflik dari tawuran menjadi kekerasan komunal.
Tradisi atau Potensi Konflik?
Insiden ini menambah daftar panjang gesekan antar remaja yang terjadi dalam momentum patroli sahur di wilayah Gresik Utara.
Secara formal, kegiatan patroli sahur dimaksudkan untuk menjaga keamanan lingkungan selama Ramadan.
Namun di lapangan, pola yang berulang mulai terlihat:
• Mobilisasi massa antar desa
• Provokasi simbolik seperti lempar bom air
• Eksposur media sosial
• Eskalasi cepat menjadi kekerasan fisik
Kepolisian kini masih mendalami motif penggunaan senjata tajam dalam kegiatan yang seharusnya bersifat sosial tersebut.
Sementara situasi di lokasi dilaporkan mulai kondusif, pertanyaan yang tersisa lebih besar dari sekadar siapa pelaku:
Apakah patroli sahur masih menjadi ruang kebersamaan atau telah berubah menjadi arena konflik yang menunggu pemicu berikutnya? (Ink)


