Thursday, March 12, 2026
HomeBerita BaruJatimTradisi 5 Abad Sanggring Gumeno, Bupati Yani: Kolak Ayam Adalah Identitas Sosial...

Tradisi 5 Abad Sanggring Gumeno, Bupati Yani: Kolak Ayam Adalah Identitas Sosial dan Religi Masyarakat Gresik

Gresik, Investigasi.today – Aroma rempah dan gula merah mulai menguar dari dapur tradisi di kawasan Masjid Jami’ Sunan Dalem, Desa Gumeno, Kecamatan Manyar. Di tempat inilah, sebuah tradisi berusia lebih dari lima abad terus dijaga dan diwariskan lintas generasi: Sanggring atau Kolak Ayam.

Pada Kamis (12/3/2026), Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani hadir langsung menyaksikan proses pengolahan kuliner legendaris tersebut. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Gresik itu menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat setempat.

Bupati yang akrab disapa Gus Yani itu menegaskan, tradisi Sanggring bukan sekadar kegiatan memasak atau makan bersama. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan simbol ketaatan spiritual sekaligus penghormatan terhadap perjuangan dakwah Sunan Dalem, putra Sunan Giri, dalam menyebarkan Islam di wilayah pesisir Gresik.

Menurutnya, kolak ayam yang hingga kini tetap dilestarikan warga Desa Gumeno merupakan warisan budaya Islam yang telah berusia sekitar 501 tahun.

“Tradisi ini bukan sekadar kuliner, tetapi bagian dari identitas sosial dan religi masyarakat Gresik yang diwariskan sejak masa dakwah Sunan Dalem,” ujar Gus Yani.

Ia juga menceritakan bahwa sejarah kolak ayam bermula dari kisah Sunan Dalem ketika membangun masjid di Desa Gumeno. Saat itu, beliau dikisahkan sedang mengalami sakit dan kemudian meracik masakan yang kemudian dikenal sebagai kolak ayam.

Masakan tersebut dipercaya mampu membantu memulihkan kesehatannya. Resep itu pun kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar dan dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.

“Sejarah kolak ayam berawal dari kebiasaan Sunan Dalem yang membuat masakan ini sebagai obat ketika beliau sakit saat membangun masjid di Desa Gumeno dalam menyebarkan Islam. Resep tersebut ternyata mujarab, bukan hanya bagi beliau tetapi juga bagi warga sekitar,” ungkapnya.

Gus Yani menambahkan, pelestarian tradisi Sanggring juga menjadi bentuk penghormatan terhadap peran Sunan Dalem sebagai salah satu tokoh penyebar Islam di pesisir utara Gresik sekitar tahun 1541 Masehi.

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk terus mengenal dan menjaga tradisi tersebut agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman, terlebih di tengah pesatnya pertumbuhan Gresik sebagai kota industri.

“Generasi muda harus diberi wawasan tentang tradisi ini, sehingga Sanggring Kolak Ayam tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat Gresik,” tuturnya.

Pemerintah sendiri telah memberikan pengakuan resmi terhadap tradisi ini. Pada tahun 2019, Sanggring Kolak Ayam ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTbI).

Penetapan tersebut semakin menegaskan bahwa tradisi ini memiliki nilai historis, budaya, sekaligus religius yang sangat kuat bagi masyarakat Gresik.

Dalam tradisi yang digelar setiap malam ke-23 Ramadan itu, warga Desa Gumeno menyiapkan kolak ayam dalam jumlah besar. Tahun ini, bahan yang digunakan mencapai 240 ekor ayam, 225 kilogram bawang daun, 525 butir kelapa, 650 kilogram gula merah, serta 50 kilogram jinten bubuk.

Dari proses tersebut dihasilkan sekitar 3.000 porsi kolak ayam yang kemudian dibagikan kepada masyarakat dan para tamu yang datang untuk menyaksikan tradisi Sanggring.

Tradisi yang telah bertahan lebih dari lima abad ini tidak hanya menjadi daya tarik budaya, tetapi juga menjadi simbol kuat kebersamaan, spiritualitas, dan kearifan lokal masyarakat Gresik yang terus hidup hingga hari ini. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular