
Surabaya, Investigasi.today – Kepanikan warga terjadi di sejumlah daerah setelah isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tiba-tiba viral di media sosial. Tanpa kepastian resmi, kabar tersebut langsung memicu gelombang warga menyerbu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sejak pagi hari.
Pantauan di beberapa SPBU di Jawa Timur menunjukkan antrean kendaraan mengular hingga keluar area pengisian. Pengendara motor dan mobil tampak memenuhi jalur antrean demi mengisi tangki sebelum harga yang dikabarkan naik itu benar-benar terjadi.
“Dari tadi antre hampir setengah jam. Takut besok sudah naik,” kata seorang pengendara motor yang ikut mengantre.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana informasi yang belum terverifikasi dapat dengan cepat memicu kepanikan massal. Dalam hitungan jam, pesan berantai dan unggahan media sosial yang menyebutkan “BBM naik per 1 April” menyebar luas di berbagai grup percakapan dan platform digital.
Jejak Rumor yang Memicu Panic Buying
Investigasi awal menunjukkan kabar tersebut berasal dari potongan gambar informasi harga yang tidak jelas sumbernya. Gambar itu kemudian disebarkan ulang dengan narasi bahwa pemerintah akan menaikkan harga BBM dalam waktu dekat.
Tanpa konfirmasi resmi, pesan tersebut langsung dipercaya banyak orang dan memicu fenomena panic buying—situasi ketika masyarakat membeli barang secara berlebihan karena takut terjadi kelangkaan atau kenaikan harga.
Di beberapa SPBU, petugas bahkan harus mengatur lalu lintas kendaraan karena lonjakan pengendara yang datang hampir bersamaan.
Klarifikasi Pemerintah
Di tengah kepanikan warga, pemerintah dan pihak perusahaan energi negara akhirnya angkat bicara. Mereka menegaskan tidak ada kebijakan kenaikan harga BBM pada waktu yang dirumorkan.
Stok bahan bakar nasional juga disebut dalam kondisi aman sehingga masyarakat diminta tidak melakukan pembelian secara berlebihan.
Meski demikian, peristiwa ini kembali memperlihatkan rapuhnya stabilitas informasi di era digital. Sebuah kabar yang belum tentu benar dapat dengan cepat berubah menjadi kepanikan nyata di lapangan.
Dampak Nyata di Lapangan
Akibat rumor tersebut, beberapa SPBU sempat mengalami lonjakan konsumsi dalam waktu singkat. Kondisi ini berpotensi mengganggu distribusi bahan bakar jika kepanikan berlangsung lama.
Pengamat ekonomi menilai kejadian ini bukan sekadar rumor biasa. Menurut mereka, informasi yang tidak jelas sumbernya bisa berdampak langsung pada perilaku ekonomi masyarakat.
“Begitu isu harga naik muncul, masyarakat langsung bereaksi. Itu menunjukkan betapa sensitifnya isu BBM,” kata seorang analis energi.
Pertanyaan Besar: Siapa di Balik Penyebaran Isu?
Hingga kini belum diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menyebarkan kabar kenaikan BBM tersebut. Namun aparat siber dikabarkan mulai menelusuri asal mula informasi yang viral itu.
Jika terbukti sengaja menyebarkan informasi menyesatkan yang memicu kepanikan publik, pelaku dapat dikenai sanksi sesuai aturan penyebaran hoaks di ruang digital.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa satu rumor di internet dapat memicu antrean panjang di dunia nyata. (Laga)


