Friday, April 17, 2026
HomeBerita BaruJatimKekeringan Datang Lebih Cepat, Tapi Strategi Gresik Masih Jalan di Tempat

Kekeringan Datang Lebih Cepat, Tapi Strategi Gresik Masih Jalan di Tempat

Ancaman Meluas, Ketergantungan pada Droping Air Dipertanyakan

Gresik, Investigasi.today – Kemarau 2026 bahkan belum benar-benar dimulai, tetapi alarm kekeringan di Kabupaten Gresik sudah berbunyi lebih awal. Prediksi menunjukkan musim kering datang lebih cepat sejak akhir April, dengan potensi dampak yang lebih luas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sedikitnya enam kecamatan telah masuk zona rawan. Dalam hitungan bulan, jumlah itu bisa melonjak hingga dua belas kecamatan saat puncak kemarau Juli–September. Situasi ini menempatkan Gresik pada satu pertanyaan mendasar: apakah sistem yang ada siap menghadapi tekanan yang lebih besar?

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, telah mengeluarkan peringatan keras kepada jajarannya.

“Jangan tunggu masyarakat kesulitan air baru kita bergerak,” tegasnya.

Namun peringatan itu justru membuka persoalan yang lebih dalam: jika ancaman sudah bisa diprediksi lebih awal, mengapa solusi yang disiapkan masih didominasi pola lama?

Ketergantungan pada Solusi Darurat

Hingga kini, distribusi air bersih (dropping) masih menjadi strategi utama. Pemerintah menyiapkan lima truk tangki, puluhan tandon, dan ratusan jerigen.

Di atas kertas, ini terlihat sebagai kesiapan. Namun dalam praktik, skema ini memiliki batas yang jelas: kapasitas terbatas, biaya tinggi, dan sangat bergantung pada logistik.

Dalam skenario terburuk—ketika wilayah terdampak meluas—distribusi air berpotensi tidak merata. Daerah dengan akses sulit hampir pasti menjadi titik paling rentan.

Lebih dari itu, pendekatan ini tidak menyelesaikan akar masalah.

Masalah Lama yang Belum Tuntas

Kekeringan di Gresik bukan fenomena baru. Namun hingga kini, penguatan infrastruktur air jangka panjang—seperti embung, sistem penampungan, atau diversifikasi sumber air—belum terlihat menjadi prioritas utama secara masif.

Akibatnya, setiap tahun Gresik kembali pada siklus yang sama:
peringatan – distribusi darurat – krisis mereda – lalu berulang.

Bupati Yani sendiri mengakui perlunya perubahan pendekatan.

“Kita harus keluar dari pola lama. Ini soal strategi, bukan sekadar bantuan.”

Pernyataan ini penting. Tapi tanpa diikuti langkah konkret dan terukur, ia berisiko berhenti sebagai komitmen di atas kertas.

Belajar dari Daerah Lain

Sejumlah daerah dengan karakteristik serupa mulai meninggalkan ketergantungan pada bantuan darurat. Pembangunan embung desa, pemanenan air hujan, hingga pengelolaan air berbasis komunitas menjadi strategi utama untuk mengurangi risiko tahunan.

Pendekatan ini tidak instan, tetapi terbukti lebih tahan terhadap tekanan musim.

Gresik menghadapi pilihan yang sama: tetap mengandalkan distribusi air, atau berinvestasi pada solusi jangka panjang yang lebih mahal di awal, tetapi lebih stabil ke depan.

Tekanan Anggaran dan Logistik

Di sisi lain, BPBD Gresik mengakui bahwa tantangan tidak hanya soal air, tetapi juga biaya operasional.

Distribusi air membutuhkan dukungan bahan bakar yang besar dan dilakukan secara rutin selama musim kemarau. Semakin lama kemarau berlangsung, semakin besar pula beban anggaran.

“Tantangan kami ada pada dukungan operasional, terutama BBM,” ujar Kepala Pelaksana BPBD, Sukardi.

Ini menimbulkan pertanyaan lanjutan:
apakah anggaran lebih banyak terserap untuk penanganan darurat dibanding pencegahan jangka panjang?

Masyarakat Dipaksa Adaptif

Di tengah keterbatasan sistem, masyarakat kini didorong untuk menyiapkan cadangan air secara mandiri—mulai dari jerigen hingga tandon rumah tangga.

Langkah ini masuk akal sebagai mitigasi. Namun di sisi lain, ini juga menandakan bahwa ketahanan belum sepenuhnya dibangun oleh sistem, melainkan dibebankan sebagian kepada warga.

Ujian yang Tidak Bisa Diulang

Tahun 2026 seharusnya menjadi titik evaluasi, bukan sekadar pengulangan.

Semua variabel sudah diketahui:
kemarau datang lebih cepat, wilayah rawan sudah dipetakan, dan keterbatasan sudah diidentifikasi.

Yang belum terlihat jelas adalah keberanian untuk mengubah strategi secara mendasar.

Tanpa itu, Gresik tidak hanya menghadapi kekeringan—tetapi juga risiko terjebak dalam pola penanganan yang sama, tahun demi tahun.

Kekeringan mungkin tak terhindarkan.
Tapi krisis yang berulang, seharusnya bisa dicegah. (Sye)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -


Most Popular