
Jakarta, Investigasi.today – Di tengah tekanan industri semen yang masih melemah sepanjang 2025, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) justru menunjukkan daya tahan. Alih-alih terjebak dalam perlambatan, emiten pelat merah ini memilih mempercepat transformasi—dan hasilnya mulai terlihat.
Dalam paparan kinerja tahunan (FY25 Audited Results Call) di Jakarta, 13 April 2026, Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, menegaskan bahwa langkah transformasi yang dimulai pada paruh kedua 2025 menjadi titik balik penting bagi perusahaan.
Transformasi tersebut difokuskan pada tiga pilar utama: penguatan pengelolaan pasar mikro, efisiensi biaya, serta optimalisasi portofolio produk dan turunan semen. Strategi ini terbukti mampu mendorong perbaikan kinerja secara konsisten, terutama pada semester II 2025.
“Momentum perbaikan mulai terlihat sejak kuartal III dan mencapai puncaknya pada kuartal IV 2025,” ujar Indrieffouny.
Langkah agresif ini dijalankan di tengah kontraksi permintaan semen domestik yang turun 1,5% secara tahunan (year-on-year). Kondisi tersebut sempat menekan penjualan domestik SIG. Namun, perusahaan berhasil membalikkan keadaan.
Sepanjang 2025, SIG mencatat volume penjualan sebesar 37,93 juta ton. Kinerja paling mencolok terjadi pada kuartal IV dengan penjualan mencapai 10,47 juta ton, yang mendorong pertumbuhan tahunan sebesar 1,1%.
Tak hanya itu, segmen semen kantong—yang dikenal memiliki margin lebih tinggi—menjadi motor pertumbuhan baru. Pada kuartal IV 2025, segmen ini melesat 5,7% yoy, jauh melampaui pertumbuhan pasar yang hanya sekitar 2%.
Di saat pasar domestik melemah, ekspor menjadi penopang penting. SIG mencatat lonjakan volume ekspor sebesar 14,9% yoy menjadi sekitar 6,4 juta ton, memperkuat posisi perusahaan di pasar internasional.
Tren positif ini berlanjut ke awal 2026. Dalam dua bulan pertama, SIG membukukan pertumbuhan penjualan domestik sebesar 9,7%, dengan segmen semen kantong kembali menjadi pendorong utama lewat kenaikan signifikan 14,6%.
Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa strategi transformasi yang dijalankan tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan.
Ke depan, SIG berkomitmen melanjutkan transformasi dengan fokus pada penguatan model bisnis inti, efisiensi operasional, pengembangan ekosistem produk turunan dan solusi bangunan, serta peningkatan tata kelola perusahaan.
“Kami melihat arah yang kami tempuh sudah tepat. Transformasi ini akan terus kami jalankan secara disiplin untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan penciptaan nilai bagi pemegang saham serta pelanggan,” tegas Indrieffouny.
Di tengah ketidakpastian industri, SIG tampaknya tidak sekadar bertahan—tetapi mulai mengambil posisi untuk memimpin pemulihan. (Ink)


