
Gresik, Investigasi.today – Ambisi Kabupaten Gresik untuk kembali meraih juara umum pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Jawa Timur kembali ditegaskan dalam pembukaan MTQ XXXII tingkat kabupaten di Islamic Center Balongpanggang, Jumat (17/4). Namun di balik optimisme itu, penyelenggaraan tahun ini juga menjadi ujian nyata: seberapa konsisten pembinaan generasi Qurani benar-benar dilakukan di tingkat bawah.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, secara terbuka menyebut capaian juara umum pada MTQ sebelumnya sebagai standar yang harus dipertahankan. Target tersebut bukan tanpa konsekuensi, karena keberhasilan di tingkat provinsi sangat bergantung pada kualitas pembinaan di tingkat desa hingga kecamatan.
“Prestasi itu harus dijaga dan ditingkatkan. Artinya, proses pembinaan tidak boleh berhenti di event semata,” ujarnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi satu hal penting: MTQ bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan indikator keberhasilan sistem pembinaan tilawah, tahfidz, hingga cabang-cabang keilmuan Al-Qur’an lainnya. Dalam praktiknya, tidak semua daerah mampu menjaga ritme pembinaan secara berkelanjutan.
Pemilihan Kecamatan Balongpanggang sebagai lokasi utama juga menyimpan pesan strategis. Selain pemerataan kegiatan, pemerintah daerah secara tidak langsung menjadikan MTQ sebagai sarana promosi kawasan, termasuk Islamic Center KH Robbach Ma’sum dan wisata edukasi digital Gresik Universal Science (GUS).
Langkah ini menunjukkan bahwa MTQ kini tidak berdiri sendiri sebagai agenda keagamaan, tetapi mulai bersinggungan dengan kepentingan pembangunan citra daerah. Pertanyaannya, apakah perluasan fungsi ini akan memperkuat substansi pembinaan, atau justru menggeser fokus utama?
Di sisi lain, Bupati Yani kembali menegaskan identitas Gresik sebagai kota santri. Klaim ini menuntut pembuktian yang lebih dari sekadar jumlah peserta atau kemeriahan acara.
“Gresik adalah tempatnya para santri dan penghafal Al-Qur’an,” tegasnya.
Fakta di lapangan menunjukkan, tantangan pembinaan tidak ringan. Kesenjangan kualitas antar kecamatan masih menjadi pekerjaan rumah, terutama dalam cabang-cabang yang membutuhkan pendalaman ilmu seperti tafsir dan karya tulis ilmiah Al-Qur’an.
Data panitia mencatat, MTQ XXXII diikuti 725 kafilah dari 18 kecamatan, dengan rincian 545 peserta, 90 official, dan 90 pembina. Sebanyak 110 dewan hakim dan panitera dilibatkan untuk menjaga kualitas penilaian. Angka ini mencerminkan antusiasme tinggi, namun belum tentu linier dengan kualitas output yang dihasilkan.
Selama tiga hari pelaksanaan, tujuh cabang lomba akan dipertandingkan, mulai dari Tilawah hingga Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an. Cabang terakhir menjadi indikator penting, karena menguji kemampuan peserta dalam mengontekstualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam pemikiran ilmiah—sesuatu yang kerap menjadi titik lemah dalam pembinaan.
Di sinilah MTQ XXXII menemukan relevansinya: bukan hanya melahirkan juara, tetapi mengukur apakah ekosistem pembinaan Qurani di Gresik benar-benar hidup dan berkembang.
Jika target juara umum kembali tercapai, pertanyaan berikutnya justru lebih penting: apakah itu hasil dari sistem yang kuat, atau sekadar keberhasilan sesaat dari segelintir peserta unggulan?
MTQ XXXII Balongpanggang kini bukan hanya panggung kompetisi, tetapi juga cermin—yang akan menunjukkan sejauh mana Gresik serius membangun generasi Qurani secara berkelanjutan. (Ink)


