
Jakarta, investigasi.today – Ancaman wabah penyakit mematikan kembali menghantui dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan penyebaran virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional. Keputusan ini diambil setelah jumlah korban jiwa terus melonjak dan virus mulai menyeberang ke negara tetangga, di tengah tantangan berat karena jenis virus yang menyebar ini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus.
Berdasarkan data terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Africa) per Sabtu (16/5), wabah ini telah merenggut nyawa 88 orang, dengan total 336 kasus yang dicurigai positif terinfeksi. Situasi semakin memburuk pada Minggu (17/5), saat WHO secara resmi mengklasifikasikan peristiwa ini sebagai “Public Health Emergency of International Concern” – status tertinggi peringatan kesehatan global. WHO pun mengingatkan, angka sesungguhnya kemungkinan jauh lebih besar dibanding data yang berhasil tercatat sejauh ini.
Yang membuat krisis ini sangat berisiko adalah jenis virus yang terdeteksi: strain Bundibugyo. Menteri Kesehatan DR Kongo, Samuel-Roger Kamba, menegaskan bahwa dunia belum memiliki senjata ampuh melawan varian ini.
“Strain Bundibugyo tidak memiliki vaksin, tidak ada pengobatan spesifik. Strain ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yang bisa mencapai 50 persen,” ungkap Kamba, seperti dikutip dari AFP.
Varian ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 2007, dan kini keprihatinan dunia kian memuncak karena virus ini sudah menyeberangi perbatasan. Dilaporkan, satu warga Kongo meninggal akibat virus ini setelah berkunjung ke Uganda, menandakan ancaman ini tidak lagi hanya tertahan di wilayah DR Kongo.
Pusat wabah ini berawal dari Provinsi Ituri, wilayah timur laut yang berbatasan langsung dengan Uganda dan Sudan Selatan. Kasus pertama terdeteksi pada 24 April lalu, ketika seorang perawat di Kota Bunia datang ke fasilitas kesehatan dengan gejala khas Ebola: demam tinggi, muntah, pendarahan, hingga gangguan fungsi organ tubuh.
Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) menyebut laju penyebaran penyakit ini sangat mengkhawatirkan.
“Jumlah kasus dan kematian yang kami lihat dalam waktu singkat, ditambah penyebaran ke beberapa zona kesehatan hingga lintas perbatasan, sangat mengkhawatirkan,” kata Manajer Program Darurat MSF, Trish Newport. Organisasi ini pun tengah bersiap melancarkan respons penanganan skala besar.
Di lapangan, tantangan penanganan semakin berat. Warga setempat mengeluhkan keterbatasan fasilitas isolasi, sehingga banyak pasien terpaksa dirawat di rumah dan meninggal dunia di tengah keluarga. Penanganan jenazah yang dilakukan langsung oleh keluarga tanpa prosedur medis ketat pun dikhawatirkan menjadi salah satu jalur utama penyebaran virus mematikan ini. (Ink)


