
Gresik, Investigasi.today – Tumpukan sampah yang selama ini terdampar di pesisir Pantai Kemukem, Gresik, menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak pernah selesai hanya dengan kampanye dan seremoni. Di tengah tantangan pencemaran pesisir dan degradasi ekosistem pantai, PT Freeport Indonesia (PTFI) menutup rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 dengan serangkaian aksi lapangan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, pelajar, komunitas lingkungan, hingga karyawan perusahaan.
Mengusung tema “Be the Solution, Not the Pollution: Recycle and Conserve”, perusahaan menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan membutuhkan kolaborasi lintas pihak dan tindakan yang dapat diukur dampaknya.
Salah satu kegiatan utama berlangsung di Pantai Kemukem, Desa Kramat, Kabupaten Gresik. Sekitar 400 peserta turun langsung membersihkan kawasan pesisir yang selama ini menjadi titik akumulasi sampah kiriman dari aliran sungai. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 1,6 ton sampah berhasil dikumpulkan dari area sekitar 500 meter persegi.
Temuan tersebut sekaligus menggambarkan besarnya tekanan yang dihadapi ekosistem pesisir. Pantai Kemukem merupakan kawasan yang berdekatan dengan ekosistem mangrove bernilai ekologis tinggi, namun secara bersamaan menghadapi ancaman pencemaran akibat sampah yang terbawa arus dari wilayah hulu.
Seluruh sampah yang terkumpul kemudian dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah anorganik disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang, sampah organik diolah menjadi kompos, sementara residu ditangani sesuai prosedur oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik. Pendekatan ini menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat Waste for Waste, yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi warga setempat.
Wakil Presiden Direktur PTFI, Jenpino Ngabdi, menegaskan bahwa keberhasilan operasional perusahaan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab lingkungan.
“Bagi kami, komitmen terhadap lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian integral dari keberlanjutan operasional serta tanggung jawab kepada pemerintah dan masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah daerah menilai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan memerlukan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya pemerintah.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, mengatakan aksi yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan simbolis.
“Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata dan komitmen berkelanjutan dalam menjaga lingkungan. Mulai dari aksi bersih pantai hingga penanaman mangrove, langkah-langkah ini menjadi contoh yang menginspirasi,” katanya.
Bagi masyarakat pesisir, dampak program tersebut mulai dirasakan secara langsung. Afandi, nelayan asal Desa Kramat, mengatakan kondisi lingkungan di sekitar pantai kini menunjukkan perubahan yang lebih baik.
“Warga diberdayakan dan lingkungan kami menjadi lebih bersih. Sekarang pasir-pasir pantai mulai terlihat kembali dan harapannya ekosistem laut juga semakin baik sehingga ikan-ikan kembali datang,” ujarnya.
Tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, rangkaian penutupan Hari Lingkungan Hidup juga diisi dengan penanaman mangrove di Desa Karangrejo. Kegiatan yang melibatkan sekitar 350 peserta itu menggunakan pendekatan silvofishery, yakni model yang mengintegrasikan konservasi mangrove dengan aktivitas budidaya tambak.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena tidak hanya menjaga fungsi ekologis kawasan pesisir sebagai penahan abrasi dan penyerap karbon, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat melalui sektor perikanan. Penanaman di Karangrejo merupakan bagian dari target PTFI untuk menanam 50.000 bibit mangrove di kawasan konservasi yang dikelola perusahaan.
Sepanjang peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026, PTFI juga menggelar berbagai kegiatan edukasi dan pemberdayaan publik, mulai dari Environmental Awareness Workshop, Student Exhibition, hingga program konservasi sungai yang melibatkan pelajar melalui pendekatan Citizen Science. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat kesadaran lingkungan sekaligus mendorong partisipasi generasi muda dalam pengelolaan sumber daya alam.
Di internal perusahaan, keterlibatan karyawan dan kontraktor diwujudkan melalui sejumlah program seperti donor darah, kegiatan housekeeping dan pemilahan sampah, Environmental Smart Quiz, seminar Lunch & Learn, serta Monthly Contractor Meeting. Berbagai kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat budaya keselamatan, kepatuhan, dan keberlanjutan dalam operasional perusahaan.
Penutupan Hari Lingkungan Hidup 2026 menjadi penegasan bahwa isu lingkungan tidak cukup dijawab dengan slogan. Dari pengangkatan 1,6 ton sampah di pesisir Gresik hingga rehabilitasi kawasan mangrove, tantangan terbesar tetap terletak pada konsistensi menjaga kolaborasi dan memastikan dampak jangka panjang bagi masyarakat maupun lingkungan.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pesisir, aksi-aksi semacam ini menjadi pengingat bahwa solusi lingkungan hanya akan berjalan ketika seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama, dari ruang kebijakan hingga garis pantai. (Ink)


