Saturday, July 25, 2026
HomeBerita BaruLifestyleRasa Aman Kunci Keberanian Anak: Hubungan Dekat Bantu Mereka Melapor Kekerasan

Rasa Aman Kunci Keberanian Anak: Hubungan Dekat Bantu Mereka Melapor Kekerasan

Jakarta, investigasi.today – Keberanian anak untuk mengungkapkan dan melapor kasus kekerasan sangat bergantung pada kualitas hubungan serta rasa aman yang mereka bangun dengan orang dewasa di sekitarnya. Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog menegaskan, ikatan yang hangat dan responsif atau yang dikenal dalam psikologi perkembangan sebagai secure attachment, menjadi benteng perlindungan paling krusial bagi anak.

“Anak yang merasa didengar, dipercaya, dan tidak dihakimi akan lebih berani mengungkapkan pengalaman yang dialaminya serta mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang membahayakan,” ujar Ocha dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, ketika menghadapi ancaman atau kekerasan, langkah awal yang paling penting bagi anak adalah mendekati orang dewasa yang dipercaya—baik itu orang tua, guru, kerabat, maupun psikolog—yang mampu memberikan rasa nyaman untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi. Setelah mendapatkan dukungan dan perlindungan emosional, barulah kasus dapat dilanjutkan ke pihak berwenang seperti UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, kepolisian, atau lembaga bantuan hukum sesuai kebutuhan.

Di Balik Keheningan Anak: Mekanisme Bertahan Hidup yang Sering Disalahpahami
Ocha mengingatkan masyarakat untuk tidak terjebak pandangan keliru bahwa anak yang diam berarti menutupi kebenaran atau menolak dibantu. Kenyataannya jauh lebih kompleks. Kemampuan anak memproses dan menceritakan pengalaman traumatis masih berkembang, sehingga sering kali mereka tidak mampu menyusun peristiwa menjadi narasi yang runtut.

Bahkan saat menghadapi bahaya, otak anak mengaktifkan mekanisme bertahan hidup (survival response). Sebagian mungkin bereaksi melawan atau menghindar, namun banyak juga yang memilih “membeku” atau tampak datar dan diam—bukan karena tidak terluka, melainkan karena sistem saraf sedang melindungi diri dari tekanan yang luar biasa berat.

“Tidak jarang mereka hanya menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau menghindari orang tertentu, tanpa mampu menjelaskan penyebabnya,” jelas anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) ini.

Kondisi ini diperparah jika lingkungan tidak mendukung: rasa takut akan ancaman pelaku, kekhawatiran tidak dipercaya, rasa bersalah, atau pengalaman diabaikan saat pernah bercerita sebelumnya membuat anak memilih bungkam. Hal ini menjadi beban berat terutama jika pelaku adalah orang terdekat seperti keluarga atau guru, menimbulkan konflik batin yang mendalam.

Panggilan Kesadaran di Hari Anak Nasional
Catatan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) tahun 2025 menunjukkan keprihatinan: tercatat 35.131 kasus kekerasan, dan sebanyak 23.043 kasus atau 65,59 persen di antaranya dialami oleh anak.

Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mengangkat tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026. Pesannya tegas: perlindungan anak bukan sekadar tugas pemerintah atau keluarga, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi pertumbuhan generasi penerus. (Naf)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular