Tuesday, September 8, 2026
HomeBerita BaruJatimBawang Merah Tajuk Nganjuk Makin Moncer, Produktivitas Tembus 20 Ton per Hektare...

Bawang Merah Tajuk Nganjuk Makin Moncer, Produktivitas Tembus 20 Ton per Hektare Lewat Pestani Petrokimia Gresik

Nganjuk, Investigasi.today – Bawang merah bukan sekadar komoditas pertanian. Di balik setiap kilogram hasil panen, ada persoalan produktivitas, kualitas, biaya produksi hingga ketahanan pangan yang ikut dipertaruhkan.

Persoalan itu coba dijawab PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan solusi agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), melalui program Pestani Bawang Merah Nyawiji di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Hasilnya mulai terlihat. Melalui demonstration plot (demplot) program tersebut, produktivitas bawang merah varietas lokal unggulan Tajuk (Tanaman Asli Nganjuk) mencapai 20 ton per hektare, naik sekitar 11–12 persen dibandingkan hasil panen sebelumnya yang berada di kisaran 18 ton per hektare.

Capaian itu menjadi salah satu indikator bahwa peningkatan produktivitas tidak semata ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga oleh ketepatan budidaya, pemenuhan nutrisi tanaman, teknologi, serta pendampingan yang dilakukan secara konsisten.

Program yang berlangsung sejak Maret hingga September 2026 tersebut melibatkan 120 petani dari enam kecamatan, yakni Wilangan, Bagor, Rejoso, Nganjuk, Sukomoro, dan Gondang.

Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, mengatakan bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis dengan nilai ekonomi tinggi sekaligus memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, menurut dia, peningkatan produktivitas dan kualitas bawang merah harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan petani sekaligus menjaga ketersediaan pangan.

“Petrokimia Gresik ingin hadir lebih dekat dengan petani. Kami tidak ingin berhenti pada penyediaan pupuk, tetapi juga terus mendorong edukasi pemupukan berimbang, layanan uji tanah, pendampingan budidaya, pemanfaatan teknologi pertanian, serta penguatan ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir,” ujar Adityo, yang akrab disapa Adit.

Nganjuk dan Pertaruhan Bawang Merah Nasional

Jawa Timur memiliki posisi penting dalam peta produksi bawang merah nasional.

Data 2024 menunjukkan produksi bawang merah Jawa Timur mencapai 476.666 ton dari luas panen sekitar 53.681 hektare. Sementara produksi nasional mencapai 2.085.721 ton dengan luas panen sekitar 188.561 hektare.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya kontribusi Jawa Timur terhadap pasokan bawang merah nasional.

Di tingkat daerah, Nganjuk menjadi salah satu sentra utama bawang merah. Kekuatan itu semakin menonjol dengan keberadaan varietas lokal Tajuk yang dikenal memiliki karakter umbi berkualitas, warna menarik, ukuran relatif seragam, serta daya simpan yang baik.

Adit menyebut Nganjuk menempati posisi kedua nasional dari sisi produksi bawang merah. Sementara varietas Tajuk disebut sebagai benih bawang merah nomor satu secara nasional.

Potensi besar tersebut sekaligus menghadirkan tantangan: bagaimana mempertahankan kualitas sekaligus mengerek produktivitas petani secara berkelanjutan.

Di titik inilah Pestani Bawang Merah Nyawiji diarahkan.

“Pestani bukan sekadar kompetisi. Pestani kami hadirkan sebagai ruang bagi para petani untuk belajar, berbagi pengalaman, membangun kolaborasi, sekaligus menunjukkan praktik budidaya terbaik pada komoditas unggulan daerah,” kata Adit.

Bukan Sekadar Mengejar Tonase

Pestani Bawang Merah Nyawiji tidak hanya mengukur keberhasilan dari seberapa banyak bawang merah yang dipanen.

Dalam kompetisi budidaya tersebut, petani juga didorong memperhatikan kualitas hasil, antara lain melalui parameter keseragaman umbi, berat panen, serta dokumentasi proses budidaya.

Pendekatan tersebut penting karena peningkatan produksi tanpa diikuti kualitas belum tentu memberikan nilai ekonomi optimal bagi petani.

Karena itu, praktik budidaya dalam program Pestani diarahkan agar petani mampu menghasilkan komoditas dengan produktivitas sekaligus kualitas yang lebih baik.

Hasilnya terlihat dari demplot program. Produktivitas yang sebelumnya sekitar 18 ton per hektare meningkat menjadi 20 ton per hektare.

“Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan budidaya yang tepat, pemenuhan nutrisi tanaman secara optimal, serta pendampingan yang konsisten memiliki potensi memberikan hasil yang lebih baik bagi petani. Praktik-praktik terbaik seperti inilah yang ingin terus kami kembangkan dan sebarkan melalui Pestani,” ujar Adit.

Dalam proses budidayanya, peserta mengaplikasikan sejumlah produk Petrokimia Gresik, di antaranya Phonska Lite, K Plus, Phonska Cair, Phonska Oca Plus, ZA Plus, SP-36 Petro, Petro Biofertil, dan Petroganik Premium sebagai sumber nutrisi tanaman.

“Nyawiji” Bukan Sekadar Nama

Nama “Nyawiji” memiliki makna menyatukan langkah. Filosofi tersebut menjadi pijakan Petrokimia Gresik dalam membangun ekosistem pertanian yang tidak berhenti pada hubungan antara perusahaan dan petani.

Sebab, tantangan pertanian hari ini semakin kompleks. Petani tidak hanya dituntut menghasilkan panen dalam jumlah besar, tetapi juga menjaga kualitas, efisiensi penggunaan sarana produksi, serta meningkatkan daya saing komoditas.

Karena itu, penguatan pertanian membutuhkan keterlibatan banyak pihak—mulai petani, pemerintah, dunia usaha, hingga pemangku kepentingan lainnya.

“Untuk memajukan pertanian, kita harus menyatukan langkah antara petani, pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, Pestani Bawang Merah Nyawiji kami harapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat bawang merah Nganjuk,” tutur Adit.

Rangkaian program tersebut juga tidak berhenti pada aktivitas di lahan. Pestani Bawang Merah Nyawiji diisi dengan sarasehan bersama petani dan pemangku kepentingan, panen bersama, serta pemberian penghargaan kepada petani berprestasi.

Forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus mengevaluasi praktik budidaya yang telah dilakukan selama program berlangsung.

Bagi petani, pola pendampingan seperti ini memberikan pengalaman yang lebih konkret karena proses pembelajaran berlangsung langsung di lahan dan dapat dibandingkan dengan hasil panen yang diperoleh.

Petani asal Kecamatan Gondang, Suheri, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Petrokimia Gresik. Menurutnya, program tersebut memberikan tambahan pengetahuan sekaligus memperkenalkan penggunaan sarana produksi pertanian yang dinilai mampu mendukung produktivitas dan kualitas tanaman.

“Kami dalam kegiatan ini mendapatkan informasi terkait pupuk-pupuk nonsubsidi yang terbukti mendorong peningkatan produktivitas bawang merah. Alhamdulillah tanaman hasilnya berkualitas,” ujar Suheri.

Pestani Tak Berhenti di Bawang Merah

Penguatan komoditas bawang merah melalui Pestani Bawang Merah Nyawiji merupakan bagian dari program pemberdayaan petani Petrokimia Gresik yang dikembangkan di sejumlah wilayah Jawa Timur.

Program serupa diterapkan pada berbagai komoditas unggulan sesuai karakteristik dan potensi masing-masing daerah.

Selain Pestani Bawang Merah Nyawiji di Nganjuk, terdapat Pestani Rawit yang mencakup wilayah Malang, Probolinggo, Mojokerto, Kediri, dan Blitar.

Kemudian Pestani Melon Pantura yang mencakup Tuban, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, dan Lamongan, serta Pestani Semangka Tapal Kuda yang meliputi Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.

Pola tersebut menunjukkan pendekatan Petrokimia Gresik yang menempatkan potensi komoditas dan karakteristik wilayah sebagai bagian penting dalam pemberdayaan petani.

Dengan demikian, Pestani tidak sekadar menjadi ajang kompetisi hasil pertanian, tetapi diarahkan sebagai ruang untuk menguji praktik budidaya, membangun pengetahuan, memperkuat jejaring petani, sekaligus menyebarluaskan praktik terbaik ke wilayah lain.

Bagi Nganjuk, tantangannya kini bukan sekadar mempertahankan status sebagai salah satu sentra bawang merah nasional. Lebih jauh, bagaimana produktivitas dan kualitas varietas lokal Tajuk dapat terus ditingkatkan sehingga memberikan nilai ekonomi yang semakin besar bagi petani.

Petrokimia Gresik menilai peningkatan produktivitas di tingkat lahan merupakan salah satu fondasi penting dalam memperkuat sektor pertanian.

“Petrokimia Gresik berkomitmen untuk terus tumbuh dan berkembang bersama petani. Kami percaya, ketika petani semakin produktif dan sejahtera, maka pertanian akan semakin kuat. Dan ketika pertanian semakin kuat, ketahanan pangan Jawa Timur dan Indonesia akan semakin kokoh,” pungkas Adit.

Dari lahan bawang merah di Nganjuk, pesan yang ingin dibangun cukup jelas: meningkatkan ketahanan pangan tidak cukup hanya berbicara tentang produksi. Petani harus menjadi bagian utama dari ekosistem yang membuat produktivitas, kualitas, dan kesejahteraan berjalan beriringan. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular