Sunday, August 2, 2026
HomeBerita BaruJatimDi Tengah Lesunya Pasar, Peternak Kambing Gresik Bangun Strategi Baru dari Kandang...

Di Tengah Lesunya Pasar, Peternak Kambing Gresik Bangun Strategi Baru dari Kandang hingga Hilirisasi

Gresik, Investigasi.today – Di tengah tekanan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan masih maraknya pencurian ternak, puluhan peternak kambing di Desa Cangaan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, memilih tidak berdiam diri. Mereka membangun kekuatan dari akar rumput melalui forum “Mepe Kambing Bareng”, Minggu (2/8/2026), sebagai ruang konsolidasi untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas genetik ternak, hingga menyusun strategi pemasaran yang lebih berkelanjutan.

Forum ini mempertemukan peternak dari Cangaan dan sejumlah desa di sekitarnya. Yang dibahas bukan sekadar teknik beternak, tetapi persoalan mendasar yang selama ini menjadi tantangan peternakan rakyat: rendahnya nilai tambah, lemahnya akses pasar, ancaman keamanan, hingga pentingnya membangun kelembagaan peternak yang kuat.

Dua narasumber, dr. Viki Mustofa dan peternak kambing Samsul Arifin, menegaskan bahwa masa depan peternakan kambing tidak lagi bergantung pada pola pemeliharaan tradisional, melainkan pada profesionalisme, efisiensi produksi, dan kemampuan membaca peluang pasar.

Menurut dr. Viki, peternakan kambing memiliki prospek ekonomi yang besar apabila dikelola secara modern dan berbasis kelompok. Ia mencontohkan perkembangan kelompok peternak di Desa Serembi yang berhasil tumbuh dari sekitar 10 anggota menjadi 38 anggota dengan populasi mencapai ratusan ekor.

Keberhasilan tersebut, katanya, bukan terjadi secara instan, melainkan dibangun melalui peningkatan kualitas bibit lewat program persilangan (crossbreeding), manajemen pemeliharaan yang lebih disiplin, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Nilai jual ternak sangat dipengaruhi kualitas genetik. Karena itu, peningkatan mutu bibit menjadi investasi jangka panjang yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.

Limbah yang Bernilai Ekonomi

Selain peningkatan produktivitas, dr. Viki menilai masih banyak potensi ekonomi peternakan yang belum dimanfaatkan secara maksimal, salah satunya limbah ternak.

Kotoran kambing yang selama ini sering dibakar atau dibuang begitu saja sebenarnya memiliki nilai jual sebagai bahan baku pupuk organik. Melalui pola pengumpulan yang terorganisasi, limbah tersebut dapat dijual tanpa peternak harus menanggung biaya pengangkutan.

Pendekatan ini dinilai mampu membuka sumber pendapatan baru sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat pengelolaan limbah yang tidak tepat.

Efisiensi Pakan Menjadi Kunci

Sementara itu, Samsul Arifin membagikan pengalaman mengelola peternakan berskala besar yang setiap hari menghabiskan sekitar 800 kilogram hingga satu ton pakan.

Menurutnya, keberhasilan usaha ternak tidak hanya ditentukan oleh jumlah kambing yang dipelihara, tetapi juga kemampuan mengelola biaya produksi, terutama pakan yang menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan.

Ia menerapkan kombinasi hijauan dan pakan kering berbahan dedak, jagung, serta bahan baku lain yang disiapkan secara mandiri untuk menjaga kualitas nutrisi sekaligus menekan biaya produksi.

Samsul juga membuka kesempatan bagi peternak yang ingin belajar langsung di kandangnya agar praktik budidaya dapat dipahami secara nyata.

Pemasaran Masih Menjadi Titik Lemah

Diskusi berlangsung dinamis. Salah satu peserta dari Kecamatan Bungah menyoroti persoalan yang selama ini dirasakan peternak, yakni pemasaran kambing yang belum stabil.

Ia berharap pemerintah, khususnya Dinas Peternakan, tidak berhenti pada program budidaya, tetapi juga memperkuat akses pasar sehingga peternak memperoleh kepastian harga dan jaringan penjualan yang lebih luas.

Menanggapi hal itu, dr. Viki mengakui bahwa penjualan kambing hidup memang mengalami perlambatan seiring melemahnya daya beli masyarakat. Namun kondisi tersebut bukan berarti peluang usaha tertutup.

Menurutnya, peternak harus mulai bergeser dari sekadar menjual ternak hidup menuju pengembangan produk bernilai tambah, seperti daging segar, usaha akikah, sate kambing, hingga berbagai produk olahan.

Ia juga menekankan pentingnya legalitas usaha dan sertifikasi halal agar produk mampu menembus pasar yang lebih luas.

“Daging kambing memiliki kandungan protein tinggi dengan kadar lemak yang relatif rendah. Edukasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan agar konsumsi daging kambing meningkat,” jelasnya.

Keamanan Kandang Jadi Sorotan

Persoalan lain yang mencuat dalam forum adalah masih terjadinya pencurian ternak yang merugikan peternak.

Dr. Viki menilai persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada individu peternak, melainkan harus menjadi tanggung jawab bersama melalui penguatan kelembagaan kelompok, sistem ronda bergilir, serta kolaborasi dengan pemerintah desa dan aparat keamanan.

Kepala Desa Canggaan, Fakhrur Rozi, mengatakan pemerintah desa telah memasang CCTV di sejumlah titik strategis serta mengoptimalkan peran Linmas dan pemuda dalam menjaga keamanan lingkungan.

Namun ia mengakui bahwa lokasi kandang yang tersebar di berbagai titik membuat pengawasan belum sepenuhnya efektif.

Karena itu, pemerintah desa tengah menggagas pembangunan kawasan peternakan terpadu yang akan menempatkan kandang-kandang peternak dalam satu kawasan dengan pagar, gerbang, serta sistem pengamanan bersama.

Model tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan keamanan, tetapi juga mempermudah pembinaan, pelayanan kesehatan hewan, hingga pengembangan usaha peternakan secara kolektif.

Forum “Mepe Kambing Bareng” akhirnya menjadi lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa peternakan rakyat mulai bergerak membangun ekosistem usaha yang lebih modern, mulai dari peningkatan kualitas bibit, efisiensi produksi, pemanfaatan limbah, penguatan kelembagaan, hingga hilirisasi produk. Tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan pemerintah hadir bukan hanya pada sisi budidaya, tetapi juga membuka akses pasar yang mampu meningkatkan kesejahteraan peternak secara berkelanjutan. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular