Sunday, August 23, 2026
HomeBerita BaruJatimLasem Meledak! Dari Spiderman, Prabu Siliwangi hingga “Oligarki Korupsi Hukum Mati”

Lasem Meledak! Dari Spiderman, Prabu Siliwangi hingga “Oligarki Korupsi Hukum Mati”

Gresik, Investigasi.today – Jangan buru-buru menganggap Karnaval Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, sebagai sekadar pesta kostum.

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, jalanan Desa Lasem berubah menjadi panggung terbuka tempat warga bukan hanya mempertontonkan kreativitas, tetapi juga menyampaikan pesan melalui tarian, kostum, ogoh-ogoh hingga satire sosial.

Hampir seluruh elemen masyarakat ikut bergerak. Warga, Karang Taruna, RT dan RW tampil dalam satu parade. Masing-masing RT bahkan berlomba menyuguhkan kreasi terbaiknya.

Hasilnya bukan karnaval biasa.

Ada budaya, humor, identitas lokal, kreativitas anak muda hingga kritik sosial yang dibungkus dalam karya seni.

Berbagai tarian ditampilkan dengan kostum yang merepresentasikan kekayaan budaya Nusantara. Peserta tampil membawa karakter dan pakaian dari berbagai daerah, berpadu dengan kostum-kostum unik yang membuat suasana sepanjang jalur karnaval semakin semarak.

Ada Spiderman.

Ada kostum khas Dayak.

Ada pula peserta yang tampil dengan seragam TNI, selain berbagai kostum unik dan nyentrik lainnya.

Tetapi pusat perhatian justru beralih ketika ogoh-ogoh mulai diarak.

Dari Prabu Siliwangi hingga Kritik Oligarki

Kreativitas warga Lasem seolah tidak mengenal batas.

Satu per satu ogoh-ogoh hadir dengan bentuk dan karakter berbeda.

Ada Prabu Siliwangi menaiki Macan Putih yang tampil gagah dan sarat simbol kepahlawanan.

Ada banteng, singa, hingga Wisnu Kencana.

Ada pula gambaran kehidupan masyarakat melalui figur kambing dan petani, serta kafilah yang menaiki unta.

Namun dua karya lainnya tampil dengan pesan yang jauh lebih menggelitik.

Sebuah keranda mayat dihadirkan dengan tulisan:

“Mati Budal Dewe, Gak Ngerepotin Tanggane.”

Humor khas warga itu sekilas mengundang tawa. Namun di balik kelucuannya, ada pesan sederhana tentang kehidupan: pada akhirnya setiap manusia akan berangkat sendiri dan tidak selamanya bisa merepotkan orang lain.

Lalu muncul ogoh-ogoh dengan pesan yang lebih keras:

“Oligarki Korupsi – Hukum Mati.”

Pesan tersebut menjadikan karnaval Desa Lasem memiliki dimensi berbeda.

Warga berbicara tanpa mikrofon. Mereka menyampaikan pesan melalui seni.

Tidak melalui demonstrasi.

Tidak melalui panggung politik.

Melainkan melalui sebuah ogoh-ogoh yang diarak di tengah pesta rakyat.

Tentu, pesan tersebut merupakan ekspresi kreatif warga dan tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai pernyataan sikap pemerintah desa. Namun justru di situlah menariknya karnaval Lasem: ruang publik berubah menjadi ruang ekspresi masyarakat.

Setiap RT Berlomba, Satu Desa Tetap Bersatu

Kekuatan kegiatan ini bukan hanya pada bentuk kostum dan ogoh-ogoh.

Yang lebih penting adalah partisipasi masyarakat.

Setiap RT berusaha menampilkan kreasi terbaik. Karang Taruna ikut mengambil peran. RW menjadi bagian dari pengorganisasian masyarakat. Warga dari berbagai kelompok usia ikut ambil bagian.

Ada kompetisi, tetapi tidak ada sekat.

Setiap RT boleh ingin menjadi juara, tetapi semuanya tetap berjalan dalam satu barisan sebagai warga Desa Lasem.

Semangat seperti ini bukan hal baru bagi Lasem.

Dalam karnaval sebelumnya, warga dari 12 RT juga pernah tampil membawa keberagaman budaya Nusantara. Karnaval bahkan menjadi ruang edukasi kebhinekaan sekaligus memperlihatkan kuatnya gotong royong masyarakat.

Desa Lasem juga memiliki rekam jejak prestasi. Pada 2023, Lasem meraih Juara I Lomba Desa/Kelurahan tingkat Kabupaten Gresik. Capaian tersebut tidak dilepaskan dari kerja bersama pemerintah desa dan masyarakat.

Kini, semangat tersebut kembali terlihat.

Bukan dalam bentuk lomba administrasi desa.

Bukan dalam rapat di balai desa.

Tetapi di jalanan.

Warga menunjukkan sendiri bagaimana sebuah desa bisa hidup ketika masyarakatnya mau bergerak bersama.

Khoiri: Jangan Hanya Meriah Saat Karnaval

Kepala Desa Lasem, Khoiri, S.Pd, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, karnaval bukan semata-mata tentang kemeriahan atau perlombaan antarr RT.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menunjukkan kreativitas.

“Karnaval ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah momentum bagaimana seluruh warga bisa berkumpul, berkreasi dan bergerak bersama. Setiap RT boleh berlomba menjadi yang terbaik, tetapi setelah itu kita tetap satu keluarga besar Desa Lasem.”

Khoiri mengaku bangga melihat kreativitas masyarakat yang mampu menghadirkan berbagai karakter, budaya dan karya dalam satu parade.

“Saya melihat masyarakat Lasem memiliki kreativitas yang luar biasa. Ada budaya Nusantara, ada kostum unik, ada tarian, ada ogoh-ogoh yang dibuat dengan penuh kreativitas. Ini harus kita jaga dan terus kita berikan ruang.”

Ia secara khusus mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton.

“Karang Taruna dan anak-anak muda jangan hanya menjadi penonton. Jadilah pelaku. Desa membutuhkan energi, kreativitas dan gagasan anak muda. Kalau anak muda bergerak, desa akan semakin hidup.”

Menurut Khoiri, kemajuan desa tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik.

“Desa yang maju bukan hanya desa yang jalannya bagus atau pembangunannya berjalan. Yang lebih penting adalah masyarakatnya guyub, kompak dan memiliki rasa memiliki terhadap desanya.”

Ia berharap semangat kebersamaan yang terlihat dalam karnaval terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap setelah karnaval selesai, semangat gotong royong ini tidak ikut selesai. Kita tetap saling membantu, tetap guyub dan bersama-sama membangun Desa Lasem. Karena kekuatan terbesar desa sebenarnya ada pada warganya.”

Karnaval yang Menjadi Cermin Desa

Pada akhirnya, Karnaval Desa Lasem 2026 bukan hanya tentang siapa yang mengenakan kostum paling menarik.

Bukan pula semata-mata tentang siapa yang membuat ogoh-ogoh paling besar.

Di balik Spiderman, Dayak, seragam TNI, tarian Nusantara, Prabu Siliwangi dengan Macan Putih, banteng, singa, Wisnu Kencana, kambing dan petani, kafilah berkendara unta, keranda “mati budal dewe” hingga “Oligarki Korupsi Hukum Mati”, ada cerita tentang sebuah desa yang masih memiliki energi sosial.

Energi untuk berkarya.

Energi untuk bergotong royong.

Dan, yang tidak kalah penting, energi untuk menyampaikan suara melalui kreativitas.

Lasem menunjukkan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan suara keras.

Kadang ia cukup dibuat dari bambu, kertas, cat, kostum dan kreativitas warga—kemudian diarak melewati jalan kampung.

Sebab ketika warga diberi ruang untuk berekspresi, jalan desa pun bisa berubah menjadi panggung tempat rakyat berbicara.

Dan di Lasem, Sabtu itu, mereka memilih berbicara lewat karnaval. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular