
GRESIK, Investigasi.today – Infrastruktur pelabuhan menjadi salah satu penopang penting kelancaran rantai pasok industri. PT Petrokimia Gresik (Persero), anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), mengoptimalkan fasilitas kepelabuhanan yang dimilikinya untuk melayani kebutuhan logistik perusahaan eksternal sekaligus meningkatkan produktivitas aset.
Komitmen tersebut diperkuat melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Gresik. Kerja sama ini merupakan tindak lanjut atas persetujuan perpanjangan kedua izin Terminal untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) Petrokimia Gresik agar sementara dapat melayani kepentingan umum.
Penandatanganan PKS tentang pelayanan jasa kepelabuhanan itu dilakukan Direktur Operasi dan Produksi Petrokimia Gresik, Majus Luther Sirait, bersama Kepala KSOP Kelas II Gresik, Capt. Herbert Elisa Paruntungan Marpaung, di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Direktur Operasi dan Produksi Petrokimia Gresik, Majus Luther Sirait, menegaskan bahwa optimalisasi pelabuhan tidak hanya ditujukan untuk menunjang kebutuhan internal perusahaan. Infrastruktur tersebut juga diharapkan mampu memperkuat konektivitas logistik dan membantu kelancaran distribusi barang maupun bahan baku bagi pelaku industri di Gresik dan sekitarnya.
“Pelabuhan memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok industri. Kami ingin fasilitas kepelabuhanan Petrokimia Gresik tidak hanya memberikan manfaat bagi operasional perusahaan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi logistik bagi pelaku industri,” ujar Luther.
Kapasitas 8,47 Juta Ton per Tahun
Petrokimia Gresik memiliki empat dermaga, dengan tiga di antaranya saat ini beroperasi. Ketiga dermaga tersebut memiliki kapasitas pelayanan maksimal gabungan mencapai 8,47 juta ton per tahun, menjadikannya salah satu infrastruktur pendukung logistik industri yang strategis di kawasan Gresik.
Rinciannya, Dermaga Utama memiliki kapasitas maksimal 6,5 juta ton per tahun dan mampu melayani kapal hingga 60.000 Deadweight Tonnage (DWT). Dermaga C berkapasitas 1,5 juta ton per tahun dengan kemampuan melayani tongkang hingga 10.000 DWT. Sementara itu, Dermaga UBB memiliki kapasitas 470 ribu ton per tahun dan juga mampu melayani tongkang hingga 10.000 DWT.
Kapasitas tersebut membuka peluang pemanfaatan infrastruktur secara lebih produktif, baik untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan maupun memenuhi kebutuhan logistik pengguna jasa eksternal, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Namun, besarnya kapasitas terpasang tidak serta-merta menunjukkan volume layanan yang telah terealisasi. Tingkat pemanfaatan aktual, volume barang yang ditangani, serta kontribusi layanan eksternal terhadap pendapatan menjadi indikator penting untuk melihat sejauh mana potensi infrastruktur tersebut telah dioptimalkan.
Smelting dan PWD Jadi Pengguna Jasa
Sejak memperoleh izin untuk sementara melayani kepentingan umum pada 2022, fasilitas kepelabuhanan Petrokimia Gresik telah dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan industri.
Untuk periode 2026–2028, Smelting dan PWD tercatat sebagai pengguna jasa. Keberlanjutan pemanfaatan tersebut memperlihatkan bahwa fasilitas pelabuhan Petrokimia Gresik turut mengambil peran dalam mendukung aktivitas logistik mitra industri.
Bagi perusahaan, pengembangan layanan eksternal juga menjadi strategi untuk meningkatkan nilai guna aset yang telah tersedia. Selain menopang bisnis utama di sektor pupuk dan bahan kimia, pemanfaatan pelabuhan berpotensi membuka sumber pendapatan tambahan sekaligus memperluas kontribusi perusahaan terhadap ekosistem industri di wilayah sekitarnya.
“Bagi kami, fasilitas pelabuhan bukan sekadar aset fisik, tetapi infrastruktur produktif yang memiliki nilai strategis bagi dunia industri. Optimalisasinya harus mampu menghadirkan dua manfaat sekaligus, yakni menjaga keandalan operasional perusahaan dan membuka peluang layanan yang memberikan nilai tambah bagi mitra usaha,” jelas Luther.
Keselamatan dan Keandalan Tetap Jadi Prioritas
Optimalisasi layanan kepelabuhanan tersebut dilakukan melalui sinergi dengan KSOP Kelas II Gresik. Kolaborasi dengan otoritas pelabuhan menjadi bagian penting untuk memastikan pelayanan bagi pengguna jasa eksternal berjalan sesuai ketentuan, dengan tetap mengutamakan keselamatan, keamanan, dan keandalan operasional.
Luther mengapresiasi dukungan KSOP Kelas II Gresik dalam menjaga keberlanjutan layanan tersebut. Ia berharap fasilitas kepelabuhanan Petrokimia Gresik dapat terus mendukung aktivitas industri, memberikan manfaat bagi mitra usaha, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Gresik dan kawasan sekitarnya.
Dengan kapasitas pelayanan maksimal 8,47 juta ton per tahun, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan operasional dermaga, melainkan memastikan infrastruktur tersebut dimanfaatkan secara efektif, memenuhi kebutuhan pengguna jasa, dan menghasilkan nilai tambah yang terukur bagi perusahaan maupun industri di sekitarnya. (Ink)


