
Bonai Subiyakto: Jangan Dijual, Rawat dan Jaga Baik-Baik agar Menjadi Berkah bagi Keluarga
Gresik, investigasi.today – Upaya menghapus kawasan hunian tidak layak dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah terus digencarkan di Kabupaten Gresik. Berkolaborasi dengan PT Sarana Multiguna Finansial (Persero) atau SMF, Pemerintah Kabupaten Gresik berhasil membangun dan merehabilitasi 35 unit Rumah Layak Huni (RLH) di Desa Pulopancikan dengan total nilai bantuan mencapai Rp1,25 miliar.
Program yang dibiayai melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT SMF tersebut diresmikan dan diserahterimakan pada Kamis (21/5/2026). Kehadiran puluhan rumah baru yang lebih kokoh, sehat, dan aman menjadi bukti nyata sinergi pemerintah dan dunia usaha dalam mendukung program nasional penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sekaligus sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan target Program Strategis Nasional (PSN) pembangunan 3 juta rumah.
Prosesi penyerahan kunci secara simbolis dilakukan Direktur Keuangan dan Risiko SMF, Bonai Subiyakto, kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik, Achmad Washil Miftahul Rachman, disaksikan jajaran Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Pemerintah Kabupaten Gresik, serta para penerima manfaat.
Pulopancikan Bangkit dari Label Kawasan Kumuh
Sekda Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman menegaskan bahwa pembangunan rumah layak huni merupakan salah satu prioritas dalam RPJMD Kabupaten Gresik 2025–2029. Program tersebut menjadi bagian dari upaya percepatan pengurangan rumah tidak layak huni (RTLH) yang masih menjadi pekerjaan besar pemerintah daerah.
Berdasarkan data Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (CKPKP) Gresik, saat ini terdapat hampir 5.000 unit RTLH yang masuk kategori desil 1 dan 2. Pada tahun 2026, sebanyak 246 unit rumah akan direnovasi menggunakan APBD Kabupaten Gresik, sementara sekitar 400 unit lainnya ditargetkan mendapat penanganan pada tahun 2027.
“Kami terus berupaya mempercepat pengurangan RTLH agar masyarakat dapat tinggal di rumah yang sehat, aman, dan nyaman. Program seperti ini sangat membantu mempercepat pencapaian target tersebut,” ujar Washil.
Ia juga mengungkapkan bahwa Desa Pulopancikan yang kini menjadi lokasi program pernah masuk kategori kawasan kumuh di Kabupaten Gresik. Namun berkat kolaborasi pemerintah pusat, provinsi, pemerintah daerah, dan sektor swasta, wajah kawasan tersebut kini berubah signifikan.
“Pulopancikan perlahan keluar dari stigma kawasan kumuh. Ini menjadi contoh bahwa kolaborasi mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat,” katanya.
Rata-Rata Bantuan Hampir Rp36 Juta per Rumah
Sebanyak 35 rumah yang direhabilitasi dibangun selama empat bulan dengan nilai total anggaran Rp1.257.993.000. Besaran bantuan setiap rumah berbeda-beda, disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan luas bangunan.
“Jika dirata-ratakan, nilai bantuan sekitar Rp35,9 juta per unit,” jelas Washil.
Perubahan yang dirasakan warga pun sangat nyata. Rumah-rumah yang sebelumnya bocor saat hujan, rawan banjir, hingga tidak memenuhi standar kesehatan kini berubah menjadi hunian yang lebih layak.
“Dulu banyak yang khawatir saat musim hujan karena atap bocor dan rumah kebanjiran. Sekarang kondisi itu sudah tidak lagi terjadi. Warga bisa tinggal lebih nyaman dan tenang,” ujarnya.
SMF: Rumah Layak Huni Awal Kehidupan yang Lebih Baik
Direktur Keuangan dan Risiko SMF, Bonai Subiyakto, mengatakan program peningkatan kualitas rumah layak huni merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurutnya, program serupa telah dilaksanakan di 37 kabupaten/kota di Indonesia sejak 2018. Hingga saat ini, melalui kolaborasi dengan Kementerian PKP, SMF telah membantu pembangunan dan peningkatan kualitas 499 unit rumah di berbagai daerah.

“Rumah adalah tempat awal sebuah kehidupan dibangun. Ketika sebuah keluarga memiliki rumah yang layak, sehat, dan aman, maka peluang untuk hidup lebih baik juga semakin besar,” kata Bonai.
Ia menegaskan, keberhasilan program di Desa Pulopancikan tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Gresik yang melakukan pendataan dan verifikasi calon penerima manfaat.
“Pemerintah daerah yang mengusulkan penerima manfaat, kemudian kami melakukan persetujuan dan menyiapkan anggaran pembangunan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Bonai juga menitipkan pesan khusus kepada para penerima manfaat agar menjaga rumah yang telah dibangun.
“Kami berharap rumah ini dijaga dan dirawat dengan baik. Jangan sampai dijual. Semoga keberadaan rumah ini menjadi berkah dan membawa kehidupan yang lebih baik bagi keluarga penerima manfaat,” pesannya.
Dukungan Nyata untuk Program 3 Juta Rumah
Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Jawa IV, Enfy Diana Dewi, menilai kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan pencapaian target nasional penyediaan hunian layak.
Menurutnya, Program 3 Juta Rumah sebagai salah satu Program Strategis Nasional tidak mungkin dijalankan pemerintah sendiri tanpa dukungan berbagai pihak.
“Diperlukan sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Karena itu kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT SMF dan seluruh pihak yang terlibat dalam program ini,” ujarnya.
“Sekarang Saya Tidak Takut Hujan Lagi”
Kebahagiaan paling nyata terlihat dari wajah para penerima manfaat. Salah satunya Titik Hartiningsih, warga Jalan KH Zubair Gang XXXIII, Desa Pulopancikan.
Perempuan tersebut mengaku kini tidak lagi cemas ketika hujan turun. Rumahnya yang sebelumnya semi permanen dan kerap mengalami kebocoran telah berubah menjadi hunian yang lebih aman dan nyaman.
“Saya sekarang tidak takut hujan lagi karena rumah sudah tidak bocor dan tidak kebanjiran,” ungkapnya penuh syukur.
Rumah seluas 55 meter persegi milik Titik mendapat bantuan renovasi senilai Rp45,7 juta. Bangunan yang sebelumnya dalam kondisi kurang layak kini telah berdinding permanen, berlantai keramik, dan memiliki struktur yang jauh lebih kokoh.
Bagi Titik dan puluhan keluarga lainnya, bantuan tersebut bukan sekadar perbaikan bangunan, melainkan harapan baru untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat, aman, dan bermartabat. (Adv/Ink)


