Berantas Korupsi, Nurul Ghufron: Penghasilan Aparatur Negara Harus Terjamin

0
Pimpinan KPK, Nurul Ghufron

Jakarta, Investigasi.today – Ada lima faktor atau potensi penyebab menjamurnya korupsi di Indonesia mulai dari pejabat tinggi hingga di level bawah, yakni sistem birokrasi dan ketatanegaraan, integritas, penghasilan/remunerasi, kontrol/pengawasan dan budaya.

Hal tersebut disampaikan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Nurul Ghufron dalam acara bedah buku Koruptor Go To Hell : Gurita Korupsi Di Indonesia yang bertajuk Milenial Anti Korupsi, secara virtual Rabu (29/7).

Terkait fakor penghasilan/ remunerasi, Ghufron mengatakan agar tidak mudah tergoda, kelayakan penghasilan bagi aparatur negara harus terjamin.

“Kalau gajinya kecil, sementara yang dikelolanya milyaran dan triliunan maka pasti akan menggoda. Untuk itu, kelayakan penghasilan harus dijamin,” ungkapnya.

Ghufron menambahkan korupsi telah mengakibatkan runtuhnya kepercayaan publik terhadap pejabat. Konsekuensinya, banyak nomenklatur yang sebenarnya bersifat positif, terdistorsi maknanya menjadi negatif.

“Contohnya kata lobi, padahal kata lobi merujuk pada proses politik yang biasa saja. Di belahan dunia mana pun politisi memang melakukan lobi. Namun di Indonesia, kata ini seakan bermakna kongkalikong untuk suap,” tuturnya.

Tidak hanya kata lobi, Ghufron juga menunjukan bagaimana beberapa kata seperti refrensi, politik dan endorsement bergeser maknanya menjadi negatif. Sebaliknya, kata seperti korupsi sudah naik daun dan dianggap sesuatu yang lumrah dilakukan oleh politisi.

“Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa koruptor adalah orang yang lagi apes. Seakan akan yang ditangkap hanya karna lagi apes, karena yang lain seakan juga melakukan tapi tidak tertangkap,” tandasnya.

Sepakat dengan Esther Roselinne, penulis buku Koruptor Go To Hell. menurut Ghufron, upaya pemberantasan korupsi, analisnya tidak cukup hanya berkutat pada kasus yang nampak seperti operasi tangkap tangan, melainkan harus menengok pada faktor yang mengkondisikannya.

“Dalam memberantas korupsi, perlu dianalisa gejalanya. Menurut buku ini (Koruptor Go To Hell) dianggap sebagai fenomena gunung es,” jelasnya. (Ink)