Friday, October 2, 2026
HomeBerita BaruJatimBinaan Petrokimia Gresik, Batik Bangsawan Tembus New York

Binaan Petrokimia Gresik, Batik Bangsawan Tembus New York

GRESIK, Investigasi.tiday – Dari sebuah gang sempit di Desa Legowo, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Batik Bangsawan perlahan menembus batas. Usaha yang dirintis dari nol pada 2016 itu kini mampu membukukan omzet sekitar Rp70 juta per bulan, mempekerjakan sembilan orang, serta menjangkau pasar nasional hingga internasional, termasuk Thailand dan New York.

Di balik perjalanan tersebut, ada proses panjang membangun usaha, meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar, hingga memenuhi standar yang dibutuhkan untuk naik kelas.

Momentum Hari Batik Nasional, Jumat (2/10/2026), menjadi penanda perjalanan satu dekade Batik Bangsawan sekaligus cerita tentang bagaimana UMKM berbasis budaya lokal dapat tumbuh ketika memperoleh pendampingan yang berkelanjutan.

Pemilik Batik Bangsawan, Midhiatul Fitriyah, mengenang bagaimana dirinya bersama almarhum suaminya memulai usaha tersebut dalam kondisi serba terbatas.

Ia tidak hanya harus belajar membatik, tetapi juga memahami bagaimana mengelola usaha, memperbaiki kualitas produk, membangun pasar, hingga memperkenalkan produknya kepada konsumen yang lebih luas.

“Saya ini didampingi dari nol. Dulu saya hanya berdagang. Alhamdulillah sekarang bisa seperti ini,” ujar Fitri.

Perjalanan itu kemudian bersinggungan dengan program pendampingan PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero).

Pendampingan tidak berhenti pada pelatihan. Batik Bangsawan memperoleh dukungan dalam berbagai aspek, mulai dari akses permodalan, peningkatan kapasitas usaha, standardisasi produk, hingga fasilitasi promosi dan pemasaran.

Bagi UMKM yang sebelumnya hanya bermain di pasar sekitar Gresik, akses terhadap penguatan kualitas dan pasar menjadi titik penting untuk memperluas skala usaha.

Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Nuril Huda, mengatakan pengembangan UMKM diarahkan agar pelaku usaha tidak hanya mampu bertahan, tetapi memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang.

“Yang ingin kami dorong adalah bagaimana UMKM terus meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya, kemudian tumbuh menjadi usaha yang semakin kuat dan memberikan multiplier effect bagi masyarakat. Batik Bangsawan menjadi salah satu gambaran bagaimana pendampingan yang berkelanjutan dapat membuka lebih banyak peluang bagi UMKM,” ujar Nuril.

Dari Standardisasi hingga Pasar Internasional

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan Batik Bangsawan terjadi pada 2025, ketika produk tersebut berhasil memperoleh sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) melalui dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik.

Standardisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap produk.

Langkah berikutnya adalah memperluas panggung pemasaran.

Pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, Petrokimia Gresik membawa Batik Bangsawan bersama Gula Aren Temon untuk memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas, termasuk calon pembeli dari mancanegara.

Peluang tersebut berlanjut pada INACRAFT 2026. Batik Bangsawan bersama OG Jewelry dan Deweluxe menjadi bagian dari 20 UMKM mitra binaan Pupuk Indonesia Group yang tampil dalam pameran tersebut.

Pada pembukaan INACRAFT 2026, booth UMKM binaan Pupuk Indonesia juga mendapat kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka.

Dari panggung-panggung promosi tersebut, jangkauan Batik Bangsawan semakin melebar.

Produk yang sebelumnya lebih banyak beredar di Gresik dan sekitarnya kini telah memasuki pasar nasional hingga internasional, termasuk Thailand dan New York, antara lain melalui pemanfaatan platform digital.

Batik Bangsawan juga mencatatkan prestasi dengan meraih penghargaan Platinum pada Bina Mitra UMKM Award 2025.

Bagi Fitri, pameran bukan sekadar tempat menjual produk.

Setiap kesempatan tampil di forum nasional maupun internasional menjadi ruang untuk membaca pasar, melihat perkembangan tren, sekaligus belajar bagaimana sebuah produk lokal harus dikemas agar mampu bersaing.

“Di forum pameran itu kami tidak hanya bisa promosi, tetapi juga belajar. Kami jadi tahu bagaimana memperkenalkan produk dan mendapatkan pengalaman baru,” tuturnya.

Ketika Pendampingan Berujung pada Pasar

Dampak pendampingan juga dirasakan Fitri dalam aspek pemasaran. Petrokimia Gresik turut memberikan kepercayaan dengan menggunakan produk Batik Bangsawan untuk memenuhi sejumlah kebutuhan suvenir perusahaan.

Bagi usaha kecil, kepercayaan semacam itu bukan sekadar transaksi. Ada akses pasar, pengalaman produksi, sekaligus kesempatan membangun rekam jejak.

“Saya sangat berterima kasih kepada Petrokimia Gresik. Berkat pendampingan dan bimbingannya, UMKM batik saya sampai saat ini masih eksis dan terus diminati. Tidak hanya diberikan pelatihan, kami juga dibantu dalam penjualan,” ujar Fitri.

Nuril mengatakan, pertumbuhan UMKM batik memiliki dampak yang melampaui aspek ekonomi.

Ketika permintaan meningkat, produksi bergerak. Ketika produksi tumbuh, kebutuhan tenaga kerja ikut terbuka. Dan ketika batik semakin dikenal, warisan budaya yang melekat di dalamnya ikut mendapatkan ruang untuk terus hidup.

“Ketika UMKM batik tumbuh, ada lapangan pekerjaan yang tercipta, ekonomi masyarakat yang ikut bergerak, sekaligus warisan budaya yang terus hidup dan semakin dikenal. Inilah dampak yang ingin terus kami dorong melalui program pemberdayaan UMKM,” tandas Nuril.

Dari Satu Usaha, Tumbuh untuk Lingkungan Sekitar

Hampir satu dekade sejak pertama kali dirintis, perubahan Batik Bangsawan kini dapat dilihat bukan hanya dari luasnya pasar.

Usaha yang dahulu dimulai dari skala kecil tersebut telah berkembang menjadi sumber penghidupan bagi sembilan pekerja di lingkungan sekitarnya.

Omzet sekitar Rp70 juta per bulan menjadi salah satu indikator perkembangan bisnis, tetapi bagi Fitri, keberhasilan terbesar justru ketika usaha yang dibangun bersama suaminya itu mampu membuka kesempatan bagi orang lain.

“Dulu saya mulai dari kecil sekali. Sekarang Alhamdulillah usaha ini bisa berkembang dan memberikan pekerjaan untuk orang lain. Saya berharap Batik Bangsawan bisa terus berkembang, semakin dikenal, dan membawa nama Gresik lebih jauh,” pungkas Fitri.

Dari sebuah gang sempit di Legowo, Batik Bangsawan kini membawa nama Gresik melewati batas daerah.

Cerita ini menunjukkan bahwa ketika kualitas produk bertemu dengan akses pasar, pendampingan yang konsisten, dan kemauan untuk terus belajar, UMKM tidak harus selamanya menjadi usaha kecil. Ia bisa tumbuh, menciptakan pekerjaan, dan membawa produk lokal menembus pasar dunia. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular