Saturday, August 15, 2026
HomeBerita BaruJatimBukan Sekadar Pupuk, Petrokimia Gresik Bongkar Kunci Produktivitas Cabai Rawit hingga Naik...

Bukan Sekadar Pupuk, Petrokimia Gresik Bongkar Kunci Produktivitas Cabai Rawit hingga Naik 15 Persen

Malang, Investigasi.today – Peningkatan produktivitas cabai rawit tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan dan pengalaman bertani. Ketepatan pemupukan, teknologi, data, serta konsistensi praktik budidaya mulai menjadi faktor penentu hasil panen.

Hal itu dibuktikan melalui Pestani Rawit Groo Festival yang digelar PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero). Program tersebut mempertemukan 270 petani cabai rawit dari Malang, Kediri, Mojokerto, Blitar, dan Probolinggo untuk menguji langsung penerapan budidaya berbasis teknologi di lahan masing-masing.

Hasilnya cukup signifikan. Melalui demonstration plot (demplot), produktivitas cabai rawit tercatat mencapai 11,5 ton per hektare, meningkat sekitar 13–15 persen dibandingkan hasil sebelumnya yang berada di kisaran 10 ton per hektare.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa peningkatan produktivitas dapat didorong melalui intervensi budidaya yang lebih terukur, bukan sekadar menambah penggunaan sarana produksi.

Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, mengatakan program tersebut dirancang agar petani tidak hanya menerima teori, tetapi membuktikan sendiri dampak penerapan pemupukan berimbang dan teknologi di lahan mereka.

“Kami ingin mendorong petani cabai rawit di Jawa Timur untuk terus meningkatkan hasil panen melalui pemupukan berimbang, pemanfaatan teknologi, dan praktik budidaya yang tepat, sehingga hasil panen semakin baik dan usaha tani semakin menguntungkan,” ujar Adit saat menghadiri awarding Pestani Rawit Groo Festival di Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Jawa Timur Jadi Titik Kunci Produksi Cabai Nasional

Dorongan peningkatan produktivitas tersebut memiliki konteks lebih besar. Jawa Timur merupakan salah satu sentra utama cabai rawit nasional. Sekitar 35 persen produksi cabai rawit nasional disebut berasal dari Jawa Timur, dengan total produksi lebih dari 600 ribu ton.

Karena itu, tantangannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan produktivitas lahan mampu menopang kesinambungan pasokan sekaligus meningkatkan keuntungan petani.

Petrokimia Gresik mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang menggabungkan pemupukan berimbang, teknologi, data, dan pendampingan budidaya.

“Kompetisi ini tidak hanya mencari petani dengan hasil panen terbaik, tetapi juga mendorong peserta untuk belajar dan membuktikan langsung penerapan budidaya yang lebih terarah di lahan masing-masing,” kata Adit.

Ia berharap pola budidaya yang menghasilkan produktivitas lebih tinggi tersebut tidak berhenti pada peserta festival, tetapi dapat direplikasi petani lainnya.

Bukan Sekadar Lomba, Petani Diuji dari Tanam hingga Panen

Pestani Rawit Groo Festival juga menggunakan kompetisi sebagai instrumen untuk menguji penerapan paket budidaya secara nyata.

Dalam kategori Groo Field Creation, peserta menerapkan paket budidaya yang disiapkan Petrokimia Gresik sejak fase tanam hingga panen. Penilaian tidak semata-mata didasarkan pada dokumentasi, tetapi menggunakan indikator hasil panen.

Sebanyak 54 buah cabai rawit menjadi objek penilaian dengan bobot 80 persen, sementara dokumentasi proses budidaya memiliki bobot 20 persen.

Angka 54 sekaligus menjadi simbol HUT ke-54 Petrokimia Gresik. Namun substansi kompetisi jauh lebih penting: perusahaan ingin menunjukkan bahwa produktivitas dapat diukur dan dibandingkan ketika praktik budidaya dilakukan secara konsisten.

“Peningkatan produktivitas harus dibuktikan melalui praktik nyata di lahan, bukan hanya melalui teori,” tegas Adit.

Teknologi Mulai Didorong Masuk ke Lahan Petani

Pendekatan yang dibawa Petrokimia Gresik tidak berhenti pada produk pupuk. Perusahaan juga memperkenalkan pertanian berbasis teknologi dan data untuk membantu petani menentukan keputusan budidaya.

Melalui aplikasi AgrooFertile, petani memperoleh layanan yang mengintegrasikan teknologi artificial intelligence (AI), layanan agronomi, serta basis data. Sementara Buku Kesuburan Tanah digunakan sebagai referensi untuk memahami kondisi tanah, pentingnya pengujian tanah, pemupukan berimbang, dan penerapan pertanian berbasis data.

Adit menegaskan, teknologi hanya akan memberikan dampak apabila benar-benar bisa digunakan petani dalam aktivitas sehari-hari.

“Kami ingin teknologi hadir bukan sekadar sebagai alat, tetapi menjadi solusi yang benar-benar membantu petani mengambil keputusan, mengelola lahannya dengan lebih baik, dan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi,” ujarnya.

Dari Lahan hingga Media Sosial

Festival tersebut juga tidak hanya menyasar petani konvensional. Melalui Groo Plant Creator, sebanyak 270 pegiat urban farming dari 27 provinsi di Indonesia dilibatkan untuk membagikan pengalaman budidaya cabai, mulai dari penanaman hingga panen melalui media sosial.

Program diperkuat Groo Plant Partner yang melibatkan 54 influencer, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta pemangku kepentingan lainnya.

Secara keseluruhan, 540 peserta terlibat dalam Groo Festival yang mencakup petani dan pegiat urban farming dari berbagai daerah.

Strategi tersebut menunjukkan upaya memperluas edukasi pertanian keluar dari lahan produksi, sekaligus mendekatkan isu pertanian kepada masyarakat dan generasi muda.

Pemprov Jatim Dorong Diperluas ke Komoditas Lain

Kepala Bidang Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Pudjiati Ningsih, menilai program tersebut relevan dengan posisi Jawa Timur sebagai sentra produksi cabai rawit nasional.

Ia berharap semakin banyak petani memanfaatkan program serupa untuk menjaga produktivitas dan kualitas hasil pertanian.

“Saya berharap kegiatan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjaga ketahanan pangan. Melalui program ini kita bisa menjaga produktivitas dan kualitas cabai rawit,” ujarnya.

Pudjiati juga mendorong agar pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada cabai rawit. Menurutnya, model tersebut berpotensi diterapkan pada komoditas pertanian lain di Jawa Timur.

Petani Akui Dampak Pendampingan

Salah satu peserta, Sumarno dari Kelompok Tani Tresno Tani Gembongan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, mengaku merasakan manfaat dari pola budidaya yang diperkenalkan Petrokimia Gresik.

Ia mengatakan aplikasi pupuk dilakukan berdasarkan rekomendasi yang diberikan selama program.

“Pengaplikasian pupuknya saya mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh Petrokimia Gresik. Hasilnya sangat optimal, saya dan teman-teman petani antusias sekali mengikuti program ini,” katanya.

782 Petani Telah Dijangkau Program Pestani

Pestani Rawit Groo Festival merupakan bagian dari Program Pestani yang dikembangkan Petrokimia Gresik sebagai ruang pemberdayaan sekaligus kompetisi budidaya bagi petani.

Hingga Juni 2026, Program Pestani telah menjangkau 782 petani di 14 kabupaten melalui sejumlah komoditas unggulan. Program tersebut mencakup semangka di kawasan Tapal Kuda, melon di wilayah Pantura, bawang merah melalui Pestani Bawang Merah Nyawiji, serta cabai rawit melalui Pestani Rawit Groo Festival.

Bagi Petrokimia Gresik, ukuran keberhasilan program bukan semata jumlah peserta atau kemeriahan festival. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan pengetahuan dan teknologi yang diperkenalkan benar-benar berujung pada peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.

“Pestani kami hadirkan untuk mendampingi petani dari lahan, bukan hanya dari ruang diskusi, karena kami percaya produktivitas harus dibuktikan melalui praktik nyata,” pungkas Adit.

Dengan hasil demplot yang mencapai 11,5 ton per hektare, Pestani Rawit Groo Festival setidaknya memberikan satu pesan penting: ketika pemupukan berimbang, teknologi, data, dan disiplin budidaya diterapkan secara konsisten, peningkatan produktivitas bukan sekadar target di atas kertas, tetapi dapat diuji langsung di lahan petani. (Ink)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular