
Padang, investigasi.today – Polemik merebak di Madrasah Aliyah (MA) Al-Furqan, Kota Padang, setelah beredar kabar dua siswa dikeluarkan dari sekolah lantaran belum melunasi biaya seragam yang sudah tertunggak selama setahun. Isu ini pun langsung mengundang reaksi publik, hingga akhirnya Kepala Sekolah, Desmaelfa Sinar, buka suara dan menjelaskan duduk permasalahannya.
Menurut penuturan Desmaelfa, kejadian itu bermula saat ia berbicara dengan Ketua Panti Asuhan Nur Ilahi, Renol Putra. Kedua siswa yang terlibat dalam masalah ini memang merupakan anak asuh yang tinggal dan diasuh di panti yang beralamat di Jalan Perjuangan Raya, Kurao Pagang tersebut.
Saat itu, Desmaelfa sempat meminta bantuan kepada Renol agar segera melunasi biaya seragam sebesar Rp 300.000 per siswa. Namun, permintaan itu tidak mendapatkan jawaban pasti.
“Saya tanya ke Renol, ‘Bisa bantu lunasi uang baju Rp 300 ribu tidak?’. Dia cuma bilang nanti-nanti, tidak ada kepastian kapan dibayar. Karena sudah tertunda lama, saya jadi emosi dan terucap kata: ‘Coba saja anak-anak ini dipindah sekolah saja’,” ungkap Desmaelfa, Selasa (12/5).
Ia menegaskan, ucapan soal pemindahan atau pengeluaran siswa itu hanyalah luapan emosi sesaat, bukan keputusan resmi sekolah. Tidak ada surat keputusan tertulis, dan ia sama sekali tidak berniat memutus akses pendidikan kedua siswa tersebut.
“Itu cuma bahasa tersirat, sekadar kata-kata saja. Saya tidak pernah benar-benar mengeluarkan siswa. Saya paham betul kondisi anak-anak di sini, banyak yang dari keluarga kurang mampu,” tegasnya.
Desmaelfa menjelaskan, pihak sekolah sebenarnya sudah membebaskan seluruh biaya pendidikan lainnya. Satu-satunya yang diminta dibayarkan hanyalah biaya seragam, karena barang tersebut dipesan dan dibuat oleh tukang jahit di luar sekolah, sehingga pihaknya terus didesak untuk melunasi pembayaran kepada pengrajin.
“Kami hanya andalkan dana BOS, tidak ada bantuan lain dari pemerintah daerah. Kalau tidak didesak tukang jahit, saya pasti tidak akan menagih sampai sekeras itu ke panti,” jelasnya.
Kini, polemik tersebut diklaim sudah selesai. Tagihan tunggakan itu sudah dilunasi oleh pihak ketiga yang ingin membantu. Sekolah pun sudah memanggil kembali kedua siswa tersebut untuk belajar seperti biasa. Namun, ada kendala baru: kedua siswa itu menolak kembali bersekolah karena merasa malu akibat kasus yang sempat menyebar luas.
“Masalah uang sudah selesai, sudah lunas. Saya sudah minta mereka masuk lagi, tapi mereka bilang malu. Saya berharap anak-anak ini mau kembali belajar, karena pintu sekolah tetap terbuka lebar untuk mereka,” pungkas Desmaelfa. (Van/Mn)


