Gagas Taman Bacaan, Dorong Anak Berani Bermimpi

0

Mojokerto, Investigasi.today – Adanti Wido Paramadini bersama empat sahabatnya berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Selain hanya berkumpul nongkrong biasa. Teman-temannya itu adalah Dian Septa, Sutik Rahayu, Sagita Wahyu, dan Berta Oktavia.
Dengan kegemaran membaca yang sama, mereka bersepakat menghadirkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jingga di daerah dengan akses ke perpustakaan atau tempat bacaan terlalu jauh. Yakni di Desa Cinandang, Dusun Sidotangi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

’’Daripada kumpul tidak melakukan apa-apa, lebih baik kumpul tetap menjaga silahturahmi. Tapi dengan cara melakukan hal positif seperti membangun TBM, kan bermanfaat,’’ terang Adanti. Menjadi bermanfaat bagi Adanti sejalan dengan isi hadis favoritnya. Berbunyi, ’’Setidaknya jika kita tidak bisa melakukan hal yang besar, cukuplah menjadi orang yang bermanfaat’’.

TBM Jingga yang dibangun sejak 22 Januari 2017 ini, menggunakan aula masjid Desa Cinandang. Dengan melihat hasil survei, ditemukan kenyataan bahwa selain kurang gemar membaca, kebanyakan remaja di daerah tersebut kurang berani bermimpi tinggi. Biasanya remaja di sana lebih memilih menikah muda daripada melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sehingga TBM Jingga tidak hanya hadir meminjamkan buku setiap waktu kepada anak-anak di Dawarblandong. Terutama sasaran usia TK, SD, hingga SMP. Namun, setiap satu bulan sekali, mereka membuat kelas khusus dengan tema tertentu untuk memotivasi anak-anak. Agar lebih semangat bersekolah, membangun dan mewujudkan mimpi yang besar.

’’Kelas setiap satu bulan sekali, kami rancang dengan pemberian materi khusus bersifat edukatif untuk mereka lebih gemar membaca dan mempunyai mimpi,’’ kata wanita 24 tahun lulusan S1 Teknobiomedik, Universitas Airlangga Surabaya (Unair) ini.

Kegiatan tersebut bersifat edukatif yang tidak didapatkan di sekolah. Sehingga akhirnya anak-anak selalu tertarik datang ke TBM Jingga. Mereka akhirnya tahu jika ilmu itu banyak jenisnya. Profesi juga demikian. Pendidikan itu luas, anak-anak bisa jadi apa saja. Cita-cita tidak melulu soal akademis.

Dan selama satu tahun berjalan, kegiatan ini terbukti efektif. Di mana ada kejadian, ketika kelas bulanan hadir dengan tema Global Warming, Adanti menjelaskan, mereka di tim TBM memutarkan satu fenomena es di kutub yang mencair. Setelah selesai diputarkan, ada satu anak SD bertanya tentang di mana dia bisa melihat salju.

Dari pertanyaan ini, Adanti dan tim menjelaskan kepada anak SD yang polos tersebut dengan satu kalimat, ’’Kalian harus suka membaca, jadi sukses, biar bisa lihat salju,’’ katanya. Setelah kelas berakhir, si anak mendekati Adanti dan berkata, cita-citanya ketika besar ingin melihat salju.

’’Ini cita-cita sederhana, tapi usahanya harus besar untuk mewujudkannya. Mereka harus jadi orang pintar dan berhasil. Sehingga bisa ke luar negeri melihat salju,’’ ungkapnya. Tema lain yang bisa merangsang anak-anak di Dawarblandong untuk berani bermimpi.

Salah satunya dengan menggandeng komunitas astronom amatir di Surabaya, Surabaya Astronomi Club (SAC). Mereka hadir di TBM Jingga dengan membawa teleskop yang bisa melihat matahari. ’’Anak-anak sangat senang, sekitar 100 anak di Desa Cinandang hadir. Mereka melihat langsung matahari dengan teleskop,’’ ujarnya.

Pendidikan tentang cuci tangan dengan menggandeng Puskesmas Trowulan, tentang bahaya rokok dan kesehatan, crafting membuat kerajinan tangan. Finger painting kerja sama dengan Griyo Maos Banyu Ilmu, salah satu TBM di Kecamatan Kemlagi. Dan banyak kegiatan lainnya yang menggandeng GM. Banyu Ilmu. Total 13 kegiatan selama satu tahun penuh TBM Jingga hadir di Dawarblandong.

Terakhir, di hari ulang tahun ke satu tahun, TBM Jingga mengundang komunitas bernama Generasi Cerdas Iklim dari Bandung. Berusaha mendidik anak untuk peduli lingkungan. Diadakan fun camp, pertunjukan wayang buatan anak-anak, serta menanam pohon bersama.

Sebelum acara ditutup, tim TBM memutarkan video dokumenter terkait perjalanan TBM selama satu tahun, kejadian lucu pun terjadi. Beberapa anak mendadak menangis, mengira jika kegiatan ini adalah perpisahan terakhir dengan seluruh kakak pembina di TBM Jingga.

’’Memutar video perjalanan, mereka pikir kami anak Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari suatu Universitas, yang akan meninggalkan mereka setelah selesai mengabdi. Ini sangat mengharukan sekaligus membuat tertawa,’’ tandasnya.

Harapan Adanti ke depannya, ingin menyatukan TBM yang tidak terlacak keberdaannya di Mojokerto. Untuk bisa bersatu padu saling membangun. Sehingga, tidak hanya menyediakan buku, TBM bisa hadir sebagai wadah peningkatan minat dan bakat anak-anak.

Sehingga mereka lebih berani bermimpi dan mewujudkannya. ’’Selama ini kerja sama hanya dengan Griyo Maos Banyu Ilmu. Ke depan ingin kerja sama dengan banyak TBM lainnya di Mojokerto. Bersatu padu meningkatkan kualitas anak-anak di Mojokerto, dengan gemar membaca bisa mewujudkan mimpi yang besar,’’ pungkasnya. (Andy/Yanto)