Kemanusiaan Terkoyak, Kuburan Dipindah Hanya Karena Beda Pilihan Caleg

0


Proses pemindahan dua kuburan

JAKARTA, Investigasi.Today – Tidak memandang hubungan keluarga, karena beda pilihan calon legislatif (caleg), dua kuburan di Gorontalo harus dipindahkan. Kejadian ini membuat pesta demokrasi di Indonesia menjadi heboh.

Pemindahan kuburan itu terjadi di Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Kuburan almarhum Masri Dunggio, yang sudah dimakamkan 26 tahun lalu dan almarhumah Sitti Aisya Hamzah, yang baru setahun dimakamkan di halaman belakang milik warga bernama Awono harus dipindahkan.

Abdusalam Polontolo, keluarga pemilik kubur yang dipindahkan tersebut mengatakan pemicunya karena adanya perbedaan pilihan caleg untuk Pemilu 2019. Keluar ancaman dari pihak keluarga caleg yang juga pemilik lahan kuburan, bahwa akan memindahkan jenazah jika tidak memilih mereka.
“Kalau kamu tidak pilih, ada yang mati tidak bisa dikuburkan di sini. Itu kuburan Masri harus dipindah’. Padahal, yang punya lahan kubur masih sepupu dengan almarhum,” ujar Abdusalam.

“Awano itu bukan orang NasDem, yang saya tahu Awono itu secara kekerabatan masih saudara ipar yang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Bone Bolango. Jadi hubungan dengan partai itu tidak tahu. Dia pernah berkata, ‘Kamu kalau tidak pilih Nani atau Iriani, itu kuburan pindah dan ini saya pagar (jalan).’ Nani itu dari NasDem,” lanjutnya.

Terkait Insiden ini, Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU, Robikin Emhas mengatakan ‚Äúpemindahan 2 jenazah yang telah dikebumikan hanya karena beda pilihan caleg dengan pemilik tanah kuburan sangat mengoyak rasa kemanusiaan,” ujarnya, Minggu (13/1) kemarin.

Robikin menilai tampak jelas terlihat bahwa politik dipahami sebagai sarana mendapatkan kekuasaan sehingga segala macam cara dihalalkan demi memenangkan kontestasi politik.
“Politik yang seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri,” ungkapnya.

“Kesan menghalalkan segala cara dalam meraih kekuasaan politik tidak hanya terjadi dalam perebutan kursi legislatif, seperti kasus pemindahan jenazah ke kuburan lain yang terjadi di Gorontalo. Namun juga dalam Pilpres, seperti politisasi agama, penggunaan fake news dan hoax sebagai mesin elektoral,” papar Robikin. (Ink)