Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Pemeluk Agama Lain, Prof Musdah; Tidak Ada Urusannya Dengan Aqidah

0


Prof Siti Musdah Mulia

JAKARTA, Investigasi.Today – Agama diturunkan sebagai pedoman kehidupan bagi umat manusia dan merupakan salah satu simbol dalam mewujudkan perdamaian juga solidaritas, bukan pemecah bela kemanusiaan.

Ketua Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Prof Siti Musdah Mulia menyampaikan “tujuan beragama bukan hanya untuk Tuhan saja, tapi juga untuk kemanusiaan. Apalagi dalam Islam, kalau kita perhatikan semua ibadah di dalam Islam bertujuan bagaimana kita sebagai manusia bisa menjadi lebih baik terhadap sesama,” ujarnya di Jakarta.

Salah satu perintah dalam Islam adalah melaksanakan salat untuk mencegah tindakan keji terhadap sesama. Bahkan bukan hanya dengan sesama, Islam itu sendiri memiliki makna Rahmatan Lil Alamin, artinya rahmat bagi semua alam yang di dalamnya ada manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan juga lingkungan.

“Islam benar-benar menjaga, supaya agama ini menjadi rahmat, Bukan bencana bagi sesama makhluk,” ungkap Gurubesar pemikiran politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Pendidikan agama sangat penting dan harus dimaknai seluas-luasnya oleh masyarakat, baik itu di rumah tangga, sekolah, kantor dan lingkungan lainnya. Apalagi dalam Kongres Kebudayaan telah merekomendasikan kepada institusi-institusi pendidikan terutama mulai dari PAUD dan jenjang pendidikan berikutnya untuk lebih mengedepankan pendidikan agama.

Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) ini juga menambahkan, di dalam beragama tidak diperbolehkan memilih-milih seperti yang seiman saja. Sebab di dalam agama Islam juga diajarkan ukhuwah basyariyah yakni sesama manusia apapun agamanya, apapun kepercayaannya untuk berbuat baik.

“Merusak ukhuwah basyariyah sama dengan merusak sendi-sendi doktrin Islam,” tandas wanita pertama yang dikukuhkan LIPI sebagai Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan ini.

Menanggapi perdebatan mengucapkan selamat hari raya bagi pemeluk agama lain, menurut dia, sebetulnya tak perlu dipersoalkan karena justru bisa memecah belah sesama umat manusia. ‚ÄúTidak ada itu larangan mengucapkan natal atau mengucapkan selamat Galungan atau Kuningan. Itu hanya ungkapan kasih sayang kita kepada sesama umat manusia, Ungkapan kasih sayang itu sebagai tanda bahwa kita respek terhadap orang lain, kita menghargai kepercayaan orang lain. Tidak ada urusannya dengan aqidah,” terangnya.

Prof Musdah menilai akan sulit menghargai agama lain jika tidak belajar dan memahami dulu agama sendiri dengan benar. Makanya masyarakat jangan muda terprovokasi dengan apapun yang mengatasnamakan agama.

“Masyarakat perlu diperdalam pengetahuannya, sehingga di dalam hal apapun termasuk di dalam hal agama juga harus kritis, dalam artian harus mikir terlebih dahulu sebelum mengikuti pandangan siapapun. Akal kritis itu harus dipakai, karena di dalam Alquran diajarkan Iqro ayat pertama, bacalah dan bacalah. Artinya sebelum melakukan hal yang lain kita harus mencari pemahaman yang benar supaya kita tidak mudah terprovokasi untuk urusan-urusan yang seperti itu,” papar peraih Doktoral bidang Pemikiran Politik Islam di IAIN Syahid, Jakarta ini.

Prof Musdah juga meminta kepada seluruh tokoh dan pemuka agama agar mengajak umatnya untuk dapat menjadikan agama sebagai alat merawat solidaritas kemanusiaan.
“Sebab jika tidak, kita dapat terpecah, berkonflik. Pada akhirnya kita sendiri yang rugi, negara tercinta ini tidak bisa maju dan selalu menjadi negara yang terbelakang,” pungkasnya. (Priscilla)