Friday, June 21, 2024
HomeBerita BaruLifestylePengertian, Penyebab, Gejala hingga Penanganan Microsleep

Pengertian, Penyebab, Gejala hingga Penanganan Microsleep

Solo, investigasi.today Pernahkah kamu tidak sadar sudah tertidur selama beberapa detik? Jika ya, kamu mungkin telah mengalami microsleep, sebuah fenomena yang menjadi salah satu penyebab kecelakaan di jalan raya.

Kecelakaan akibat microsleep sangatlah berbahaya. Saat microsleep terjadi, pengemudi kehilangan kontrol atas kendaraannya, yang dapat berakibat fatal bagi diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami microsleep, penyebabnya, gejalanya, dan cara-cara untuk mengatasinya.

Mari simak penjelasan lengkap tentang microsleep yang dihimpun dari laman Medical News Today dan Sleep Foundation berikut ini!

Microsleep adalah fase tidur singkat yang berlangsung kurang dari 15 detik. Selama fase ini, seseorang kehilangan kesadaran atas apa yang sedang dilakukannya.

Microsleep ditandai dengan perubahan perilaku, seperti menutup mata sebentar atau kehilangan fokus. Penelitian mendeteksi microsleep dengan mengukur aktivitas otak, mengamati wajah dan tubuh, atau menguji kinerja seseorang.

Selama microsleep, gelombang otak melambat dan aktivitas otak berbeda dari tidur biasa. Beberapa bagian otak yang biasanya aktif tetap terjaga, termasuk area yang bertanggung jawab untuk menjaga kesadaran. Namun, respons otak terhadap suara juga berbeda selama microsleep, tidak seperti saat terjaga.

Penyebab Seseorang Mengalami Microsleep

Microsleep sering kali terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan tidur yang parah. Meskipun tidak ada satu kondisi medis tunggal yang secara khusus menyebabkan microsleep, keadaan yang memengaruhi pola tidur seseorang dapat menjadi pemicu utama.

Kelelahan yang berlebihan menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko mengalami microsleep. Orang yang mengalami sleep deprivation yang parah, seperti pada kasus sleep apnea, cenderung lebih rentan mengalami episode microsleep.

Selain itu, kondisi seperti gangguan tidur akibat shift kerja malam, insomnia yang parah, dan penggunaan obat-obatan tertentu yang memengaruhi tidur juga dapat menjadi faktor terjadinya microsleep.

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan gangguan tidur seperti shift work sleep disorder atau sleep apnea memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecelakaan mobil. Sebagian peristiwa kecelakaan tersebut terjadi akibat fase microsleep.

Namun, penting untuk dicatat bahwa meskipun seseorang telah cukup istirahat, kita juga dapat mengalami microsleep. Terutama saat melakukan aktivitas yang monoton atau membosankan.

Berikut ini adalah beberapa gejala microsleep yang kerap terjadi.

  • Menutup sebagian atau seluruh mata
  • Mengangguk-anggukkan kepalaTidak menyadari adanya penurunan fokus
  • Respons yang berkurang terhadap rangsangan eksternal
  • Perubahan pada gerakan mata yang menjadi lebih lambat sebelum microsleep terjadi
  • Pupil membesar

Apakah Microsleep Berbahaya?

Ketika mengalami microsleep, seseorang akan kehilangan kendali dan kemampuannya untuk tetap terjaga. Tentu hal ini membawa beberapa risiko yang mungkin membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Microsleep dapat menyebabkan kesalahan di tempat kerja, terutama bagi mereka yang bekerja dalam shift panjang. Selain itu, kondisi ini juga dapat menimbulkan kebingungan dan masalah dalam hubungan, serta membahayakan keselamatan anak-anak saat merawat mereka.

Bahkan tanpa microsleep, kelelahan parah saja sudah cukup mempengaruhi kinerja dan meningkatkan risiko kecelakaan, seperti saat seseorang mengemudi dalam kondisi mabuk. Oleh karena itu, baik microsleep maupun kelelahan yang menyebabkannya harus diperhatikan sebagai faktor risiko kesehatan yang serius.

Cara Menangani Microsleep

Untuk mencegah terjadinya risiko yang lebih besar, kita sebaiknya melakukan pencegahan terhadap microsleep itu sendiri. Berikut adalah beberapa metode yang dapat kita terapkan.

1. Mengatasi Penyebab Kelelahan

Untuk mencegah microsleep, seseorang perlu mengatasi penyebab kelelahan yang mendasarinya. Ini mungkin berarti mengubah jadwal kerja menjadi lebih konsisten, mendapatkan tidur yang cukup di malam hari, atau mencari pengobatan untuk sleep apnea.

2. Terapi dan Perawatan Tidur

Beberapa opsi perawatan yang dapat dilakukan adalah mengatasi kecemasan malam hari, perubahan kebiasaan tidur seperti tidur pada waktu yang sama setiap malam. Bisa juga dengan penggunaan obat-obatan tertentu untuk membantu tertidur atau merasa lebih terjaga selama siang hari.

3. Konsultasi dengan Dokter

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter jika seseorang mengalami microsleep atau memiliki kondisi medis lain yang meningkatkan risiko microsleep. Berkonsultasilah dengan dokter jika mengalami kelelahan yang intens pada siang, sering terbangun di malam hari, atau mengalami masalah tidur secara konsisten. (Sev)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -


Most Popular